Lukisan

Cerpen Ak. Mustafit

AKU tidak tahu harus sedih atau senang kehilangan dia. Namun, kerlingan jahat sepasang mata itu, membekas selamanya. Tubuhnya yang bagai sutra, semampai, dan berwarna merah pudar itu, dengan sepasang mata yang berpendar menjerat hati, membuat hidupku tersulut dan mencair perlahan.
Keterpagutan sapuan warna hatiku dan hatinya, membuatku terasing dari daur kehidupan manusia: aku melupakan fenomena alamiah hidup. Aku galau dan berlindung di bawah payung lintingan ganja dan khamr. Aku melahap guratan waktu hanya untuk melukis di atas kulit tangan, kulit kaki, buah dada, malah pernah di atas lidah perempuan gila, juga ekstase dalam lintingan ganja dan khamr di dalam kamar kerjaku, tidak, di dalam ruangan persegi empat yang temaram dan menjijikkan. -lihat naskah lanjutannya>

Advertisements