Bangsa Mayoritas Islam tapi tak Ber-Islam

Kita ini seperti sampah yang dibuang di tengah-tengah peradaban. Sementara manusia-manusia meraih mimpi dan prestasi, kita di Indonesia dipaksa hidup berhimpitan dengan kemiskinan, kebodohan, pembodohan.

Setiap denyut nadi kita menyuarakan harapan-harapan: yang masih miskin berharap menjadi lebih baik, tapi dengan menjadi tukang becak, buruh tani, tukang cuci, pemulung, penjual nasi uduk dadakan, dari mana mereka mampu membiayai makan keluarga apalagi pendidikan? Atau menjadi pembantu rumah tangga dan TKI, harapan macam apa yang akan mereka rajut? Untuk mereka harapan itu jelas nonsense; -lihat naskah lanjutannya>