Mohammad Jevera Lateef

SEMAK-SEMAK yang dilaluinya berduri. Tangan dan kakinya berdarah. Dia berlari terengah menuju arah sinar kecil di ujung matanya. Tanah yang gembur oleh hujan terasa menggelitik sela-sela jari kaki. Udara yang lembab seperti memeluk seluruh tubuh, terasa seperti selimut lembut membalut kulit. Sinar kecil semakin membesar. Ujung matanya tak pernah lepas dari sinar itu. Sesekali terdengar lolongan anjing. Jangkrik juga tak henti-hentinya bersuara. Semakin ke depan, gundukan tanah semakin mengeras, tak lagi gembur. Terasa oleh telapak kakinya seperti ada karang. Hentakan kakinya membauat sakit tulang tumit. Tapi duri semak sudah berlalu. Sinar itu semakin jelas. Itu berasal dari rumah. Terengah-engah nafasnya terdengar. Diraba ujung kanan pinggulnya, tercerabut sebuah tempat minum. Tetapi dia memasam saat mengetahui kocokannya terhadap tempat minum itu tak berbalas air. Dia tersedu, mengeluarkan air mata. Terduduk memegangi lutut. Merebahkan kepala di atas lutut. -baca lanjutan ceritanya>

Advertisements