Abu Dzar berasal dari suku Ghifar yang dikenal sebagai sukunya para perampok dan penjagal. Abu Dzar termasuk salah seorang yang tekun menyembah berhala pada zaman jahiliah. Ia orang kelima dari lima orang yang memeluk Islam. Setelah memeluk Islam, ia bertanya kepada Rasulullah SAW, “Apa yang harus aku lakukan?” Beliau menjawab, “Pulanglah kepada kaummu sampai ada berita dariku.” Abu Dzar berseru, “Demi Dzat Yang jiwaku di tangan-Nya, aku tidak akan pulang sampai aku mengumandangkan keislamanku di masjid.” Teriakan itu merupakan teriakan pertama kali yang didengar orang-orang Quraisy dan yang pertama kali memberi tamparan keras bagi mereka. Abbas bin Abdul Muthalib berseru, “Wahai warga Quraisy, kalian adalah pedagang yang suka melewati jalan suku Ghifar. Inilah salah seorang dari mereka.”
Setelah itu, Abu Dzar berdakwah kepada kaumnya agar memasuki agama Islam, dan, mereka pun menyatakan keislamannya. Sesudah hijrah, Abu Dzar datang kepada Rasulullah SAW bersama rombongan dalam jumlah besar. Rasulullah SAW tersenyum gembira seraya berkata, “Suku Ghifar, semoga Allah mengampuninya dan menyelamatkannya.” Dan Nabi pun memuji Abu Dzar dengan penuturan beliau, “Tidak ada di dunia ini orang yang paling benar lidahnya, selain Abu Dzar.” (HR. Bukhari)
Setelah memasuki agama Islam, Abu Dzar menjadi seorang lurus dalam beraqidah, benar dalam ucapannya. Ketika kesenangan dunia menimpa kaum Muslimin dan harta berlimpah ruah, ia pun tampil mengingatkan dan menasihati mereka, “Beritahukanlah kepada orang-orang yang menimbun emas dan harta tentang setrika dari api neraka. Dengan setrika itu kening-kening mereka digosok pada hari kiamat.”
Pada saat menjabat sebagai penguasa Syam, Abu Dzar pun tidak goyah pendiriannya. Di hadapan orang-orang miskin dia berpidato, “Aku merasa heran terhadap orang-orang yang tidak memiliki makanan di rumahnya. Mengapa diam saja, tidak keluar mengacungkan pedang.” Orang-orang banyak mengikutinya sehingga Muawiyah merasa takut, terlebih lagi pada saat Abu Dzar mendebatnya di hadapan banyak orang dan menanyakan tentang rumahnya yang berada di Makkah serta istananya yang kini ia tempati di Syam. Abu Dzar membacakan firman Allah, “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka [bahwa mereka akan mendapat] azab yang pedih.” (QS. At-Taubah: 34). Mu’awiyah menyahut, “Ayat itu di turunkan untuk Ahlul Kitab.” Maka, Abu Dzar pun menjawab dengan lantang, “Tidak! Justru ayat ini turun untuk kita dan juga mereka.”
Pun, pada saat Mu’awiyah menfitnahnya dengan melaporkannya kepada Khalifah Utsman bahwa Abu Dzar mengumpulkan penduduk Syam untuk menentangnya. Ketika itu, Khalifah Utsman memanggil Abu Dzar dan berkata kepadanya, “Tinggallah bersamaku di sini, engkau akan bersama-sama dengan unta-unta yang bagus pagi dan petang.” Tetapi, Abu Dzar menolak, ia pergi ke Rabdzah. Lalu datanglah kepadanya serombongan penduduk dari Kufah, memintanya untuk memimpin gerakan pembangkangan terhadap Khalifah Utsman. Namun ia menolaknya seraya berkata, “Demi Allah sekiranya Utsman menyalibku di atas tiang yang paling tinggi atau di atas sebuah gunung, niscaya aku akan mematuhinya, sabar, mengharap ridha Allah, dan aku pandang bahwa itu baik buatku.” Abu Dzar tidak menginginkan dunia, tetapi tidak ingin pula menentang Khalifahnya.
Abu Dzar, setelah itu, begitu membenci jabatan duniawi. Ia berharap para sahabat meninggalkan jabatan pemerintahan dan berkonsentrasi untuk menyebarkan hidayah. Ia memboikot siapa pun yang cinta buta terhadap dunia. Suatu hari, Abu Musa al-Asy’ari menemuinya dan hendak merangkulnya seraya berkata, “Apa kabar, wahai saudaraku,” ia menghindar dan berkata, “Aku bukanlah saudaramu, aku adalah saudaramu sebelum Engkau memegang jabatan.” Kepada Abu Hurairah, ia berkata, “Menjauhlah dariku. Bukankah Engkau telah menjadi pejabat lalu membangun banyak bangunan dan memelihara ternak serta berbagai tanaman?” Ia ditawari pemerintahan Iraq, namun ia menjawab, “Tidak! Demi Allah, kalian tidak akan dapat mengandalkanku dengan dunia kalian selama-lamanya.”
Salah seorang sahabat menjumpai Abu Dzar mengenakan pakaian usang sehingga bertanya kepadanya, “Tidakkah engkau memiliki pakaian yang lain?” Abu Dzar menjawab, “Benar dan aku telah memberikannya kepada orang yang lebih butuh dariku.” Sahabat itu kembali bertanya, “Demi Allah, engkau sendiri sebenarnya sangat membutuhkannya!” Ia menjawab, “Semoga Allah mengampunimu. Sungguh engkau mengagung-agungkan dunia. Tidakkah engkau melihat kain burdahku ini, dan aku pun memiliki yang lain untuk shalat Jumat. Selain itu aku juga memiliki seekor kambing yang aku peras susunya dan seekor keledai untuk kendaraanku. Lalu adakah nikmat yang lebih besar daripada apa yang kita nikmati?”
Suatu hari, Abu Dzar duduk menyampaikan nasihat di hadapan orang-orang. Ia berkata, “Kekasihku, (Rasulullah SAW) telah mewasiatkan kepadaku tujuh perkara. Menyuruhku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, melihat orang yang lebih rendah dariku dan tidak melihat orang yang lebih tinggi, tidak meminta sesuatu kepada orang lain, menyambung silaturahim, mengucapkan kata-kata yang benar sekalipun pahit, tidak takut kepada cercaan orang yang mencerca dalam menegakkan kebenaran, dan menyuruhku untuk memperbanyak membaca la haula walaa quwwata illa billah [tiada daya dan upaya, melainkan hanya Allah].” (HR. Tirmidzi). Imam Ali bin Abu Thalib berkata, “Hari ini, tidak ada lagi aku dapati seorang pun yang dalam menegakkan kalimat haq di jalan Allah tidak peduli kepada celaan orang, selain Abu Dzar.”
Saat-saat terakhir hidupnya, Abu Dzar tinggal di Rabdzah. Ia bertanya kepada istrinya yang menangisinya saat mengalami sakaratul maut. Istrinya menjawab, “Karena engkau akan meninggal sementara aku tidak memiliki kain yang cukup untuk mengkafanimu.” Abu Dzar berkata, “Pada suatu hari, aku berada di sisi Rasulullah SAW bersama sejumlah sahabat. Aku mendengar langsung beliau bersabda, “Akan meninggal seseorang dari kalian di sebuah dusun disaksikan oleh sekelompok orang-orang Mukmin. “Orang-orang yang dahulu bersamaku telah pergi mendahuluiku dan akan melihatku sekelompok orang-orang Mukmin.” Kemudian, datanglah satu rombongan yang dipimpin oleh Abdullah bin Mas’ud. Dia berkata disaat melihat Abu Dzar, “Benarlah Rasullah yang mengatakan, “Engkau berjalan sendirian, mati pun sendirian dan akan membangkitkan umat.” (Sirah Ibnu Hisyam). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan itu pada peristiwa Tabuk ketika Abu Dzar tertinggal dari pasukan Rasulullah lantaran untanya tewas. Ia memikul barang-barangnya dan menelusuri padang pasir dengan berjalan kaki. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat samar-samar sosok hitam di kejauhan, beliau berkata, “Semoga ia Abu Dzar.”(Sirah Ibnu Hisyam).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s