Abdullah bin Umar adalah seorang yang tekun ibadah, banyak bertaubat kepada Allah, dan selalu puasa. Ia senantiasa mengikuti sunnah Rasulullah SAW dan tidak menyimpang darinya. Aisyah menuturkan tentangnya, “Tidaklah seorang pun mengikuti sunnah Rasulullah di setiap tempat seperti yang dilakukan Ibnu Umar.” Pada akhir-akhir hayatnya, seseorang berdoa, “Ya Allah, panjangkanlah umur Abdullah bin Umar selama engkau menetapkanku untuk meneladaninya. Karena sesungguhnya aku tidak mengetahui seseorang yang paling menyerupai Rasulullah, selain dia.”
Abdullah bin Umar sangat bersungguh-sungguh dalam menjaga hadits Rasulullah SAW. Orang-orang yang hidup sezaman dengannya bertutur, “Tidak ada seorang pun dari sahabat Rasulullah yang lebih berhati-hati terhadap Hadits; dari menambah atau mengurangi, dari Abdullah bin Umar. Dia takut salah dalam menyampaikan fatwa. Sehingga, manakala diminta pendapatnya, atau ditanya, dia menjawab, “Aku tidak tahu.” Ketika Utsman bin Affan mencoba mengangkatnya menjadi hakim, dia menolak. Utsman berkata kepadanya, “Apakah engkau tidak mematuhiku?” ia pun menjawab, “Bukan, melainkan aku pernah mendengar bahwa hakim itu terbagi tiga : hakim yang memutuskan perkara dengan kebodohannya, ia masuk neraka, hakim yang memutuskan perkara dengan hawa nafsunya, ia juga masuk neraka, dan satu lagi hakim memutuskan perkara dengan ijtihad dan benar ijtihadnya, maka itu pas-pasan baginya; tidak mendapat dosa dan tidak pula pahala.”
Abdullah bin Umar selalu melakukan shalat malam. Dia juga senantiasa memohon ampun kepada Allah SWT di waktu fajar. Hal itu karena ia pernah bermimpi di masa Rasulullah SAW, mimpi yang mengusik jiwanya. Ia berkata, “Aku bermimpi melihat tanganku memegang selembar kain sutera dan tidaklah aku menginginkan satu tempat di surga, melainkan kain itu terbang membawaku menuju tempat tersebut. Lalu aku melihat dua orang menghampiriku dan hendak membawaku ke neraka, namun seorang malaikat mencegat keduanya seraya berkata kepadaku, “Jangan takut,” dan kedua orang itu pun melepaskanku.” Hafshah menceritakan impian saudaranya ini kepada Rasulullah SAW, maka beliau berkata, “Sebaik-baiknya pria adalah Abdullah bin Umar jika ia banyak melakukan shalat malam.”
Ubaidillah bin Umar berkata, “Suatu hari aku membacakan kepada Abdullah bin Umar firman Allah, “Maka bagaimanakah [halnya orang kafir nanti] apabila kami mendatangkan seorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu [sebagai umatnya],” (QS. an-Nisa: 41) ia pun menangis hingga jenggotnya basah oleh airmatanya. Tatkala mendengar sepenggal ayat, ”Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang,” (QS. al-Muthafifin: 1) ia mengulang-ulang firman Allah,”Pada hari umat manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam,” (QS. al-Muthafifin: 5) hingga pingsan tak sadarkan diri.
Abdullah bin Umar adalah seorang yang zuhud. Ketika diberi uang sebesar 4000 dirham, ia langsung membagi-bagikannya sementara ia membeli makanan ternaknya dengan hutang. Dia menegur sanak keluarganya pada saat mereka mengundang orang-orang kaya untuk makan. Ia berkata, “Kalian undang orang-orang yang kenyang, sedangkan orang-orang yang lapar kalian biarkan!” Suatu hari, seseorang datang menawarkan obat perangsang makanan untuknya, namun ia menukas, “Aku tidak membutuhkannya. Aku tidak pernah kenyang selama 40 tahun.” Dia sangat takut kelak dikatakan kepadanya, “Kalian telah menghabiskan rezeki kalian yang baik dalam kehidupan duniawi kalian [saja] dan kalian telah bersenang-senang dengannya, maka pada hari ini kalian dibalas dengan azab yang menghinakan.” (QS. Al-Ahqaf: 20) Ia berkata tentang dirinya, “Aku tidak meletakkan satu batu bata pun di atas batu bata lainnya (membuat bangunan) dan tidak pula menanam sepohon kurma semenjak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat.”
Abdullah bin Umar menolak menyandang jabatan Khalifah ketika Utsman bin Affan terbunuh. Tatkala orang-orang berkata kepadanya, “Wahai Ibnu Umar, engkau adalah pemimpin umat dan putra pemimpin umat. Keluarlah, kami akan mengajak orang-orang berbai’at kepadamu,” ia menolaknya. Ia juga menolak saat Marwan bin Hakam mendatanginya untuk membai’atnya sebagai Khalifah menggantikan Mu’awiyah bin Yazid. Ia menampik untuk terlibat dalam fitnah seraya berkata, “Siapa yang berseru, “Mari kita shalat,” aku akan menyambutnya, siapa yang berkata, “Mari kita menuju kemenangan,” maka aku akan menjawabnya. Tetapi siapa yang berseru, “Mari kita bunuh saudara kita se-Islam dan kita ambil hartanya, maka aku akan katakan, “Tidak!”
Abdullah bin Umar seorang yang berani dan tegas. Saat mendengar Hajjaj bin Yusuf mengatakan bahwa Abdullah bin Zubair mengubah Kitabullah, ia berteriak, “Engkau dusta!” yang membuat Hajjaj mengancamnya. Tetapi, ia tidak merasa takut kepada ancaman itu, hanya saja di akhir hayatnya ia menyesal dan berkata, “Aku tidak mendapati diriku menyesal sesuatu dari kehidupan dunia, selain ketidakikutsertaanku bersama Ali untuk memerangi kelompok pembangkang.”
Jika Umar bin Khattab, ayahnya, wafat pada masa di mana banyak orang yang sebanding dengannya, maka Ibnu Umar wafat pada masa di mana tidak seorang pun sebanding dengannya. Semoga Allah meridhai Abdullah bin Umar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s