Abdullah bin Mas’ud ialah orang yang keenam masuk Islam sebelum Rasulullah SAW menjadikan rumah Al-Arqam bin Abil Arqam sebagai markas dawahnya.

la adalah pelayan Uqbah bin Abi Ma’ith, tetangga Rasulullah SAW yang sangat keras dalam memusuhi beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di antara dua tetangga yang paling jahat, yaitu Abu Lahab. paman beliau, dan Uqbah bin Abi Ma’ith. Abu Lahab bersama istnnya si pembuat makar yang bernama Ummu Jamil pernah menghamparkan duri di jalanan Rasulullah SAW, sehingga beliau berkata, “Wahai segenap Quraisy kehidupan beretangga model apakah ini?’ Lantas beliau menyingkirkan duri-duri itu dan tidak membalas permusuhan dengan permusuhan.

Sekali waktu Rasulullah SAW dan Abu Bakar menjumpai Abdullah bin Mas’ud sedang menggembalakan kambing Uqbah bin Abi Ma’ith. Lalu beliau memintanya satu ekor, namun Abdullah bin Mas’ud menjawab. ”Aku hanyalah pelayan yang diberi amanat.” Maka, Rasulullah SAW meminta seekor kambing yang kecil. Sambil membaca bisimllah, beliau mengusap susu kambing tersebut hingga serta merta susunya menjadi banyak dan mereka bertiga pun meminumnya. Kemudian Rasulullah SAW berkata kepada kambing itu, “‘Kembalilah seperti semula.” Maka, susu kambing itu pun mengisut kembali seperti sediakala. Melihat kejadian itu. Abdullah bin Mas’ud meyakini kalau itu merupakan salah satu tanda kerasulan dari Rasulullah SAW. Ia pun memeluk Islam dan baik Islamnya.

Sekalipun badannya kecil dan pendek, namun Abdullah bin Mas’ ud dianugerahi kelebihan oleh Allah berupa kekuatan daya hapal yang tinggi sehingga ia tidakimendengarkan sesuatu pun, rnelainkan langsung menghapalnya. Ia menerima AI-Qur’ an laugsung dari mulut Rasulullah salallahu alaihi wa sallam dan membacanya sebagaimana didengarnya dari beliau Nabi salallahu alaihi wa sallam bertutur tentangnya. ” Barang siapa ingin mendengarkan Al-Qur’an dalam keadaan segar sebagaimana ia turun, maka dengarkanlah bacaan Abdullah bin Mas’ud. ” (HR. Tirmidzi)

Abdullah bin Mas’ud adalah seorang yang sangat pemberani. Dialah orang yang pertama kali membaca Al-Qur’an dengan suara keras di hadapan orang-orang Quraisy. Ketika ia membacakan surat ar-Rahman pada satu perkumpulan mereka, orang-orang Quraisy bangkit dan memukulinya. Sernentara itu musuh Allah Abu Jahal menamparnya dengan keras sampai telinganya pecah. Manakala Nabi menyaksikan hal itu, beliau tersenyum sambil menolongnya.

Pada peperangan Badar, Abu Jahal jatuh, maka Abdullah bin Mas’ud segera menginjak dadanya. Abu Jahal berteriak, “Hai pemuda kecil pengembala kambing, engkau menaiki kendaraan yang sukar. Bagi siapakah kernenangan hari ini?” Ibnu Mas’ud menjawab, ”Bagi Allah dan Rasul-Nya ” Lalu Ibnu Mas’ud memenggal kepala Abu Jahal dan membawanya kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. Beliau tersenyum, teringat akan peristiwa pecahnya telinga Abdtillah bin Mas’ud karena pukulan Abu Jahal.

Abdullah bin Mas’ud disegani di kalangan sahabat. Ia berkata, “Aku telah mengambil 70 surat langsung dari lisan Rasulullah SAW yang tidak ada seorang pun berselisih denganku mengenainya.” Rasulullah SAW memberi wasiat kepada para sahabatnya dengan bertutur, “Peganglah janji Ibnu Ummi ‘Abd”. Ibnu Ummi’ Abd adalah kuniah dari Abdullah bin Mas’ud.

Nabi senang sekali mendengarkan Al-Quran dari Abdullah bin Mas’ud. Suatu hari, beliau menyuruhnya untuk membacakan. Al-Quran kepada beliau Ibnu Mas’ud heran seraya bertanya, “Aku membacakannya kepada engkau, bukankah kepada engkau. Al-Qur’an turun” Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam menjawab, ‘Aku ingin mendengarnya dari orang lain.” Maka Abdullah bin Mas’ud membaca awal surat an-Nisa dengan tarlil dan penuh khusyu. Ketika sampai pada ayat, “Maka bagaimanakah [halnya orang kafir nanti] apabila kami mendatangkan seorang saksi [Rasul] dari tiap-tiap umatkami menghadirkan kamu [Muhammad] sebagai saksi atas mereka itu [sebagai umatmu.’ (QS an-Nisa 41) menangislah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata. Cukup, wahai Ibnu Mas’ud ” Dan Ibnu Mas’ ud pun merasa bangga dengan anugerah yang dimilikinya. ”Demi Allah, tidaklah sesuatu pun turun, dari Al-Qur’an, melainkan aku mengetahui kapan ia turun, kepada siapa turun, dan di mana turunnya. ”

Suatu hari, Uqbah bin Abi Ma’ith menyiapkan sebuah jamuan dan mengundang Rasulullah SAW, sebagai tetangganya, untuk makan bersama. Namun, Nabi SAW menolak seraya berujar, “Aku tidak akan menyantap hidanganmu sampai engkau masuk Islam” Uqbah merasa malu terhadap Nabi SAW lalu ia pun memeluk IslaM dengan mengucap dua kalimat syahadat. Takala Ubay bin Khalaf, rekanannya, mengetahuinya masuk Islam, ia bersumpah untuk tidak mengajaknya bicara sambil mcngancam, “Aku haram bertemu denganmu. kecuali engkau mendatangi Muhammad lalu engkau pukul lehernya dan ludahi wajahnya.” Uqbah pun mematuhi ucapan Ubay sehingga turunlah firman Allah Ta’ala:

“Dan [ingatlah ] hari [ketika itu] orang yang zhalim menggigit dua tangamrya seraya berkata, “Aduhai kiranya [dahulu] mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaanlah bagiku, kiranva aku [dahulu] tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Our ‘an ketika A1-Qur ‘an itu telah datang kepadaku. ” Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia. ” ( al-Furqan 27-29)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s