Abdullah bin Khudzaifah adalah seorang ahli kuda yang gesit. Sehingga, saat menjadi tawanan Kerajaan Romawi, Kaisar Romawi menawarinya gaji yang besar dengan mengikuti agamanya dan menjadi punggawa di Romawi. Tetapi, Abdullah bin Khudzaifah menolaknya, “Demi Allah, seandainya engkau berikan kepadaku seluruh kerajaanmu, aku tidak akan lepaskan agama Muhammad yang telah aku anut ini dan aku tidak akan pernah berkhianat kepada Khalifahku.” Lalu, Kaisar memerintahkan pasukannya untuk menyiksanya. Abdullah berkata dengan lantang, “Kalian hanya mampu menyiksa tubuhku yang fana, sedangkan jiwaku hanya ada di tangan Allah Yang Mahatinggi.”
Abdullah bin Khudzaifah disalib lalu dilempari panah sesuai dengan perintah kaisar. Setiap lemparan panah disambutnya dengan teriakan, “La Ilaaha illallah,” hingga panah-panah itu tidak mengenainya.
Setelah itu, Kaisar memerintahkan orang-orangnya untuk menyiapkan satu kuali berisi air mendidih dan memasukkan Abdullah bin Khudzaifah ke dalamnya. Ketika Ibnu Khudzaifah memasukinya, ia pun menangis. Karenanya, kaisar menyangka dia ketakutan. “Mengapa engkau menangis?” tanya si kaisar. Abdullah bin Khudzaifah menjawab, “Karena jiwaku hanya satu. Aku berharap aku mempunyai seratus jiwa yang disiksa di jalan Allah.”
Lalu, Kaisar memerintahkan agar Khudzaifah dimasukkan kedalam penjara. Tak lama dia berada di dalam penjara, dikirimlah seorang wanita muda yang cantik jelita, genit dan sexy. Tertarikkah Khudzaifah kepada wanita itu? Abdullah bin Khudzaifah membaca ayat:
“Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah kesini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.” (QS. Yusuf: 23)
Tidak hanya itu, kaisar juga menyuguhkan daging babi dan minuman keras kepada Abdullah bin Khudzaifah. Hanya saja, Khudzaifah tidak menyentuh makanan itu sama sekali, dan selama tiga hari dia terus menerus membaca, “Laa ilaaha illallah”.
Kaisar pun kehabisan akal, sampai akhirnya Raja Hiraklius berjanji akan melepaskan Khudzaifah dengan syarat Khudzaifah mencium kepala Kaisar. Lalu Abdullah bin Khudzaifah berkata, “Boleh, asalkan, kawan-kawanku juga ikut bebas bersamaku.” Khudzaifah pun mencium kepala Hiraklius, dan dilepaskan.
Mengetahui hal tersebut, ketika Khudzaifah kembali ke Madinah, Umar dan para saabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mencium kepalanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s