Digelari Syaibah al-Hamdi, lantaran banyaknya pujian manusia terhadap beliau yang menjadi benteng kaum Quraisy dalam segala persoalan. Ada yang mengatakan bahwa beliau digelari demikian karena saat beliau dilahirkan, di kepalanya tumbuh syaibah (uban). Dipanggil Abdul Muthalib karena ketika pamannya yang bernama al-Muththalib membawa Abdul Muththalib kecil ke kota, menaruhnya di belakang (menggendongnya). Ketika orang-orang bertanya siapa anak yang dibawanya itu, si paman menjawab, “Budak saya.” Ia merasa malu mengatakan bahwa itu adalah keponakannya.
Disebutkan bahwa beliau hidup selama 140 tahun. Pada masa jahiliyah, ia mengharamkan nama Syaibah al-Hamdi dialamatkan kepadanya. Abdul Muththalib juga digelari al-Fayyadh (si pemurah), karena kedermawanannya. Beliau juga bergelar muth’im thair al-sama’ (pemberi makan burung langit), karena pada masa itu beliau selalu meletakkan talam berisi makanan untuk burung dan serangga, di puncak bukit. Abdul Muththalib termasuk tokoh nan bijaksana yang menyimpan sayang untuk semua.
Setelah Muththalib, Abdul Muththalib yang menjadi pimpinan Bani Hasyim dan menguasai pengaturn air dan pendapatan. Melihat hal ini, Harb bin Umayyah (ayah Abu Sufyan) tidak bisa menerima otoritas Abdul Muththalib, tetapi para hakim kembali memutuskan seperti putusan terhadap ayahnya dahulu. Karena itu, perasaan iri hati antara Bani Umayyah atas Bani Hasyim terus membesar hari demi hari.
Penemuan Kembali Zamzam

Sesudah pamannya Muththalib, Abdul Muththalib-lah yang mengurus pembagian air dan persediaan makanan. Tidak mudah bagi Abdul Muththalib dalam memegang kekuasaan pembagian air dan makanan tersebut. Apalagi Zamzam tertutup dan tidak dapat digunakan, terpaksa dia harus mendatangkan air dari beberapa tempat. Anaknya waktu itu hanyalah Harits.

Akhirnya Abdul Muththalib pun berusaha untuk mencari letak Zamzam yang telah lama tidak terpakai itu. Akhirnya, Abdul Muththalib menemukannya terltak di antara dua patung: Isaf dan Naila. Ia terus mengadakan penggalian, dibantu oleh anakanya, Harith. Waktu itu tiba-tiba air membersit dan dua pangkal pelana emas dan pedang Mudzadz bin Amr bin Harits mulai tampak.

Setelah ketemu, orang-orang lalu mau mencampuri Abdul Muththalib dalam urusan sumur itu. Abdul Muththalib berkata:
“Baiklah, kalau demikian, marilah kita mengadakan pembagian, antara aku dengan kalian. Kita mengadu nasib dengan permainan qid-h (anak panah). Dua anak panah untuk Ka’bah, dua untukku dan dua untuk kalian. Kalau anak panah itu keluar, ia mendapat bagian, kalau tidak, dia tidak mendapat apa-apa.”
Usul ini disetujui. Tapi, anak panah Quraisy tidak keluar. Sekarang pedang-pedang itu untuk Abdul Muththalib dan dua pangkal pelana emas untuk Ka’bah. Pedang-pedang itu oleh Abdul Muththalib dipasang di pintu Ka’bah, sedang kedua pelana emas dijadikan perhiasan dalam Rumah Suci itu. Abd’l Muttalib meneruskan tugasnya mengurus air untuk keperluan tamu, sesudah sumur Zamzam dapat berjalan lancar.
Abdul Muththalib benar-benar bijaksana memimpin dan bertindak, lihai memutuskan hukum dan berakhlak mulia. Karena itulah, ia sangat dihargai oleh bangsa Quraisy, sehingga ia dapat memerintah Makkah selama setengah abad lebih, kira-kira 59 tahun. Dalam pemerintahannya, Abrahah, panglima tentara Kristen Abyssinia yang baru saja mengambil alih Yaman dengan mengalahkan suku bangsa Himyar, melakukan invasi ke Makkah tahun 570 M, untuk menghancurkan Ka’bah. Ia membawa bala tentara bergajah, hewan yagn belum pernah dilihat oleh penduduk Makkah. Komandan ini gagal bahkan pasukannya hancur cerai-berai akibat badai, hujan dan air es yang amat lebat, Allah mengirimkan burung Ababil (Qs. 105: 1-5). Sisa tentaranya yang melarikan diri dari sana terserang wabah cacar, akibatnya pasukan Abrahah benar-benar hancur. Tahun in idikenal sebagai Tahun Gajah dalam sejarah Arab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s