Akankah Indonesia Menjadi Zimbabwe, Tunisia atau Mesir Berikutnya?

KORUPSI agaknya menjadi kata-kata ajaib yang tiba-tiba ramai kita bicarakan selama era rezim SBY saat ini. Padahal, jika kita mau jujur, sejarah korupsi di Indonesia telah tumbuh subuh sejak era Soekarno, era di mana bangsa ini baru saja memulai sebagai bangsa yang merdeka. Sejak saat itu, korupsi di Indonesia berkembang secara sistemik. Malah, bagi banyak orang, korupsi bukan lagi merupakan suatu pelanggaran hukum, melainkan sekedar suatu kebiasaan. Dari rumah kepala RT pun korupsi sudah tidak lagi tabu untuk dilakukan. -lihat naskah lanjutannya>

Advertisements

GLOBALISASI INVESTASI

Manusia selama berabad-abad telah membangun hubungan yang lebih dekat secara progressive, bahkan sekarang, proses terbangunnya hubungan itu semakin meningkat secara dramatis. Pesawat super cepat, layanan telepon murah, email, internet, kapal pesiar mewah antar benua, arus modal yang instan, semua ini telah membuat dunia semakin saling ketergantungan dari sebelum-sebelumnya. -lihat naskah lanjutannya>

SKEMA BUILD OPERATE TRANSFER

Akhir-akhir ini, memang, tren investasi swasta bagi proyek-proyek negara swasta semakin marak. Alasan utama trend ini adalah pemerintah, BUMN kekurangan dana pemerintah dan pendekatan yang dinamakan sebagai handsoff approach dari pemerintah. Build Operate Transfer (BOT) adalah pilihan bagi pemerintah untuk melakukan outsourcing proyek-proyek pemerintah ke sektor swasta. Tapi, seperti yang akan dijelaskan nanti, alasan kekurangan dana, walaupun sebagai alasan utama, tetap bukan merupakan satu-satunya alasan. Alasan lain bisa saja adalah proses pembangunan sebuah usaha/fasilitas yang layak operasi dan profitable yang hanya bisa dilaksanakan oleh pihak swasta yang kompeten di bidangnya. Ini dinamakan sebagai proyek yang profitable dengan risiko yang nyaris nol. -lihat naskah lanjutannya>

PUBLIC-PRIVATE PARTNERSHIPS

Akhir-akhir ini, di Indonesia, Pemerintah sedang gencar-gencarnya melakukan kerjasama dalam bentuk Public-Private Partnership (PPP). Apakah PPP itu? David Hall, Robin de la Motte dan Steve Davies dalam Terminology of Public-Private Partnerships (PPP), menulis bahwa terminologi PPP digunakan untuk menggambarkan keterlibatan sektor swasta dalam proyek-proyek pemerintah yang semakin lama bukannya semakin mudah.

Pada tahun 1980-an pemerintahan Thatcher di Inggris memulai strategi politik untuk merestrukturisasi sektor swasta, dimana privatisasi kala itu dipandang sebagai perkembagan radikal yang positif. Term privatisasi dahulu dipakai untuk menamai semua bentuk keterlibatan swasta, dari penjualan industri-industri nasional sampai pensubkontrakan atau outsourcing fungsi-fungsi tertentu dalam pemerintahan. Term privatisasi sendiri kemudian menjadi hal yang kontroversial, bahkan di Inggris sendiri. Lalu, kemudian—untuk meredam kontroversi—dikenalkanlah term lain pengganti privatisasi, yaitu Public-private partnership (PPP). -lihat naskah lanjutannya>

SEKILAS KINERJA BUMN

Budaya Perusahaan
Membahas kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN), mau tak mau kita mesti membahas soal etos kerja bangsa Indonesia. Karena, jangankan Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Swasta pun akan sangat dipengaruhi oleh perilaku, kualitas, dan karakter bangsa secara keseluruhan. Kenapa? Karena merekalah stakeholder terbesar bagi badan-badan usaha.

Hermawan Kartajaya dalam Siasat: Antisipasi Dinamika Bisnis, Globalisasi Tribes, menulis bahwa era pasca-perang dingin menempatkan etnis dan ras dalam posisi lebih penting ketimbang negara. Kalau batas-batas negara makin lenyap secara ekonomi, maka suku bangsa yang berasal dari etnis dan ras yang sama akan lebih mudah berhubungan satu sama lain, tanpa terhalangi oleh kewarganegaraan masing-masing. Maka yang terpenting menurut Warren Keegan adalah tempat sumber dari segala macam bahan mentah termasuk sumber daya manusia dan pasar tempat sebuah produk atau jasa global dikembangkan dan dijual. (Hermawan Kartajaya, 1996:51) -lihat naskah lanjutannya>