Meluruskan Thalaq

Thalaq itu tidak jatuh secara fauran atau serta merta setelah kalimat thalaq diucapkan oleh suami. Dalam Tafsir al-Qurthubi, kata “kesaksian” dalam Qs. Al-Thalaq ayat 2 berlaku untuk ruju’ dan thalaq sekaligus.

Ada ikhtilaf antara ulama, Imam Syafii menganggap 2 orang saksi wajib dalam ruju’ dan sunnah dalam thalaq. Imam Abu Hanifah menganggapnya sunnah saja. Akan tetapi, sebagian ulama al-Syafi’iyyah berbeda, mereka menganggap bahwa thalaq tidak akan jatuh tanpa ada saksi.

Allah SWT berfirman dalam Qs. Al-Thalaq 2:

فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ

“Maka apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, rujuklah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik, dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu, dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah.” Continue reading Meluruskan Thalaq

Advertisements

SEKALI LAGI TENTANG AYAH-BUNDA NABI SAW.

Dari rahimmu lahir seseorang yang karenanya dunia diadakan.
Dari rahimmu lahir seseorang yang karenanya dunia diadakan.

Membaca makalah-makalah para ulama, saya yang bukan siapa-siapa ini sangat sedih; kenapa kok seperti ngebet bener ingin mengatakan bahwa ayah-bunda Nabi SAW. di neraka; semua hadis yang menyatakan bahwa Nabi SAW. berasal dari sulbi dan rahim yang suci dianggap palsu. Lalu memakai hadis ahad, ingat, hadis ahad, sebagai dalil bahwa memang ayah-bunda Nabi SAW. di neraka.

Padahal, Anda tahu, Ibnu Hajar pernah berkata yang menyampaikan ucapan Al-Kirmaniy bahwa Kabar Ahad dipakai hanya pada amal perbuatan, bukan pada I’tiqadiyyah (Fathu al-Bāri, Juz 13 hal 231), termasuk karya-karya Imam Nawawi. Karena hadis Ahad mengandung prasangka dan janggal.

Yang membuat saya lebih sedih lagi adalah fakta bahwa orang-orang yang mengklaim orang-tua Nabi SAW. bukanlah penyembah berhala selalu dianggap sebagai Syiah rafidhah yang sesat. Padahal ada banyak ulama lain yang berpandangan seperti ini. Cara berpikir yang lompat-lompat begini seharusnya tak dilakukan oleh ulama.

Kesedihan saya bertambah lagi, karena para ulama itu dan kebanyakan yang mengkafirkan ayah-bunda Nabi SAW. itu memakai hadis ista’dzantu rabbi an astaghfira liummi falan ya’dzan li: aku (sabda Nabi) memohon izin kepada Tuhanku untuk meminta ampun untuk ibuku, tetapi tidak diizinkan. Padahal hadis ini didhaifkan oleh Ibnu Main dan al-Suyuthi. Menurut al-Suyuthi, hadis ini mempunyai dua cacat: 1, bertentangan dengan hadis shahih Bukhari (bahwa hadis ini wurud setelah meninggalnya Abu Thalib); 2. Isnadnya dhaif. Artinya, sudah jelas bahwa berbagai jalan hadis ini semuanya cacat, khususnya kisah turunnya ayat yang melarang istighfar kepada orang non-muslim. Continue reading SEKALI LAGI TENTANG AYAH-BUNDA NABI SAW.

Al-Nisa 138-139 Bukan Ayat Pilkada

Ayo yang merasa santri, biasakan merujuk kepada kitab-kitab mu'tabar.
Ayo yang merasa santri, biasakan merujuk kepada kitab-kitab mu’tabar walaupun tidak mengerti ilmu alat seperti Ushul Fiqh, Qaidah Fiqhiyyah, Ulum al-Hadis, Ulum al-Quran, dst.

Ada teman bertanya tentang tafsir Qs. Al-Nisa 138-139. Ayat ini adalah kembaran dari Qs. Al-Maidah 51 yang heboh itu. Kalau saya mengkritik Ahok lalu para pemujanya mencak-mencak, kira-kira kalau saya ungkapkan tafsirnya saya diapain ya? Ah sutralah, mungkin memang sudah waktunya kebenaran versi kitab-kitab tafsir ini saya ungkapkan.

Arti dari al-Nisa 138-139 kurang lebih seperti ini:

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.”

Al-Thabari, mengutip riwayat Abu Ja’far, bahwa awliya’ di sini berarti anshār (penolong), dan akhillā’ (kekasih) selain orang mukmin. Artinya, ini ayat bukanlah berbicara mengenai kepemimpinan. Menurut Abu Ja’far, dilarangnya memiliki penolong dan kekasih dari non muslim itu jika orang muslim menginginkan kemuliaan, harta, dan pertolongan lainnya. Orang-orang muslim seperti ini disebut adzillā’ (orang-orang hina), dan aqillā’ (orang-orang tak tahu malu). Continue reading Al-Nisa 138-139 Bukan Ayat Pilkada

BERIMAN KEPADA KATA-KATA INDAH

Yang enak didengar belum tentu benar.
Yang enak didengar belum tentu benar.

Salah-satu ciri keawaman adalah beriman kepada kata-kata indah dan segala yg terdengar indah: Yang penting enak didengar dan terdengar agak logis, semua hal akan dianggap sebagai kebenaran.

Saat mendengar kata egaliter, manusia mana yang tak menyukainya? Karena semua orang kepingin dianggap dan diperlakukan sama. Padahal sejak awal Islam mengumumkan dirinya tidak egaliter saat Allah berfirman kepada malaikat dan jin untuk bersujud kepada Adam as. Lalu akan engkau bilang apa agama Islam ini?

Atau mungkin benar thesisnya Ramadhan al-Buthy bahwa sejak lama pemikir Islam sudah dipenjara oleh term-term Barat dan berusaha menyamakan diri dengan mereka? Continue reading BERIMAN KEPADA KATA-KATA INDAH

JURNALISME INVESTIGASI, HAJI DI KARBALA, DAN FITNAH AL-QAEDA

Ngomong-ngomong mengenai pemberitaan Haji di Karbala—yang dilakukan oleh orang Iran karena mereka tidak diizinkan berhaji oleh pemerintah gaya Abu Jahal Saudi Arabia, saya jadi teringat kasus heboh menyangkut emas Busang dan isu bunuh-dirinya Michael De Guzman, sang penemu emas Busang.

Saat pemberitaan mengenai bunuh-dirinya De Guzman, nyaris seluruh media memberitakannya, mempercayai pola berita itu menjadi sebuah fakta: bahwa De Guzman mati bunuh diri dari atas helikopter, dan bahwa setelah itu Bre-X bangkrut karena harga sahamnya turun. Bondan Winarno berbeda. dia merasa aneh saat mendatangi sebuah kompleks pemakaman mewah di ibu kota Filipina, Manila, yang bernama Holy Cross Memorial Park, tempat jenazah Michael de Guzman dimakamkan. Guzman adalah salah seorang eksekutif perusahaan tambang asal Kanada, Bre-X, yang diberitakan tewas bunuh diri melompat dari helikopter pada 19 maret 1997 di pedalaman Kalimantan Timur. Continue reading JURNALISME INVESTIGASI, HAJI DI KARBALA, DAN FITNAH AL-QAEDA

FITNAH TIDAK LEBIH KEJAM DARIPADA PEMBUNUHAN

buka-topeng

Salah satu bukti rusaknya pemahaman Islam di kalangan awam hingga ustadz-ustadz awam adalah dengan masih menjadikan adagium “fitnah lebih kejam daripada pembunuhan” sebagai dalil. Adagium ini sudah pasti diambil dari ayat al-Quran yang berbunyi: al-Fitnatu Asyaddu Min al-QatlIni adalah potongan dari Qs. al-Baqarah ayat 191. Padahal, ayat ini sama sekali tidak membahas tentang “fitnah”.

Anda harus mengetahui bahwa fitnah dalam bahasa Indonesia tidak sama dengan fitnah dengan bahasa Arab. Bahasa Arabnya fitnah (membuat berita bohong tentang seseorang) adalah Buhtaan. Dalam segala macam jenis kitab tafsir, mau tafsir kiri atau kanan, frasa al-Fitnatu Asyaddu Min al-Qatl bermakna cobaan berat yang membuat seorang muslim keluar dari Islam itu lebih berat daripada dibunuh dengan masih berpegang pada agamanya. Itu Anda bisa lihat di Tafsir al-Thabari, tafsir Ibnu Katsir, Tafsir al-Baghawi, Tafsir al-Thanthawi, dan seterusnya dan seterusnya.  Continue reading FITNAH TIDAK LEBIH KEJAM DARIPADA PEMBUNUHAN

Karya Yang Menyalahi Amanah

Karyamu yang sesungguhnya adalah kebaikan,
Karyamu yang sesungguhnya adalah kebaikan.

SESEORANG berkata, “Aduh, saya melupakan sesuatu.” Lalu, karena melupakan sesuatu itu, entah dompet, handphone, kunci rumah, dan seterusnya, maka dia menjadi galau, uring-uringan, dan merasa bahwa segalanya telah hancur. Padahal, dia telah mengalami hal seperti ini berulang-ulang kali, hidupnya tidak pernah hancur.

Ketahuilah, melupakan banyak hal itu tidak berarti apa-apa dibandingkan kita melupakan satu hal. Satu hal itu adalah sesuatu yang pernah dititipkan oleh Allah kepada langit, lalu langit menolaknya. Pernah pula dititipkan kepada bumi, bumi pun menolaknya. Juga kepada gunung, gunung pun tidak bersedia menolaknya. Lalu sekonyong-konyong manusia mau mengembannya. Allah SWT. berifman dalam Qs. al-Ahzab 72, bahwa Dia telah menawarkan amanah kepada langit dan bumi serta gunung-gunung, semuanya enggan memikulnya dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu banyak berbuat dzalim dan amat bodoh. Continue reading Karya Yang Menyalahi Amanah

LOGICAL DIVISION: SIMPLIFIKASI DIKOTOMI SYIAH NON-SYIAH

logical-fallacy

Orang yang mengajarkan kepada Anda dikotomi, seperti Syiah non Syiah, kafir non kafir, itu alasan secara manthiq-nya adalah karena tidak cukup pengetahuan mengenai denotasi sebagai unsur penting dari logical division. Malah, biasanya, para pengajar itu seringkali tersandung pada cross division atau division yang overlap. Kenapa? Tentu karena ketakmengertiannya mengenai cara berpikir yang logis.

Contohnya adalah pemberitaan uk.reuters.com mengenai ditemukannya logistik sumbangan IHR yang dipimpin oleh bachtiar nasir. Dengan menyebut bahwa masyarakat harus berhati-hati dengan media Syiah, dr. bachtiar seperti ingin mengatakan bahwa berita apa pun yang bertentangan dengan yang dilakukannya adalah Syiah. Dia seperti menggolongkan Syiah sebagai spesia di bawah genera yang serampangan. Continue reading LOGICAL DIVISION: SIMPLIFIKASI DIKOTOMI SYIAH NON-SYIAH

3 ORANG HEBAT, 1 ADA DI INDONESIA

quraish-shihab

Ini adalah Status mengenai 3 orang hebat. Yang pertama dan kedua adalah ketua Komisi Fatwa Mesir Periode sekarang dan periode 2003-2013. Mereka berdua orang-orang hebat dan dihormati dengan keilmuannya. Dari mana kita dapat menilai ilmu mereka? Tentu dari karya-karya ilmiahnya. Mereka didaulat menjadi ketua Komisi Fatwa di Mesir. Sedangkan orang yang ketiga adalah orang hebat yang hidup di Indonesia. Kehebatannya tentu semua orang mengetahuinya dari karya-karya Ilmiahnya, baik yang tertulis maupun yang terucap. Kepandaiannya pun ditopang dengan akhlak dan keteduhan sikapnya. Bedanya dengan orang pertama dan kedua, orang ini tidak dihargai di negaranya sendiri (setidaknya oleh orang-orang bodoh). MUI seharusnya dihuni oleh orang-orang seperti orang yang ketiga ini, juga ulama-ulama selevel dengannya, ingat ya, selevel.

Yang pertama adalah Ketua Darul Ifta’ atau Komisi Fatwa di Mesir periode 2013 sampai sekarang, yaitu Syeikh Syauqi Ibrahim Abd al-Karim ‘Allam. Karya Ilmiah Syaikh Syauqi dalam bidang fatwa adalah: Continue reading 3 ORANG HEBAT, 1 ADA DI INDONESIA

SUDDENLY ULAMA

Tak pernah belajar di pesantren, tak pernah meneliti literatur-literatur keagamaan, tiba-tiba orang bisa merasa menjadi ulama.
Tak pernah belajar di pesantren, tak pernah meneliti literatur-literatur keagamaan, tiba-tiba orang bisa merasa menjadi ulama.

Saya kira semua sudah mengetahui kabar penyair Taufik Ismail yang mak bedunduk mengharamkan lagu Padamu Negeri. Dia menyatakan bahwa lagu itu adalah lagu syirik, sehingga yang menyanyikannya akan menjadi musyrik. Saya bilang, wow, rupanya virus “suddenly ulama” telah menjalar ke mana-mana.

Saya ingin mengatakan begini, hai para “suddenly ulama”, ketahuilah, bahkan seorang ulama sekaliber Muhammad al-Ghazali saja akan merujuk kepada literatur-literatur yang banyak agar mendapatkan hasil ijtihad yang—paling tidak—telah sangat melelahkannya untuk mencapai hasil yang maksimal. Setelah berlelah-lelah menelusuri literatur hanya untuk satu masalah saja, pun para ulama tidak merasa bahwa apa yang dikatakannya adalah kebenaran mutlak. Yang ditelusuri itu macam-macam: apakah pernah Nabi SAW. menyatakan seperti itu atau semisal itu; apakah pernah ulama-ulama kenamaan menyatakan hal semisal itu. Lalu, di dalam ilmu tauhid apakah hal semacam itu mengganggu keimanan. Continue reading SUDDENLY ULAMA

Fiqih Awlawiyyat Dan Konsensus Bangsa

fiqih-awlawiyat

Saya kepingin sekali membahas rame-rame di Indonesia ini memakai pisau bedah Fiqih Awlawiyyat (Fiqih prioritas) dan Fiqih Muwazanat (Fiqih Perbandingan). Tetapi, baru saja mau memulai membahasnya, saya terbentur pada aturan baku dalam berfiqih, yaitu mendahulukan hal-hal yang bersifat Dharuriyaat (kebutuhan yang tanpanya kita mati), atas hal-hal yang bersifat haajjiyyaat (hal-hal yang tanpanya hidup akan menderita); mendahulukan hal-hal yang bersifat haajjiyyaat atas hal-hal yang bersifat tahsinaat (kebutuhan tersier untuk kesempurnaan atau pelengkap hidup saja). Ini saja membutuhkan pemikiran yang mendalam yang seharusnya dilakukan bersama-sama oleh para ulama dan para pakar ketatanegaraan, hukum, politik, ekonomi, dan militer, yang dilakukan secara jujur tanpa ada kepentigan politik dan uang. Diskusi inilah yang akan menentukan mana hal-hal dharuriyyah bagi bangsa ini, yang jika tidak dilakukan akan menghancurkan kehidupan bangsa Indonesia; mana yang haajjiyah, yang juga penting agar bangsa Indonesia tidak seperti Suriah atau Yaman; dan mana yang hanya bersifat Tahsinaat. Continue reading Fiqih Awlawiyyat Dan Konsensus Bangsa

Mengartikan Hadis Man Tasyabbaha Biqawmin Lagi

Dalam sebuah status di FB tentang OPB atau Orang Pintar Baru, seorang teman membahas mengenai haramnya duduk-duduk bersama orang-orang kafir; yang dikutip adalah Qs. al-Nisa ayat 140 yang berarti: “Dan sungguh, Allah telah menurunkan ketentuan kepadamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk bersama mereka, sebelum mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena (kalau kamu tetap duduk dengan mereka), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di neraka Jahanam.”

Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dilarang itu adalah jika orang Islam—yang notabene wajib atas mereka amar ma’ruf, nahyu munkar, dan berkata-kata baik—yang duduk di majelis dimana orang-orang di dalamnya menghina al-Quran, menertawakan ayat-ayat Allah, menertawakan Nabi SAW., dan ridha atas penghinaan itu, maka dia dianggap masuk di dalam golongan itu. Bahkan, dijelaskan lagi di dalam tafsir tersebut dengan hadis, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka diharamkan atasnya duduk di majelis dimana ada khamr di dalamnya.” Maksudnya, duduk-duduk sambil ridha terhadap perbuatan mereka. Continue reading Mengartikan Hadis Man Tasyabbaha Biqawmin Lagi

Salafiyah Itu Bukan Madzhab

Salafiyyah: Marhalah Zamaniyyah Mubarakah Lā Madzhab Islamiyy
Salafiyyah: Marhalah Zamaniyyah Mubarakah Lā Madzhab Islamiyy

Pernah mendengar hadis ini?: “Sebaik baik manusia ialah orang yang sezaman dengan saya (para shahabat) kemudian generasi yang mengikuti mereka (para Taabi`iin) kemudian generasi yang mengikuti mereka dengan baik (Atbaa`ut Taabi`iin), kemudian datang satu kaum dimana persaksian mereka mendahului sumpahnya dan sumpah mereka mendahului persaksiannya.” Continue reading Salafiyah Itu Bukan Madzhab

HUKUM GHASAB

Al-Bajuri
Al-Bajuri

Ghasab adalah menguasai harta orang lain secara sewenang-wenang. Di dalam kitab yang saya foto ini, Kata “hak” meliputi harta benda dan semua hak milik seperti kucing, pupuk, burung, manfa’at dan hak-hak orang lain, seperti peluang usaha, link bisnis, dan lain-lain.

jika nilai barang yg dighasab melebihi nisab pencurian, yaitu senilai 4,25 gram emas; maka dosanya dihitung sebagai dosa besar. Dalam hadis di kitab ini, hukumannya adalah 7 lapis bumi akan dikalungkan ke lehernya, menggambarkan betapa beratnya hukumannya.

من ظلم من الأرض شيئاً طوقه من سبع أرضين
من ظلم من الأرض شيئاً طوقه من سبع أرضين

Alam Penghambaan Itu Berbeda

Orang yang ada di ketinggian tak sempat bercerita
Orang yang ada di ketinggian tak sempat bercerita

Ngene lho nduk, tak wenehi ngerti. Urip sing berkenaan dengan ibadah dan kedekatan kepada Allah itu tidak seperti rumus-rumus di dunia formal. Tasawwuf atau penyembahan kepada Allah itu kebalikan dari formalitas.

Jika ada orang yang mengatakan dia dekat dengan Allah, sesungguhnya dia sangat jauh. Jika ada orang yang mengatakan ibadahnya sangat banyak, pamer puasa, pamer tahajjud, sesungguhnya dia tidak pernah melakukan apa-apa. Jika ada orang berdoa di facebook untuk dirinya sendiri sambil melolong menagih-nagih kebaikan-kebaikannya, sesungguhnya dia memang sedang melolong.

Gini nduk, tak kasih tau rumusnya:

“Siapa saja yang menghamba kepada Allah, dia akan melihat amal-amalnya sebagai amal yang riya’, menyaksikan ahwalnya hanya sebagai hal yang “ngaku-ngaku” saja, dan menyaksikan ucapan dan perbuatannya sebagai kebohongan.”

Gitu nduk… Nek kowe kepingin weruh ulama zaman iki, meluwo wong sing koyo ngono…