Meluruskan Thalaq


Thalaq itu tidak jatuh secara fauran atau serta merta setelah kalimat thalaq diucapkan oleh suami. Dalam Tafsir al-Qurthubi, kata “kesaksian” dalam Qs. Al-Thalaq ayat 2 berlaku untuk ruju’ dan thalaq sekaligus.

Ada ikhtilaf antara ulama, Imam Syafii menganggap 2 orang saksi wajib dalam ruju’ dan sunnah dalam thalaq. Imam Abu Hanifah menganggapnya sunnah saja. Akan tetapi, sebagian ulama al-Syafi’iyyah berbeda, mereka menganggap bahwa thalaq tidak akan jatuh tanpa ada saksi.

Allah SWT berfirman dalam Qs. Al-Thalaq 2:

فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ

“Maka apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, rujuklah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik, dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu, dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah.”

Diantara ulama yang mewajibkan adanya saksi dalam thalaq adalah Abu Zahrah dalam Ahwāl al-Yakhshiyyah, halm 368-371; Abdurrahman al-Shābūni dalam Madā Hurriyyatu al-Zawjayn, hal. 473-484; Ahmad Syakir dalam Nidzām al-Thalāq fi al-Islam, hal. 118; Ali al-Khafeef dalam Farq al-Zawāj, hal. 131; Muhammad Yusuf Musa dalam al-Ahwāl al-Shyakhsiyyah, hal. 271; Kamaluddin Ahmad dalam al-Thalāq fi al-Islam, hal. 71-81; Muhammad Salam Madkur dalam Ahkām al-Usrah fi al-Islam oleh Juz 1 hal. 79-84; dan Al-Thāhir bin AsyurTahrir wa al-Tanwīr oleh Thāhir bin Asyur, hal. 309.

Bahkan, Islam tidak menganggap sah thalaq yang dilakukan dalam keadaan marah, baik marah yang sangat memuncak, maupun marah yang biasa2 saja, yaitu keadaan emosi yang jika telah tenang nanti akan disesali.

ولو يعجل الله للناس الشر استعجالهم بالخير لقضي إليهم أجلهم فنذر الذين لا يرجون لقاءنا في طغيانهم يعمهون

“Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan kejahatan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka. Maka kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, bergelimang di dalam kesesatan mereka.” (QS. Yunus: 11)

Ayat ini dalam Tafsir Ibnu Katsir maksudnya adalah
Allah mengabarkan tentang kemurahan dan kelembutan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, bahwa Allah tidak mengabulkan doa hamba-hamba jika mereka berdo’a untuk kejelekan jiwa-harta-dan-anak mereka yang dilakika saat mereka sedang bosan atau marah. Demikian juga Thalaq, Syaikh Ishām Tallimah, salah satu al-Azhar, menyatakan bahwa dalam keadaan marah thalaq tidak sah. Saya ulangi lagi, baik dalam keadaan marah yang sangat parah atau marah biasa saja. Artinya, bahkan jika telah berlangsung 1 bulan pun jika masih dalam keadaan emosi, maka thalaq tidak sah. Maka, biasanya hakim meminta pasangan yang hendak bercerai berpikir-pikir dulu.

وإن عزموا الطلاق فإن الله سميع عليم

“Dan jika mereka berazam (bertetap hati untuk) talak, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al-Baqarah 227)

Artinya, thalaq itu membutuhkan azam (ketetapan hati) dari suami-istri. Sedangkan azam itu, menurut Syaikh Isham Tallimah, membutuhkan waktu berpikir yang lama dan dengan kehati-hatian yang penuh. Di dalam al-Quran, kata azam itu berarti kesabaran yang sangat. Makanya para Rasul yang sangat sabar diberi julukan Ulul Azmi.

Allah berfirman dalam al-Baqarah 225:

لا يؤاخذكم الله باللغو في أيمانكم ولكن يؤاخذكم بما كسبت قلوبكم

“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleb hatimu. Dan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyantun.” (QS. Al-Baqarah: 225)

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan, maksud dari ayat ini adalah bahwa Allah tidak akan menghukum dan tidak juga mengharuskan untuk memenuhi sumpah keliru yang telah diucapkan tanpa adanya keyakinan dan kesungguhan. Sebagaimana telah ditegaskan dalam kitab ash-Shahih (Bukhari dan Muslim).

Dalam bab Laghwu al-Yamin (sumpah yang tidak dimaksudkan untuk bersumpah), Abu Dawud meriwayatkan, dari Atha’, bahwa Aisyah mengatakan, sesungguhnya Rasulullah SAW pernah bersabda: “Laghwu al-yamin adalah ucapan seseorang di dalam rumahnya, kalla wallahi (tidak, demi Allah) dan balaa wallahi (ya, demi Allah).”

Selanjutnya Abu Dawud mengatakan: “Hadits ini diriwayatkan Ibnul Furat, dari Ibrahim al-Sha’igh, dari Atha’, dari Aisyah sebagai hadis mauquf. Juga diriwayatkan al-Zuhri, Abdul Malik, dan Malik bin Maghul, semuanyadari Atha’, dari Aisyah sebagai hadis mauquf.

Mengenai firman Allah Ta’ala: laa yu-aakhidzukumullaaha bil laghwi fii aimaanikum; Abdur Razak meriwayatkan dari Mu’ammar, dari al-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah, ia mengatakan, “Mereka itu adalah kaum yang saling membela diri dalam masalah yang diperselisihkan, lalu ia mengatakan: “Tidak, demi Allah, ya, demi Allah, dan benar2 tidak, demi Allah.” Mereka saling membela diri dengan bersumpah tanpa adanya keyakinan dalam hati mereka.”

Ibnu Abbas menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Laghwu al-Yamin adalah Anda bersumpah dalam keadaan marah. Ini sesuai dengan hadis Nabi SAW:

لا طلاق، ولا عتاق، في إغلاق

“Tidak ada (tidak sah) perceraian dan pembebasan dalam keadaan marah.” (Sunan Abu Dawud, no.2193, Ibnu Majah, no.2042, Musnad Ahmad, no.26360 Mustadrok Lil-Hakim, no.2802 dan Sunan Kubro Lil-Baihaqi, no15097,15098,15099)

Para ulama mengartikan kata ighlaq dengan ghadab atau marah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s