SEKALI LAGI TENTANG AYAH-BUNDA NABI SAW.


Dari rahimmu lahir seseorang yang karenanya dunia diadakan.
Dari rahimmu lahir seseorang yang karenanya dunia diadakan.

Membaca makalah-makalah para ulama, saya yang bukan siapa-siapa ini sangat sedih; kenapa kok seperti ngebet bener ingin mengatakan bahwa ayah-bunda Nabi SAW. di neraka; semua hadis yang menyatakan bahwa Nabi SAW. berasal dari sulbi dan rahim yang suci dianggap palsu. Lalu memakai hadis ahad, ingat, hadis ahad, sebagai dalil bahwa memang ayah-bunda Nabi SAW. di neraka.

Padahal, Anda tahu, Ibnu Hajar pernah berkata yang menyampaikan ucapan Al-Kirmaniy bahwa Kabar Ahad dipakai hanya pada amal perbuatan, bukan pada I’tiqadiyyah (Fathu al-Bāri, Juz 13 hal 231), termasuk karya-karya Imam Nawawi. Karena hadis Ahad mengandung prasangka dan janggal.

Yang membuat saya lebih sedih lagi adalah fakta bahwa orang-orang yang mengklaim orang-tua Nabi SAW. bukanlah penyembah berhala selalu dianggap sebagai Syiah rafidhah yang sesat. Padahal ada banyak ulama lain yang berpandangan seperti ini. Cara berpikir yang lompat-lompat begini seharusnya tak dilakukan oleh ulama.

Kesedihan saya bertambah lagi, karena para ulama itu dan kebanyakan yang mengkafirkan ayah-bunda Nabi SAW. itu memakai hadis ista’dzantu rabbi an astaghfira liummi falan ya’dzan li: aku (sabda Nabi) memohon izin kepada Tuhanku untuk meminta ampun untuk ibuku, tetapi tidak diizinkan. Padahal hadis ini didhaifkan oleh Ibnu Main dan al-Suyuthi. Menurut al-Suyuthi, hadis ini mempunyai dua cacat: 1, bertentangan dengan hadis shahih Bukhari (bahwa hadis ini wurud setelah meninggalnya Abu Thalib); 2. Isnadnya dhaif. Artinya, sudah jelas bahwa berbagai jalan hadis ini semuanya cacat, khususnya kisah turunnya ayat yang melarang istighfar kepada orang non-muslim.

Jalan yang paling benar adalah hadis yang dikeluarkan oleh al-Hakim dan dishahihkan atas syarat Shahih Bukhari-Muslim. Bunyi hadisnya begini: “Dari Buraidah, bahwasannya Nabi SAW. menziarahi qubur ibundanya di Alfi Muqni’, tidak pernah terlihat Rasulullah SAW. menangis sebanyak ini.”

Tidak ada illat di dalam hadis ini, tidak pula ada pertentangan dengan hadis lain, juga tidak ada larangan untuk beristighfar. Tangisan Nabi SAW. itu mungkin karena hati Rasulullah SAW. yang sangat lembut. Demikian juga dengan al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani menyatakan bahwa sabab al-nuzul suatu ayat tak bisa diulang dua kali atau lebih (bahwa hadis ini adalah sabab nuzulnya ayat yang melarang orang Islam beristighfar untuk orang musyrik Qs. Attaubah 113).

Seandainya upaya mendhaifkan segala hadis yang menyatakan bahwa ayah-bunda Nabi SAW. itu dilakukan dengan hadis yang sehat, saya tidak akan merasa gerah. Ini? Lah ini? Ini? Diulang-ulang biar emosi teraduk-aduk kayak pilkada DKI. Ini mendhaifkan hadis-hadis yang dianggap shahih dengan hadis yang bermasalah, juga dengan hadis ahad. Kalau kata saya waktu pinter, ini namanya masalah wes embohlah.

Di bawah ini adalah riwayat Bukhari yang diakui keshahihannya:

بعثت من خير قرون بني آدم قرنا فقرنا حتى بعثت من القرن الذي كنت فيه (رواه البخاري

“Aku diutus dari setiap kurun terbaik anak Adam, dari setiap abad ke abad, hingga kepada abad aku berada di dalamnya”. (HR. al-Bukhari)

Anda artikanlah hadis ini, bahwa Nabi SAW. itu ada di setiap masa dimana manusia tidak menduakan Allah. Apakah pada saat ayah-bunda Nabi SAW. hidup tidak ada yang beragama tauhid? Menurut Ramadhan Buthi dalam Fiqhu al-Sirah, diantara mereka ada Qas bin Saidah al-Iyadi, Ri-ab al-Syinni, pendeta Buhaira, dan masih banyak lagi. Artinya, tidak benar bahwa orang-orang yang hidup di zaman jahiliyyah itu disebut kafir semua, termasuk ayah-bunda Nabi SAW. Menurut Fakhruddin al-Rāzi, ayah dan ibunda Nabi bahkan tak pernah musyrik. Mereka itu seperti halnya Zaid bin Amr bin Nufail dan Waraqah bin Naufal.

Imam Muslim dan Imam al-Tirmidzi meriwayatkan hadis shahih:

إن الله اصطفى من ولد إبراهيم إسماعيل واصطفى من ولد إسماعيل بني كنانة واصطفى من بني كنانة قريشا واصطفى من قريش بني هاشم واصطفاني من بني هاشم (رواه مسلم والترمذي)

“Sesungguhnya Allah telah menjadikan Isma’il sebagai pilihan dari anak Ibrahim, dan telah menjadikan Bani Kinanah sebagai pilihan dari Isma’il, dan telah menjadikan Quraisy sebagai pilihan dari Bani Kinanah, dan telah menjadikan Bani Hasyim sebagai pilihan dari Bani Kinanah, dan telah menjadikanku sebagai pilihan dari Bani Hasyim”. (HR. Muslim dan al-Tirmidzi)

Artinya sudah jelas, bahwa Nabi SAW. lahir dari keluarga terpilih. Jika Bani Hasyim adalah pilihan termulia dari bani-bani lainnya, lebih-lebih lagi bapak dan ibu yang melahirkan Nabi SAW.

Abdur-Razzaq dalam kitab al-Musannaf meriwayatkan hadis ini:

لم يزل على وجه الدهر في الأرض سبعة مسلمون فصاعدا فلولا ذلك هلكت الأرض ومن عليها (رواه عبد الرزاق)

“Akan senantiasa ada sepanjang masa di bumi ini tujuh orang muslim atau lebih, yang kalaulah bukan karena mereka maka bumi ini dan sluruth yang ada di atasnya akan hancur”. Sanad hadis atau atsar ini sahih sesuai syarat dua imam terkemuka; al-Bukhari dan Muslim. al-Hawi Li al-Fatawi, as-Suyuthi, 2/207.

Terakhir adalah hadis ini:

أنا محمد بن عبد الله بن عبد المطلب بن هاشم بن عبد مناف بن قصي بن كلاب بن مرة بن كعب بن لؤي بن غالب بن فهر بن مالك بن النضر بن كنانة بن خزيمة بن مدركة بن إلياس بن مضر بن نزار وما افترق الناس فرقتين إلا جعلني الله في خيرهما فأخرجت من بين أبوي فلم يصبني شيء من سنن الجاهلية وخرجت من نكاح ولم أخرج من سفاح من لدن آدم حتى انتهيت إلى أبي وأمي ا فأنا خيركم نسبا وخيركم أب أخرجه البيهقي في دلائل النبوة والحاكم عن أنس رضي الله عنه

“Aku Muhammad bin Abdillah bin Abdulmuttalib, bin Hasyim, bin Abdumanaf, bin Qushay, bin Kilaab, bin Murrah, bin Ka’b bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihir bin Malik bin Nadhar bin Kinaanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudharr bin Nizaar, tiadalah terpisah manusia menjadi dua kelompok (nasab) kecuali aku berada diantara yang terbaik dari keduanya, maka aku lahir dari ayah ibuku dan tidaklah aku terkenai oleh ajaran jahiliyah, dan aku terlahirkan dari nikah (yang sah), tidaklah aku dilahirkan dari orang jahat sejak Adam sampai berakhir pada ayah dan ibuku, maka aku adalah pemilik nasab yang terbaik diantara kalian, dan sebaik baik ayah nasab”. (dikeluarkan oleh Imam Baihaqi dalam dalail Nubuwwah dan Imam Hakim dari Anas ra, Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya juz 2, Imam Al-Tabari dalam tafsirnya juz 2, al-Suyuthi al-Durr al-Mantsur dan al-Jami’ al-Shaghir, al-Alusi dalam Tafsir al-Alusi, Ibnu Asyakir dalam Tarikh Dimisq, al-Sam’ani dalam al-Ansab, dalam riwayat lain yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, matannya berbunyi: Saya Nabi, tidak bohong, saya anak Abdul Muththalib)

Pertanyaannya: adakah Nabi SAW. membanggakan orang kafir sebagai moyangnya?

Nabi saw pernah berkata kepada Sa’ad bin Abi Waqqash ra di peperangan Uhud:

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ مَا سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمَعَ أَبَوَيْهِ لِأَحَدٍ إِلَّا لِسَعْدِ بْنِ مَالِكٍ فَإِنِّي سَمِعْتُهُ يَقُولُ يَوْمَ أُحُدٍ يَا سَعْدُ ارْمِ فِدَاكَ أَبِي وَأُمِّي

Dari Ali bin Abi Thalib, tiada pernah keudengar Nabi SAW. mengumplkan ayah bundanya untuk seseorang kecuali pada Sa’ad bin Malik ra, dan sungguh aku mendengar beliau SAW. bersabda di hari Uhud, “Panahlah wahai Sa’ad! Jaminanmu ayah ibuku. (Shahih Bukhari hadits no.3753 Bab Maghaziy, hadits no.3750 Bab Maghaziy)

Pertanyaannya: apakah mungkin Sa’d bin Abi Waqqash (Sa’d bin Malik) dikumpulkan dengan ayah-bunda Nabi SAW. yang katanya masuk neraka? Saya benar-benar sedih pak ulama.

Ada lagi hadis riwayat Bukhari-Muslim yg berbunyi:

إن أبي وأباك في النار

“Sesungguhnya bapakku dan bapakmu (badui yg bertanya) di dalam neraka.”

Hadis ini ‘katanya” shahih karena diriwayatkan oleh duo shahih Bukhari Muslim. Tp hadis ini bukan hadis mutawatir, seperti yg diungkapkan oleh Mahmud al-Zain dalam Minhāj al-Wafā fī Najāti Wālid al-Mushtafā. Hadis yg tak mutawatir itu mengandung prasangka, kejanggalan, dan kesalahan. Sedangkan pendapat yg diterima adalah bahwa riwayat hadis ini salah dan syādz. Hadis ini pun bukan penerang ayat fatrah (Kami tidak menyiksa sampai Kami mengutus seorang Rasul).

Imam al-Suyūthi berpendapat dalam al-Hāwiy (2/368) bahwa nenek moyang sebagai jalur silsilah Nabi adalah orang2 yg beriman. Ini sesuai dgn hadis riwayat Muslim (2276), “Sesungguhnya Allah memilih Kinānah dari anak Ismāil, memilih Quraysh dari Kinānah, dan memilih Quraysh dari Bani Hāsyim.” Kemudian pada hadis (2/370), “Menjadi maklum bahwasannya kekhususan, keterpilihan, dan pilihan itu adalah dari Allah, keutamaan adalah milik-Nya, tak akan mungkin keterpilihan berkumpul dengan kesyirikan. Sesungguhnya syirik itu jauh dari suci.” Maka sangatlah jauh antara kenajisan dan keterpilihan oleh Allah.

Terakhir, al-Suyuthi dalam al-Duraj al-Munifah fi al-Aba’ al-Syarifah dan dalam al-Dawaran al-Falaki, mengatakan bahwa orang yang menyatakan bahwa ayah-bunda Nabi SAW. kafir, maka dia sendirilah yang kafir. Demikian juga dengan Syaikh Kamaluddin al-Syumani dalam al-Majmu’ yang menceritakan al-Qadhi Abu Bakar ibnu al-Arabi yang melaknat orang-orang yang mengkafirkan ayah-bunda Rasulullah SAW.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s