Al-Nisa 138-139 Bukan Ayat Pilkada


Ayo yang merasa santri, biasakan merujuk kepada kitab-kitab mu'tabar.
Ayo yang merasa santri, biasakan merujuk kepada kitab-kitab mu’tabar walaupun tidak mengerti ilmu alat seperti Ushul Fiqh, Qaidah Fiqhiyyah, Ulum al-Hadis, Ulum al-Quran, dst.

Ada teman bertanya tentang tafsir Qs. Al-Nisa 138-139. Ayat ini adalah kembaran dari Qs. Al-Maidah 51 yang heboh itu. Kalau saya mengkritik Ahok lalu para pemujanya mencak-mencak, kira-kira kalau saya ungkapkan tafsirnya saya diapain ya? Ah sutralah, mungkin memang sudah waktunya kebenaran versi kitab-kitab tafsir ini saya ungkapkan.

Arti dari al-Nisa 138-139 kurang lebih seperti ini:

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.”

Al-Thabari, mengutip riwayat Abu Ja’far, bahwa awliya’ di sini berarti anshār (penolong), dan akhillā’ (kekasih) selain orang mukmin. Artinya, ini ayat bukanlah berbicara mengenai kepemimpinan. Menurut Abu Ja’far, dilarangnya memiliki penolong dan kekasih dari non muslim itu jika orang muslim menginginkan kemuliaan, harta, dan pertolongan lainnya. Orang-orang muslim seperti ini disebut adzillā’ (orang-orang hina), dan aqillā’ (orang-orang tak tahu malu).

Tetapi, Ismail Ibnu Kathir dalam Tafsir Ibnu Katsir dan Imam al-Qurthubi dalam Tafsir al-Qurthubi memperjelas posisi ayat penolong atau kekasih di dalam ayat ini, bahwa orang-orang Islam itu tidak saja menganggap orang-orang non muslim sebagai penolong dan kekasih, tetapi mereka menertawakan orang-orang Islam bersama penolong dan kekasihnya itu. Mereka bukan saja berkawan, tetapi menjadi musuh dalam selimut bagi perjuangan ummat Islam.

Dalam istilah al-Qurthubi, penolong dan kekasih itu diartikan sebagai kawan-kawan yang saling membantu dalam pekerjaan yang terkait erat dengan agama (a’wānan ‘ala al-a’amāl al-muta’alliqah bi al-dīn). Tujuannya tidak lain hanyalah mendapatkan materi, pangkat, jabatan, dan kemuliaan. Mereka itulah, menurut Tafsir al-Thantawi, yang disebut sebagai orang munafiq.

Jadi, apa hubungannya dengan pilkada DKI, dimana ada Ahok di dalamnya, yang notabene non-muslim? Saya tidak mengerti, apakah orang-oranv Islam yang mendukung Ahok itu ada yang berharap mendapatkan keuntungan materi dan jabatan dari Ahok? Apakah orang-orang Islam yang mendukung Ahok itu ada yang ingin menghancurkan Islam via dukungannya kepada Ahok? Yang saya ketahui adalah bahwa sistem pemerintahan sekarang ini tidaklah terpusat kepada Gubernur semata, karena Gubernur harus bekerjasama dengan para penguasa lainnya, seperti DPRD, karena Gubernur menyelenggaraan pemerintahan daerah berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama DPRD provinsi. Gubernur pun tak bisa mengatur Polda, Kodam, dan KPK. Artinya, Gubernur bukanlah penguasa tunggal yang berkuasa atas segala hal si propinsi, karena dia juga harus tunduk kepada segala aturan dan Undang-Undang yang berlaku. Meskipun saya agak kecewa dengan lolosnya Ahok–juga Foke tentunya–melaksanakan reklamasi sebelum memenuhi aturan-aturan yang berlaku.

Jika pun term munafik itu berlaku dalam pilkada ini, mestinya, menurut qaidah fiqhiyah, kita tak bisa menghukumi apapun berdasarkan dugaan-dugaan dan prasangka. Tapi dalam Fiqh Awlawiyyāt, setiap individu harus mendahulukan kepentingam agama daripada kepentingan jiwa, keluarga, akal dan harta benda. Anda2 sendirilah yang mengetahui, apakah memilih Ahok menguntungkan Islam atau merugikannya? Saya tidak mengetahuinya, karena ini sungguh urusan politik, yang kenyatannya tidak seperti permukaannya.
.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s