Ilusi Wag The Dog Penguasa


Orang terkecoh dengan kibasan anjing, padahal mulutnya sedang mengunyah bangkai anak-anaknya.
Orang terkecoh dengan kibasan anjing, padahal mulutnya sedang mengunyah bangkai anak-anaknya.

Apa itu Wag The Dog? Dalam Urban Dictionary, istilah Wag The Dog diartikan sebagai cara untuk mengalihkan perhatian dari sesuatu yang besar atau sesuatu yang sangat penting kepada sesuatu yang nilai kepentingannya sangat kecil. Kata “penting” di sini bisa merujuk pada nilai sesuatu itu, baik nilainya dari segi finansial, politik, atau sosial.Hal yang penting itu berbeda-beda bagi masing-masing orang. Ada yang menganggap uang itu penting, tapi ada yang menganggap keamanan lebih penting. Tetapi, jika kita merujuk kepada pengertian umum, maka kepentingan itu bermuara pada uang dan kekuasaan.

Kita ini—sadar atau tidak—sedang hidup di kolam renang besar, bahkan samudera, illusi. Setiap hari kita berkutat dengan media-media: media sosial yang penjajahannya semakin mencengkeram, media mainstream yang pemberitaannya semakin tidak terlacak validitasnya, media elektronik seperti gadget yang menawarkan gaya yang modernitasnya cenderung semu, atau media politik yang mau tak mau pasti harus kita hadapi dan rasakan akibat-akibatnya: seringkali negatif, hanya kadang-kadang—mau tak mau—positif, apa boleh buat.

Hingar-bingar politik itu seperti jembatan penyeberangan Pasar Minggu yang jatuh membunuh orang dan mengganggu aktivitas. Disiarkan bertubi-tubi tapi kekejamannya tak tampak pada sebab-sebabnya, yang mau tak mau menyangkut banyak jembatan penyeberangan, fasilitas-fasilitas umum lainnya, dan kinerja. Karena kita semua masih bisa melihat tak ada tindakan-tindakan spesifik setelah itu untuk pohon-pohon yang selalu roboh akibat hujan deras, fasilitas-fasilitas pejalan kaki, atau malah keamanan jembatan-jembatan yang lain yang masih digelayuti reklame-reklame.

Tiba-tiba banjir yang melanda kawasan Kemang juga redup sebab dan akibatnya, karena tiba-tiba media mengarah pada pengalihan kesalahan pada “bangunan di pinggir sungai”, dan “kegarangan” khas superhero yang dengan suara lantang akan membongkar bangunan penyebab banjir itu, dimana setelah itu media mendatangkan keredupan followupnya: Yang mulia tidak bisa membongkar bangunan itu karena alasan hak milik. Sekali lagi banjir dimaklumi jika dihadap-hadapkan dengan pemilik uang dan kuasa. Kita lalu seperti diterjang oleh pemakluman atas banjir-banjir karena sabotase atau kelalaian pihak lain. Kemacetan yang semakin parah menjadi ilusi pembangunan fasilitas yang memperjuangkan ketakmacetan. Seperti kemiskinan yang menjadi ilusi bagi perjuangan anti kemiskinan; pelacuran untuk anti pelacuran; ketakteraturan untuk keteratan; kehancuran untuk pembangunan.

Ilusi-ilusi itu sangat massive mencengkeram nalar sehat kita. Orang-orang meronta karena dihilangkan penghasilannya lalu akan diserang oleh orang-orang lainnya yang merasa mengerti situasi dari media-media meme: bahwa rusunawa lebih layak daripada rumah di pinggir kali. Sebuah penghinaan—sebenarnya—atas kesehatan nalar orang dewasa: bahwa memang lebih baik rusunawa yang masih baru dan bagus dibanding rumah pinggir kali. Penghinaan ini membuat pengalihan seolah-olah hanya itulah pilihan logikanya. Tidak dimaklumi analogi yang lain bahwa pemerintah wajib mencarikan sumber penghasilan bagi rakyatnya. Alih-alih mencarikan malah menghilangkannya. Bahwa yang menjadi masalah utama bukanlah penggusurannya, tetapi kelangsuran hidup setelah itu!

Beberapa orang berpendapat bahwa kemakmuran jutaan orang lebih utama daripada hidup segelintir orang. Betapa inhuman-nya membanggakan sunga-sungai yang mulai jernih dan mengabaikan nasib ribuan orang yang dihilangkan mata pencahariannya. Ini seperti melegalkan perampasan Amerika atas lapangan minyak di Iraq Qurna Barat (21 milyar barrel), Majnoon (13 Milyar barrel), dan Rumaila Irak (17 milyar barrel), yang hanya berpenduduk sedikit dibanding kepentingan warga Amerika dan Eropa yang lebih besar lagi.

Masyarakat yang satu lalu menjadi musuh bagi masyarakat lainnya yang ditengahi oleh media-media. Seperti seorang anak yang berteriak memohon pertolongan sambil menggapai-gapai di tengah arus sungai, diabadikan oleh ratusan orang dan hanya menjadi bahan tangisan dan like serta comment sedih di media sosial. Orang-orang miskin itu hanya menjadi komoditas berbagai bidang. Jika Anda hendak menjadi Presiden atau Gubernur, Anda tiba-tiba bergumul dengan kemiskinan itu. Cukup dengan berpose sambil memberikan satu kantong beras dan gula, Anda sudah menjadi pahlawan nasional, itu jika media bersama Anda: Anda akan dinarasikan sedang berbagi 1 juta kantong uang! Jangan khawatir setelah itu, Anda akan memegang kebenarannya, apapun ulasan-ulasan fakta setelah itu.

Media kemudian bergelayut di tengah-tengah fakta: orang-orang bisa menikmati hidup, makan lengkap tiga kali sehari, jalan-jalan memakai MPV atau motor merek jepang, tinggal di rumah—walau mungkin ngontrak, nongkrong di warung kopi sepulang kerja, menyekolahkan anak di sekolah yang baik. Punya paling tidak satu orang pembantu rumah tangga. Orang-orang ini terjepit di tengah-tengah inflasi dan gaya hidup. Menjadi penolong bagi dirinya sendiri, dengan empathy tangisan kepada sesamanya: lebih dari itu, maaf tidak ada waktu.

Di tengah-tengah ilusi itu, masyarakat media sosial—terutama—menutup mata atas geopolitik, yang berujung pada keamanan dan ketentraman (atau yang kita sebut sebagai keamanan nasional). Sebuah ujung yang akan terwujud apabila kelompok-kelompok daerah, suku, komunitas religius dan adat, merasa puas karena telah memiliki kesempatan (dengan keamanan tentunya) menghayati nilai-nilai, atau setelah ada kepastian bahwa penghayatan tersebut akan terlaksana. Ilusi lalu membuat ujung dari geopolitik ini tak penting: mau negara ribut kek, mau rakyatnya saling perang kek.

Geostrategi berbeda lagi. Dia adalah sesuatu yang hidup dan dinamis. Pemahaman setiap orang berbeda-beda mengenainya. Seperti gerobak bakso yang berisi semua yang dibutuhkan untuk berjualan bakso, itu adalah benda mati yang harus dijalankan oleh tukang bakso. Gerobak itu adalah geopolitik, sedangkan keahlian tukang bakso menjaga keamanannya dalam berdagang dan meraciknya adalah geostrategi. Sedangkan strategi untuk menjual dan meraciknya kembali adalah geoekonomi. Dalam hal ini, ilusi pun menghapusnya dari tujuan kepemimpinan, baik nasional maupun lokal. Orang seperti tidak peduli dengan akibat-akibat, yang dipedulikan hanyalah fakta-fakta media atau fakta-fakta personal.

Naom Chomsky dalam How The World Works menjadi tampak bodoh jika dihadapkan pada masyarakat yang terkena ilusi ini. Fakta yang dungkapkannya mengenai Grand Area dengan “fungsi spesifik”-nya, bahwa bahkan negara-negara industri pun masuk dalam agenda kekuasannya melalui “Lokakarya Agung” Jepang dan Jerman. Apalagi negara negara Dunia Ketiga, seperti Indonesia, yang diplot sebagai sebagai sumber bahan  mentah dan pasar bagi masyarakat industri kapitalis, untuk “dieksploitasi” demi rekonstruksi  Eropa dan Jepang. Dan bahwa setelah Grand Area itu timbul apa yang disebut sebagai “proxy war”, atau perang dengan memakai remote control. Bahwa di balahan dunia Grand Area itu sedang terjadi peperangan antara para penguasa kapital di bidang-bidang vital setiap negara, menguras seluruh kekayaan negara, sembari memunggungi kemiskinan yang sebenarnya. Tapi ilusi lalu membuatnya redup menjadi fakta-fakta media saja: semuanya tampak baik-baik saja di hadapan sungai-sungai yang menjernih.

Dengan ilusi ini, sesuatu yang kepentingannya lebih kecil (yang boleh jadi menyangkut hajat orang banyak) ditonjolkan, walaupun fakta yang sesungguhnya, ilusi ini membuat kelambatan, kemacetan, kesemrawutan, banjir, dan seterusnya menjadi dimaklumi. Sebaliknya, masalah besar menjadi tidak penting lagi untuk diperhatikan. Orang-orang seperti terlelap sembari menunggu hasil dari ilusi ini selama bertahun-tahun. Sementara orang-orang yang terkena dampak buruk dari ilusi tertelan oleh media-media.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s