Dikepung Ilusi


Illusion meets craziness
Illusion meets craziness

Kini, setelah pendidikan sudah menjadi barang biasa bagi pemenuhan kebutuhan primer bagi sebagian besar penduduk—disamping karut-marutnya penerapan metode pendidikan bagi rakyat jelata—masa depan Indonesia semakin, seperti kata Daoed Joesoef, buram oleh gejala-gejala yang destruktif, gaya pembangunan yang liberalistis dan ekstraktif, kontestasi politik dan rivalitas partai politik yang seperti menghipnotis masyarakat untuk saling berperang: di alam nyata maupun di dunia maya. Inilah yang kita sebut sebagai “gerakan kolonialisasi kaum terdidik”. Sebuah gerakan yang mirip “proxy war” bergaya lokal, yang—sadar atau tidak—mencabik-cabik nilai-nilai persamaan nasib, cita-cita, dan tujuan. Rakyat seperti menjadi garda terdepan dalam peperangan politik itu.

Dalam kajian sosialogis, rakyat seperti harus hidup di dalam apa yang disebut sebagai fakta sosial dalam satu pilihan saja, yaitu fakta sosial non materi yang berupa opini dan gagasan. Opini dan gagasan itu seperti mengepung masyarakat dari segala arah. Meskipun tak sedahsyat konspirasi gaya film hollywood, masyarakat seperti tak punya hak untuk mencari fakta-faktanya sendiri. Sedangkan fakta sosial lain yang berbentuk materi (yang dapat diindera secara fisik) mau tak mau berasal dari fakta sosial non materi itu, dimana gagasan dan opini-opinilah yang kemudian dipercaya menjadi fakta-fakta yang tak terhindari. Ujung-ujugnnya, institusi sosial dan struktur sosialnya pun adalah bentukan dari opini dan gagasan itu.

Anda semua bisa melihat bagaimana opini mengalahkan fakta itu menjadi kebenaran tak terbantahkan. Berusaha membantah kebenaran versi ini, Anda akan dituduh senewen atau gila. Anda akan dinyatakan senewen kalau menyatakan Jakarta masih banjir; padahal fakta (hasil opininya) adalah Jakarta sudah dinyatakan bebas dari banjir. Anda akan dinyatakan gila jika membahas pelanggaran reklamasi yang jelas-jelas dimoratorium itu; padahal fakta (hasil opininya) adalah reklamasi teluk Jakarta itu sah secara hukum. Anda akan dinyatakan gila jika membahas masalah kelangsungan hidup orang-orang tergusur; padahal fakta opininya adalah rusunawa itu lebih mewah daripada rumah di bantaran sungai. Anda akan dikatakan orang gila jika membahas kekurang-detailan Jokowi menangani fasilitas publik; padahal fakta opininya adalah Indonesia bebas banjir, bebas longsor, sebersih Jepang, tingkat pengangguran yang semakin berkurang, serta fasilitas publik yang serapih Singapura.

Itulah faktanya, semua kritikan kemudian dianggap sebagai ancaman yang dapat menggoyahkan fakta-fakta opini itu. Para quasi ilmuwan tak pernah absen memuji kesempurnaan para pemimpin yang dirasa ada pada pihak yang berseberangan dengan lawan ideologinya. Politik kemudian menjadi kelanjutan tak terhindarkan dari pertentangan madzhab-madzhab agama (dalam hal ini Islam).

Arena perdebatan halal-haram dilanjutkan dengan dukung-mendukung partai politik; karena madzhab Islam A tak boleh sejalan dengan madzhab Islam B, oleh karena itu partai politik yang diikuti oleh madzhab Islam A, akan dimusuhi oleh madzhab Islam B, yang diwujudkan dengan pembenaran tanpa syarat terhadap lawan dari madzhab B itu. Padahal, “fakta yang sesungguhnya” adalah politik itu tak ada hubungannya dengan moral (Nicollo Machievelli), sedangkan politisi adalah pembual yang baik, karena dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia sedang berbicara jujur (Bill Clinton). Kekuasaan adalah tujuan utama dari partai politik, tak lebih.

Achmad Khoiron Mustafit, Peneliti dan Guru Ngaji.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s