BERMAIN MUSIK HALAL


habib-luthfi

Dalam hal permainan musik dan penyanyi, ada sebagian ulama yang mengharamkannya, ada juga yang menghalalkannya. Dalil yang dipakai adalah hadis ini:

ليكونن من أمتي أقوام يستحلون الحر والحرير والخمر والمعازف

“Akan ada di kalangan umatku suatu kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamr, alat musik (al-ma’aazif).”

Hadis ini konon hadis muallaq dari Abi Malik atau Abi Amir al-Asy’ari. Meskipun hadis ini ada dalam shahih al-Bukhari tetapi dinyatakan sebagai hadis muallaq alias tidak bersambung ke Rasulullah SAW.

Ibnu Hazm menolaknya karena keterputusan sanadnya. Para ulama berkata bahwa sesungguhnya sanad dan matannya tidak selamat dari idthirab (kekacauan); sanadnya berputar2 atas Hisyam bin Ammar (Lihat al-Mizan dan Tahdzib al-Tahdzib). Hadis ini, oleh karenanya, didhaifkan oleh para ulama dzahiriyah, malikiyyah, Hanabilah, dan Syafi’iyyah.

Al-Qadhi Abu Bakar bin al-Arabi dalam al-Ahkām, hukum tahrim (pengharaman) dalam hadis ini tidak sah. Demikian juga al-Ghazali dan Ibnu Nahawi dalam al-Umdah. Bahkan Ibnu Thahir menyatakan bahwa hadis itu tidak benar walau satu hurufnya. Ibnu Hazm berpendapat bahwa hadis ini adalah hadis maudhu’.

Menurut Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, sebab ta’liq (menganggapnya muallaq)nya adalah mungkin al-Bukhari tidak mendengar hadis tersebut dari syaikhnya secara langsung tetapi dengan perantara. Bisa jadi perantara ini sesuai dengan syarat al-Bukhari, bisa juga tidak. Mungkin juga al-Bukhari mendengarnya langsung dari syaikhnya tetapi ragu dalam proses sima’nya. Atau mungkin juga al-Bukhari mendengarnya langsung dari syaikhnya selama proses mudzakarah bukan dalam rangka tahdis.

Fyi, dalam ilmu hadis, ada beberapa cara penerimaan dan penyampaian hadis (al-tahammul wa al-ada’). Lafadz ada’ yang melambangkan metode sima’ antara lain lafadz sami’tu atau haddatsani. Kedua lafadz ini menunjukkan bahwa perawi menjalani sima’ atau mendengar langsung dari syekh.

Lafadz akhbarani menunjukkan bahwa perawi menjalani qira’ah atau membaca di hadapan syekh. Lafadz anba-ani menunjukkan bahwa perawi menerima ijazah dari syaikh. Lafadz qala li atau zakara li menunjukkan bahwa perawi menjalani sima’ (mendengarkan) melalui jalan mudzakarah (Lihat Ahmad Muhammad Syakir, al-Baits al-Hatsis Syarh Ikhtishar U’lum al-Hadis li al-Hafidz Ibn Katsir).

Ada’ yang menunjukkan qira’ah (membaca) dihadapan syekh antara lain lafadz qara’tu ala fulan atau qaraa a’laihi wa ana asma’ fa aqarra bihi, seperti imam al-Nasai saat meriwayatkan hadis dari al-Harits bin Miskin. Ada juga lafadz lain yang dipakai selain qara’a alaihi, yaitu haddatsana qiraatan a’laihi.

Lafadz ada’ yang menunjukkan metode ijazah antara lain lafadz ajāza lī fulān, atau boleh juga dengan ibarat sima’ dan qiraah yang dikaitkan dengan ijazah seperti haddatsana ijazatan atau akhbarana ijazatan, serta lafadz anba-ana (lihat Mahmud Thahhan, Taisir Mushthalah al-Hadis)

Sedangkan Lafadz ada’ yang menunjukkan munawalah (yaitu seorang ahli hadis memberikan sebuah naskah asli kepada muridnya atau salinan yang sudah dikoreksinya untuk diriwayatkan) antara lain nāwalani atau nalāwalani wa ajāza lī jika disertai dengan ijazah. Boleh juga dengan ibarat sima’ atau qira’ah yang dikaitkan dengan lafadz munāwalah, seperti haddatsana munāwalatan dan akhbarana munāwalatan wa ijāzatan.

Lafadz ada’ yang menunjukkan metode mukātabah (yaitu guru menulis dengan tangannya sendiri atau meminta orang lain menulis darinya sebagian haditsnya untuk seorang murid yang ada dihadapannya atau murid yang berada di tempat lain lalu guru itu mengirimkannya kepada sang murid bersama orang yang bisa dipercaya)
antara lain kalimat kataba ilayya fulan atau dengan ibarat sima’ atau qira’ah yang dikaitkan dengan lafadz mukatabah seperti haddatsani atau akhbarani kitābatan.

Lafadz ada’ yang menunjukkan metode i’lam dari syaikh (yaitu seorang syaikh memberitahukan kepada muridnya bahwa hadits tertentu atau kitab tertentu merupakan bagian dari riwayat-riwayat miliknya dan telah didengamya atau diambilnya dari seseorang) seperti a’lamani syaikhi bikadzā.

Matan (naskah) serupa ada kitab2 seperti Shahih Ibnu Hibban, al-Thabrani dalam al-Kabir dan al-Syāmiyyīn, Da’laj al-Sajzi dalam al-Muntaqā, Abu Nuaim al-Isfahani dalam al-Ma’rifah, Sunan al-Bayhaqi, Tarikh Ibnu Asakir, dst.

Intinya, hadis mengenai haramnya musik dan penyanyi ada banyak ulama yang mengatakannya sebagai hadis muallaq. Meskipun, Ibnu Hajar berpendapat bahwa jika al-Bukhari memasukkam hadis kedalam kitabnya yang bernama al-Jāmi’ al-Shahīh, maka hadis itu tidak diragukan keshahihannya, dan hadis ma’āzif ini masuk di dalam kitab tersebut. Terimakasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s