SAUDI-EROPA-ISRAEL-AMERIKA DARI DULU ADALAH SAUDARA SEPERJUANGAN


Banyaklah membaca, maka pikiranmu akan openminded.
Banyaklah membaca, maka pikiranmu akan openminded.

Banyak yang sepertinya bingung kenapa kok ujug-ujung Arab Saudi dijelek-jelekkan. Tak sedikit yang bertanya bukankah dia adalah negara Islam, yang menjadi pusatnya Islam? Bukankah itu adalah kerajaannya Nabi Muhammad? Baiklah, saya akan bercapek-capek ria menjelaskannya sedikit, agar saya tidak penasaran. Eh salah, agar yang penasaran tidak penasaran lagi.

Ingatkah Anda di akhir 2014? Ali al-Naimi pernah memberikan pernyataan yang direkam oleh hampir seluruh media. Pernyatannya begini: “Yang Mulia Raja Abdullah selalu menjadi model untuk hubungan baik antara Arab Saudi dan negara-negara lain, tidak terkecuali negara Yahudi.” Baru-baru ini, penerus Abdullah, Raja Salman menyatakan keprihatinan untuk Israel atas perjanjian program nuklir antara Amerika Serikat dan Iran. Ini lalu menyebabkan Israel dan KSA semakin bersatu untuk menentang kesepakatan nuklir tersebut. Ini bukan pertama kalinya Zionis dan Saudi bersatu melawan musuh yang sama. Dahulu, di Yaman Utara pada 1960-an, Arab Saudi yang membiayai imperialis Inggris mengirim tentara bayaran melawan republiken revolusioner berkuasa setelah menumbangkan pemimpin otoriter, Imam. Kaum republiken dibackup oleh Gamal Abdul-Nasser, sedangkan persenjataan Inggris dibiayai oleh Saudi. Inggris mengorganisir Israel untuk mensuplai senjata untuk pasukan Inggris di Yaman Utara. Inilah pertama kali Inggris, Zionis, dan Saudi, bersama-sama mengeroyok Yaman Utara. Sekarang, perang yang dikobarkan oleh Saudi ke Yaman pun judulnya sama, melakukan pengeroyokan atas dasar persaudaraan antara Israel-Eropa-Saudi-Amerika.

Sebuah studi illuminati oleh Dr. Askar H. al-Enazy, berjudul, The Creation of Saudi Arabia: Ibn Saud Ibn Saud and British Imperial Policy, 1914-1927, menerangkan bahwa kekalahan Kekaisaran Ottoman oleh imperialisme Inggris dalam Perang Dunia Pertama meninggalkan tiga otoritas yang berbeda di jazirah Arab: Sharif dari Hijaz: Hussain bin Ali dari Hijaz (di barat), Ibnu Rashid dari Ha’il (di utara) dan Emir Ibn Saud dari Najd (di timur) beserta para pengikut Wahhabi.

Dibackup oleh Inggris, Ibn Saud melakukan perang di awal Januari 1915, tapi kalah, dimana temannya dari Inggris, William Shakespear, dibunuh oleh sekutu Kekaisaran Ottoman Ibn Rashid. Lalu, Sharif (keturunan Nabi) mengalahkan Kekaisaran Ottoman dalam ‘Pemberontakan Arab’ pada Juni 1916. Sejak itu Turki terhapus permanen dari Saudi. Namun begitu, rupanya Sharif tidak berperang sendirian, dia dibackup secara pengetahuan oleh Henry McMahon, Komisaris Tinggi Inggris di Mesir, yang meyakinkannya—melalui korespondensi—bahwa negara Arab akan terbentuk dari Gaza sampai Teluk Persia, jika Turki dikalahkan. Korespondensi antara Sharif Hussain dan Henry McMahon inilah yang dikenal sebagai McMahon-Hussain Correspondence. Tapi Anda harus tahu, backup-nya ya sekedar pengetahuan saja, tidak lebih dari itu.

Setelah perang usai, Inggris ingin Sharif menerima kenyataan bahwa Kekaisaran yang dimenangkannya merupakan pembagian antara Arab dan Perancis (seperti yang tertuang dalam perjanjian Sykes-Picot). Inggris pun ingin Deklarasi Balfour (deklarasi antara Menteri Luar Negeri Britania Raya/Inggris; Arthur James Balfour, kepada Lord Rothschild (Walter Rothschild, 2nd Baron Rothschild), dilaksanakan, yaitu perjanjian yang menjamin negara bagi orang-orang Yahudi di Palestina yang akan dieksekusi oleh kolonisasi Yahudi Eropa. Realitas baru ini terkandung Perjanjian Anglo-Hijaz. Tapi Sharif menolak menandatanganinya. Untuk itu Sharif sudah dicap sebagai orang yang membangkang.

Setelah Konferensi Kairo Maret 1921, di mana Sekretaris Kolonial baru Winston Churchill bertemu dengan semua operator Inggris di Timur Tengah, T.E. Lawrence (dari Arabia) diutus untuk menyuap dan menggertak Syarif agar mau menerima proyek pendirian negara Zionis Inggris di Palestina. Dari menawarkan uang 80.000 rupee, sampai menawarinya pembayaran tahunan sebesar £ 100.000, Sharif tetap menolak. Saat itulah Lawrence mengancam Sharif akan menggandeng Ibn Saud. Lawrence menyatakan bahwa bahwa kelangsungan hidup Hijaz sebagai kerajaan Hasyimi sepenuhnya tergantung pada kemauan politik dari Inggris. Lawrence pun mengunjungi Ibn Saud dan Wahabinya agar mau melawan Sharif. Di lain pihak, Churchill melakukan perjalanan ke Yerusalem dan untuk membujuk anak Sharif, Abdullah, yang adalah Emir (penguasa) dari wilayah baru yang disebut “Tranjordan”. Abdullah pun menolaknya.

Inggris pun menawari Ibn Rashid hal yang sama, tetapi dia menolak semua tawaran dari Kerajaan Inggris itu. Ibn Rashid malah memperluas wilayahnya ke utara ke perbatasan Palestina dan perbatasan Irak pada 1920. Hal ini membuat khawatir Inggris. Pada Konferensi Kairo, Churchill setuju dengan seorang perwira kekaisaran, Sir Percy Cox bahwa “Ibn Saud” harus ‘diberi kesempatan untuk menduduki Hail.” Pada akhir tahun 1920, Inggris memberi kucuran dana kepada Ibn Saud setiap bulan sebesar £ 10.000 dalam bentuk emas. Ibnu Saud juga menerima banyak pasokan senjata, dengan total lebih dari 10.000 senjata. Akhirnya, pada bulan November 1921 Ibnu Saud menjadi “Sultan Najd “. Ha’il benar-benar tergantung pada Kekaisaran Sultan Najd.

Sejak 1919, Inggris mengurangi subsidi kepada Hussain secara bertahap, sementara pada saat yang sama terus mensubsidi Ibn Saud. Setelah lebih tiga putaran perundingan di Amman dan London, Inggris sadar bahwa Hussain tidak akan pernah melepaskan Palestina untuk proyek Zionis Inggris. Pada bulan Maret 1923, Inggris memberitahu Ibn Saud bahwa dia akan menghentikan subsidi, tapi dengan memberi hibah di muka sebesar £ 50.000. Pada September tahun 1924, Ibn Saud menyerbu ibukota Thaif. Ibn Saud dan Wahhabinya melakukan pembantaian atas banyak orang, yang adalah keturunan Raulullah, menyembelih wanita dan anak-anak serta pergi ke masjid dan membunuh para ulama. Mereka dibantai di Mekkah, pada pertengahan Oktober 1924. Sharif Hussain dipaksa turun tahta dan pergi ke pengasingan ke Hijaz. Ibn Saud lalu mengepung Hijaz. Ibn Saud lalu mengepung Jeddah pada bulan Januari 1925 dan kota akhirnya menaklukannya pada Desember 1925, yang artinya mengakhiri lebih dari 1000 tahun pemerintahan oleh keturunan Nabi Muhammad. Inggris secara resmi mengangkat Ibn Saud sebagai Raja baru Hijaz pada bulan Februari 1926. Negara Wahabi baru ini diberi nama sebagai “Kerajaan Arab Saudi” (KSA) pada 1932.

Kesimpulannya? Yo wes ambil kesimpulan sendiri-sendiri, masak sudah sepanjang ini ceritanya terus masih menganggap Saudi Arabia itu kerajaannya Nabi? Ngoten nggih….

Sumber: Gary Troeller, “The Birth of Saudi Arabia” (London: Frank Cass, 1976), Askar H. al-Enazy, “The Creation of Saudi Arabia: Ibn Saud and British Imperial Policy, 1914-1927” (London: Routledge, 2010), David Howarth, “The Desert King: The Life of Ibn Saud” (London: Quartet Books, 1980), Eugene Rogan, “The Arabs: A History”, (London: Penguin Books, 2009).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s