PERIHAL AMANAH PADA PEMAKAMAN ALTRUISM


"Menjadi Pandawa atau Kurawa adalah pilihan. Dan pilihan terbaik adalah pilihan yang membuatmu menjadi manusia berakhlak baik dan mampu menebarnya dengan damai."
“Menjadi Pandawa atau Kurawa adalah pilihan. Dan pilihan terbaik adalah pilihan yang membuatmu menjadi manusia berakhlak baik dan mampu menebarnya dengan damai.”

Taifun Chaba membuat Ulsan dan Busan banjir berantakan. Taifun itu menuju Jepang; orang-orang Jepang tidak mengerti cara menanggulanginya selain mengungsi. Badai Mathew juga mencabik-cabik Kuba dan Haiti, membunuh belasan nyawa, mengusir kedamaian manusia dari rumah mereka; dia menuju pesisir tenggara Amerika.

Tak seperti kehandalan mereka dalam menghasut manusia untuk berperang demi judul yang mereka pilih, seperti di Yaman, Suriah, Iraq, Libya, Afghanistan, negara-negra Amerika Latin, dan berbagai proxy war yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari–tanpa kita sadari, ribuan orang Amerika mengungsi menghindari badai yang mengambil nama anak-anak mereka itu. Hanya karena Mathew dan Chaba, bangsa-bangsa hebat itu mengambau tanpa syarat.

Apakah kita harus menjadi badai agar konspirasi perang bangsa-bangsa bengis itu bisa dihentikan? Padahal kata Nabi SAW kita ini seperti tanaman, angin menerpa kita ke kiri dan ke kanan, bahwa kita sebagai mukmin senantiasa mengalami cobaan. Mengenai hal ini, guru Semar pernah ngendikan, itu hadis tentang cobaan naik kelas sebagai manusia langit, yaitu agar kita dapat memiliki pilihan-pilihan setidaknya alamnya para malaikat. Menurut guru Semar, menjadi badai itu wajib di tengah kepongahan angin-angin kecil yang menjadi momok bagi kemanusiaan dan keindahan. Bukankah Allah itu Mencintai keindahan yang mengindahkan daripada keindahan yang angkuh dan egois?

Menurut mas Petruk, manusia itu harus mengambil jalan “fatruk siwallah”, seperti essensi Fihi Ma Fihi-nya Maulana Jalaluddin Rumi. Di dalam ajaran “fatruk” itu terkandung semangat Gareng yang selalu ingin menjadi Qarin atau teman sejati.

Apa teman sejati kita? Teman sejati manusia adalah amanah yang dahulu permah diembankan kepada langit, gunung, dan bumi, tapi ditolak. Amanah itulah yang membuat makhluk bertubuh mirip homosapiens ini menjadi manusia. Amanah itulah yang membuat gunung-gunung yang tanah tandus menjadi hijau; sawah yang mengering menjadi sesuatu yang menghasilkan, dan jalan-jalan yang terputus menjadi saling terhubung.

Demikian juga teknologi, dengan amanah yang diemban, manusia menciptakan kemajuan dan kesejahteraannya. Itulah yang disebut sebagai al-ishlah, atau perbaikan dengan kebaikan (keshalihan).

Sampai akhirnya datang anak-cucu Qabil yang membawa sesuatu yang bernama pengkhianatan. Lahirlah semua yang dinamakan kontra kebaikan. Orang-orang dengan pengetahuan dan ilmunya yang semakin tinggi, menciptakan peradaban yang tinggi pula, peradaban yang meyakini telah membuang altruism jauh di dasar bumi.

Ayn Rand dalam Faith and Force: The Destroyer of Modern World, menulis bahwa 3 nilai yang dipegang oleh manusia selama berabad-abad sekarang telah mati: mysticism, collectivism, altruism. Mysticism–sebagai kekuatan kultural –telah mati setelah kelahiran Renaissance. Collectivism–sebagai idealisme politik–telah dikebumikan setelah Perang Dunia II usai. Altruism–adalah sesuatu yang tak pernah hidup. Bagi orang Barat, ini adalah racun mematikan bagi peradaban. Maka, bagi mereka, menurut Ayn, jika peradaban mau bertahan hidup, maka moralitas altruism harus dibuang jauh-jauh.

Jadi, antara amanah dan kontra amanah inilah yang sekarang berkelindan tanpa penengah. Nabi SAW mengajarkan bahwa amanah itu telah lama tercabut, dari hati setiap manusia, kecuali manusia-manusia yang pandai, cerdas, dan tabah. Inilah 3 hal yang membuat altruisme itu tak mati, dimana tanpa kepandaian, seseorang sulit berpikir cerdas. Tanpa ketabahan, kecerdasan manusia tak akan melahirkan amanah. Sungguh ketiga hal inilah yang justru jarang kita temui ada secara bersama-sama.

Maka jangan heran jika modernitas malah membuat orang lebih senang beraksi seolah-olah. Seperti angin kentut yang datang tak diundang, dia sebenarnya adalah penyakit bagi kenyamanan kita, tapi ilmu seolah-olah merubahnya menjadi obat anti kanker yang sangat ampuh. Alih-alih menghindari menyakiti orang lain dengan bau busuknya, orang berperadaban lebih memilih altruism seolah-olah ini: memberi obat kanker gratis kepada orang miskin, hahaha… tapi saya tidak sedang geguyon, karena memang begitulah faktanya; berbagai alasan dimanfaatkan untuk dijadikan cover bagi kenyataan yang sesungguhnya. Menjual senjata ditutup dengan bantuan militer; perampokan uang negara lewat kolusi ditutupi dengan tender terbuka; penjarahan hak-hak rakyat dikaburkan dengan aktivitas dan kebijakan politik, persaingan politik ditangkupi dengan dalil-dalil kemanusiaan bahkan agama.

Dengan demikian, hanya taifun-lah yang presensinya tidak membawa kedok. Kedatangnya dapat dideteksi dengan bahana, tanpa cover atau sangai. Orang-orang yang bertipe taifun ini mengerti keahlian dan kualitasnya, mereka tak perlu menghindari faham-faham, karena faham-faham itu sudah dikuasainya dengan baik. Dia menundukkan pertikaian diantara pemilik faham-faham itu. Dia tak merasa perlu menghindarinya. Sementara angin-angin kentut selalu memilih orang-orang lemah untuk dijadikan korban kebasiannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s