PERANG SAUDARA DAN PERAMPOKAN NEGARA ATAS NEGARA


Minyak membuat negara-negara besar bertahan, walaupun harus dengan menjarah kehidupan bangsa dan negara lain.
Minyak membuat negara-negara besar bertahan, walaupun harus dengan menjarah kehidupan bangsa dan negara lain.

Banyak orang yang lā yadri bingung merangkai jalan hidup, lalu dengan kebingungannya menghubung-hubungkan apa yang sesungguhnya tidak ada hubungannya. Merasa bangga dengan men-capture satu meme atau berita online jadikan sebagai referensi, mengalahkan belasan bahkan puluhan referensi yang sengaja dikumpulkan untuk mengupas satu berita tadi.

Bagaimana Anda bisa hidup membusungkan dada dengan keterbatasan referensi itu? Luaskanlah bahan bacaanmu dengan meluangkan waktu lebih banyak membaca dan berpikir daripada melihat-lihat media social setiap detik. Mari kita berjalan-jalan kearah kehancuran negara-negara yang direncanakan dengan baik oleh negara-negara rujukan demokrasi.

Kita mulai dari Yaman. Dina Sulaeman dalam artikel “Ada Apa Dengan Yaman?”, menyatakan bahwa dahulu, Presiden Saleh itu gemar berperang dengan dengan rakyatnya sendiri, seperti kelompok Salafi yang dipimpin oleh Tareq Al Fadhli, lalu Partai Islah pimpinan Mohsen Al Ahmar, mantan Jendral Saleh, kemudian AQAP (Al Qaeda Arab Peninsula) yang dipimpin oleh warga Arab Saudi didikan Amerika Alumni Guantanamo Abu Sayyaf al-Shihri dan Abu al-Harith Muhammad al-Awfi, kemudian kelompok Houthi yang bermadzhab Syiah Zaidiyah, dan penerus Imam Yahya mantan penguasa Yaman Utara yang digulingkan oleh Inggris bekerjasama dengan Ikhwanul Muslimin. Sedangkan kemiskinan semakin parah.

Pada tahun 2011, rakyat Yaman (maksudnya semua rakyat Yaman, bukan hanya Houthi) berdemonstrasi menuntut pengunduran Presiden Saleh. Saleh yang telah berkuasa 33 tahun pun terguling, dan melarikan diri ke Arab Saudi, digantikan oleh Mansur Hadi.

Walaupun Saleh sudah terguling, yang berkuasa di Yaman tetap saja elit-elit lama, termasuk Al Qaida. Faksi-faksi yang banyak berjuang dalam upaya penggulingan Saleh justru disingkirkan, termasuk suku Houthi (gerakan Ansarullah). Setelah itu, sejak Agustus 2014, Ansarullah mengadakan demo besar-besaran yang diikuti oleh rakyat umum, tidak sebatas suku Houthi, menuntut diturunkannya harga BBM dan reformasi politik. Perdana Menteri Salim Basindwa mundur dari jabatannya, sedangkan Presiden Mansur Hadi bersedia menandatangani perjanjian dengan Ansarullah, yang isinya Mansur membentuk pemerintahan baru yang melibatkan Ansarullah dan semua partai politik. Tapia pa lacur, Mansur Hadi memilih lari ke Arab Saudi dan meminta bantuan militer dari Saudi. Sejak 26 Maret 2015, Arab Saudi dibantu negara-negara Teluk dan Israel, serta didukung oleh AS membombardir negaranya sendiri, Yaman.

Seperti yang pernah dikatakan oleh Zbignew Brzesinski, mantan penasehat keamanan nasional AS, bahwa Timur Tengah adalah tuas pengendali untuk wilayah Balkan Eurasia, yang meliputi Georgia, Armenia, dan Azerbeijan, Turkmenistan, Afghanistan, Kyrgistan, Uzbekistan, Tajikistan, dan Kazakhstan. AS sendiri sangat ngebet ingin menguasai jalur Bab-El-Mendeb, Teluk Aden, dan Teluk Socotra (yang sekarang menjadi pangkalan militernya) yang terletak di Yaman. Ini adalah jalur penting yang menjadi lalu-lintas kapal-kapal tanker pembawa minyak dari Teluk Persia ke Eropa melewati Terusan Suez. Bila Anda masih mengatakan bahwa perang di Yaman itu adalah perang Saudara, Anda kebangetan.

Kita beralih ke Suriah. Awal dari masalah di Suriah adalah kesepakatan pemerintah Suriah, Iran, dan Irak menandatangani perjanjian pipa gas. Rencananya, pipa ini dialirkan dari Pelabuhan Assalouyeh Iran, dekat lapangan gas Pars Selatan di Teluk Persia, menuju ke Damaskus di Suriah melalui wilayah Irak. Iran berencana memperpanjang pipa dari Damaskus ke pelabuhan Mediterania Lebanon, yang akan dikirim ke pasar Uni Eropa. Qatar bernafsu menghancurkan kerjasama gas Suriah-Iran-Irak karena penemuan lapangan gas yang sangat besar oleh perusahaan eksplorasi Suriah di Qara di perbatasan Lebanon, dekat dengan pelabuhan Angkatan Laut yang disewa Rusia di Tarsus, daerah Suriah Mediterania. Setiap ekspor gas Suriah atau Iran ke Uni Eropa akan melalui pelabuhan Rusia di Tarsus ini. Menurut informasi sumber Aljazair, penemuan gas Suriah ini diyakini sama atau melebihi sumber yang ada di Qatar.

Salah satu negara yang memiliki banyak keuntungan dari menyingkirkan Assad adalah Turki. Presiden Turki Erdogan menginginkan Presiden Suriah mundur, dan meracik ISIS, sebagai proxy AS, mengacau di Suriah. Alasan dibalik semua itu adalah gas. Turki, yang berdiri di persimpangan Asia dan Eropa, bisa memfasilitasi pergerakan pasokan gas dari Timur Tengah ke Eropa. Sebagai hub, Turki mendapat manfaat dari biaya transit dan pendapatan yang dihasilkan energi lainnya. Hal itulah yang membuat Turki menandatangani kerjasama pembangunan pipa bawah laut dengan Israel. Sementara Qatar, sebagai salah satu negara yang bergantung kepada Rusia untuk urusan gas, dapat membebaskan dari ketergantungan ini akan menjadi bonus tambahan. Semua ini bisa terwujud jika pipa melewati Turki, dan Assad menyetujuinya, atau Assad habis sekalian.

Masalah di balik Suriah dan Yaman adalah kerakusan ingin menguasai sumber gas dari Negara lain. Waktu kecil, orang-orang tua kita mengajarkan bahwa yang seperti ini adalah perampokan. Agama pun mengatakan bahwa ini adalah perampokan atau penjarahan. Jika Anda masih ingat itu dan masih mempercayainya, maka ini memang perampokan.

Lalu kita ke kembali ke masa Iraq. William Clark, MBA, MS, Manager of Performance Improvement di Johns Hopkins University, dalam MediaMonitors.net pada tanggal 15 Februari, 2003 dalam artikel yang berjudul “Revisited – The Real Reasons for the Upcoming War With Iraq: A Macroeconomic and Geostrategic Analysis of the Unspoken Truth,” menyatakan bahwa meskipun tidak dikabarkan oleh media AS, jawaban atas mesin enigma dari Irak itu sangat sederhana tapi mengejutkan, bahwa perang di Iraq itu adalah perang mata uang. Salah satu alasan perang itu adalah tindakan preventif yang sangat keras atas usaha OPEC menggunakan mata uang Euro sebagai mata uang standardnya. Untuk mencegah OPEC, AS merasa perlu mengambil tindakan geostrategic untuk mengontrol Iraq bersama dengan dua sumber minyaknya (maksudnya merampok sumber minyak itu).

F. William Engdahl, seorang konsultan ekonomi dan pengarang buku A Century of War: Anglo-American Oil Politics and the New World Order, menyatakan pada tanggal 13 Oktober 2003 daam sebuah artikel yang berjudul “A New American Century? Iraq and the Hidden Euro-dollar Wars”, menyatakan bahwa sampai dengan November 2000, tidak ada negara OPEC yang berani menentang aturan harga dollar. Selama Dollar adalah mata uang terkuat, maka tak ada alasan untuk melakukan penentangan. Tetapi, pada bulan November itu, Prancis dan negara Eropa lainnya berhasil meyakinkan Saddam Hussein untuk menentang Dollar dengan menjual minyak bukan dalam Dollar, yang disebut sebagai mata uang musuh oleh Iraq pada saat itu. Pada bulan-bulan sebelum perang Iraq, terdengar kabar dari Russia, Iran, Indonesia, bahkan Venezuela, yang mengidikasikan bahwa perang Iraq itu membawa pesan kepada negara OPEC dan yang lainnya agar jangan bermain api dengan menelantarkan system petro-dollar. Iraq, kata Engdahl, bukanlah masalah senjata kimia atau senjata nuklir menghancur massa. Senjata penghancur massa yang sebenarnya adalah ancaman bahwa negara-negara lain akan mengikuti Iraq berpindah ke Euro dengan meninggalkan Dollar. Inilah yang bisa menciptakan penghancuran massa bagi hegemoni AS atas perekonomian dunia.

William Engdahl dalam Journal-neo.org dalam artikel Saudis Have Lost the Oil War, mengungkap sebuah hal penting 1 tahun setelah Project for a New American Century (PNAC), Jendral Wesley Clark, pada bulan Maret 2007, berpidato di hadapan Commonwealth Club of California di San Francisco, menceritakan tentang diskusi Pentagon yang pernah dialaminya setelah serangan 11 September 2011 yang menyerang gedung World Trade Center dan Pentagon dengan seseorang di kantor Menteri Pertahanan.

10 hari setelah serangan 911, Clark mendengar dari Rumsfeld. Ini ketika Osama bin Laden adalah musuh besar dari Sosialis Baathist. Saddam saat itu disalahkan atas serangan 911, padahal tidak ada hubungan antara Saddam dan serangan itu. Beginilah kata Clark mengutip percakapannya dengan Rumsfeld.

“Kita telah membuat keputusan untuk menyerang Iraq.” Ini terjadi pada 20 September atau sekitar itu. Saya katakana, “Kita akan menyerang Iraq? Kenapa?” Dia menjawab, “Saya tidak tau.” Dia berkata, “Saya kira mereka tidak tau apa lagi yang harus dilakukan.” Lalu saya katakana, “Jadi, kita harus mencari informasi yang menghubungkan antara Saddam dengan al-Qaeda?” Dia berkata, “Jangan, jangan.” Dia berkata, “Tidak ada yang baru mengenai itu. Pokoknya kita putuskan memerangi Iraq.”

Wesley memutuskan untuk menemuinya seminggu kemudian, dan pada saat itu, Amerika sedang memborbardir Afghanistan. Saya berkata, “Apakah kita masih ingin memerangi Iraq?” Dia berkata, “Akan lebih buruk dari itu.” Dia mengambil secarik kertas dan berkata, “Saya barusaja mendapatkan ini.” Dia melanjutkan, “Memo ini menggambarkan bagaimana kita akan mengambil alih 7 negara dalam 5 tahun, dimulai dari Iraq, lalu Syria, Lebanon, Libya, Somalia, Sudan, dan yang terakhir Iran.

Peperangan demi peperangan ini, atau usaha-usaha untuk perang yang dilakukan oleh militer AS adalah untuk mengontrol minyak dunia, seperti yang diungkapkan oleh Cheney dalam istilah “where the prize ultimately lies.”

Di Libya pun kira-kira demikian, sebuah rahasia terbuka dari data email Hillary Clinton yang menujukkan bahwa dukungan Nato kepada pemberontak itu adalah karena rencana Libya membuat mata uang berbasis emas, yang dinamakan dengan Pan African Currency berbasis Dinar Libya, untuk melawan mata uang Euro dan Dollar. Sarkozy memperkirakan Libya memiliki cadangan emas sebanyak 143 ton dan perak juga dalam jumlah yang tidak jauh berbeda. Dalam email itu, tindakan Qaddafi ini masuk dalam kategori subversi yang harus dihukum dengan agresi militer. Email itu pun mengidentifikasi Sarkozy sebagai orang yang memimpin penyerangan dengan 5 tujuan utama: mencapai sumber minyak Libya, memastikan pengaruh Prancis dalam kawasan, meningkatkan reputasi Sarkozy secara domestic, mendeploy kekuatan militer Prancis, mencegah pengaruh Qaddafi dalam rencana yang disebut sebagai Francophone Africa.
Jadi, tidak ada itu perang sesama muslim, yang ada adalah perang yang dibuat oleh imperium minyak dengan berbagai alasan, termasuk alasan ekonomi yang berkaitan dengan mata uang, untuk merampok negara-negara kaya minyak. Kebetulan negara-negara itu disebut sebagai Timur Tengah Raya oleh Zbignew Brzesinski, yaitu sebagai tuas pengendali wilayah Balkan Eurasia. Maka logis jika Donald Rumsfeld merencanakan untuk menguasai 7 negara Arab, karena dengan menguasainya, maka negara-negara Eruasia, yaitu negara Asia Tengah dan Kaukasus, teramasuk Rusia, tak bisa berkutik lagi secara ekonomi. Teluk Aden dan Selat Bab El Mandeb, misalnya– sebagai salah satu selat strategis dunia, membuat siapa pun yang menjarahnya dari Yaman menguasai jalur pelayaran tersibuk dan perairan Laut Merah, mengingat posisinya terhubung dengan semua negara di lepas pantai Laut Merah dan negara-negara yang menggunakan Laut Merah sebagai rute transportasi laut terpendek. Itulah yang dikatakan oleh Rumsfeld kepada Wesley bahwa Soviet tidak dapat lagi mengintervensi AS. Bahkan, kata Rumsfeld, jika dia menguasai 7 negara Arab itu, AS bisa membersihkan Soviet tua itu dari kawasan yang membuat banyak masalah di AS.

Bagaimana dengan Indonesia? Apakah Anda menginginkan sebagian kelompok garis keras bisa mengacak-acak kedamaian Indonesia atas nama Jihad? Atau kita membiarkan sebagian kelompok lain bermain di balik tirai yang secara pasti menguasai jalur-jalur ekonomi Indonesia? Saya rasa, kita harus bijak menyikapinya. Ada banyak kejadian absurd di negeri ini, dari dipermasalahkannya seorang ulama seperti Said Agil Siradj bergabung di YPP. Sebagian besar orang menyalahkan langkah ini, bahwa seorang kyai tidak boleh melacurkan dirinya kepada orang kafir, hingga fenomena pembelaan atau penyalahan absolut atas Jokowi-Ahok tanpa ada celah untuk membela atau mengkritik: 1 pihak selalu menyalahkan, pihak lain selalu membenarkan. Hey, apakah Anda pikir sebagian besar kita ini sedang apa di negeri ini? Kita semua sedang dikuasai kekuatan asing. Menurut Prof. Pratikno, Aset di bidang perbankan Indoensia telah dikuasai oleh asing lebih dari 50 persen. Di sector migas dan batu bara asing menguasai 70-75 persen; di sector telekomunikasi asing menguasai 70 persen. Lebih parah lagi adalah pertambambangan hasil emas dan tembaga, penguasaan asing mencapai 80-85 persen. Bahkan, di sector perkebunan dan pertanian, asing menguasai 40 persen.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s