LIL WASAIL HUKMU AL-MAQASID: PELAJARAN UNTUK FATWA NGAWUR FELIX SIAUW


"Mikir!"
“Mikir!”

Anda ngaku orang Islam tapi tidak punya pegangan yang pasti mengenai Islam, sama saja seperti orang ngaku artis sinetron tapi gak pernah syuting sinetron. Namanya itu artis kasarung alias artis lutung. Dalam islam itu ada 2 pegangan: dalam bermuamalah dan dalam beribadah. Dalam bermuamalah atau pergaulan sosial, kaidah yang dipakai adalah:

الأصل فى الإشياء الإباحة مالم يقم الدليل على تحريمه

“Segala sesuatu boleh dilakukan selama belum ada dalil yang menunjukkan keharamannya.”

Ini bukan berarti jika Anda tidak mengerti apa-apa tentang hukum Islam lalu Anda boleh melakukan apa saja. Kaidah ini berlaku sebagai pegangan para ulama dalam mengajarkan hukum-hukum Islam. Kaidah ini berkaitan dengan hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abu Darda’ yang artinya:

“Sesuatu yang dihalalkan Allah, maka halal hukumnya dan sesuatu yang diharamkan Allah, maka haram hukumnya. Sedangkan sesuatu yang tidak disebutkan Allah, berati anugerah dari-Nya, maka terimalah anugerah Allah. Karena sesungguhnya Allah tidak pernah melupakan sesuatu pun.”

Sedangkan dalam beribadah, kaidah yang dipegang adalah:

الأصل فى العبادة البطلان حتى يقوم الدليل على الأمر

“Hukum asal dalam ibadah mahdhah adalah batal sampai ada dalil yang memerintahkannya.”

Artinya, segala macam ibadah Anda, dari shalat, hajji, zakat, puasa, itu ada aturannya. Anda tidak bisa melakukan ibadah-ibadah mahdhah itu serampangan tanpa aturan. Anda tidak boleh mengatakan, “Yang penting ikhlas. Yang penting niatnya.” Menurut hukum fiqih (yaitu hukum-hukum yang digali dari al-Quran dan sunnah Nabi SAW), ibadah-ibadah yang dilakukan tanpa aturan itu hukumnya tidak sah.

Dalam Islam ada dua hal yang harus dibedakan, yaitu al-maqashid (tujuan) dan al-wasail (cara untuk mencapai tujuan). Tujuan sendiri bertingkat-tingkat, mulai dari yang sangat abstrak seperti mencapai keridhaan Allah, sampai dengan menjaga maqashid syariah seperti menjaga akal, umat, diri, agama, keturunan, dan harta. Shalat wajib dan sunnah, puasa wajiba dan sunnah adalah cara untuk menjaga agama. Persatuan umat dan ukhuwah, makan-makanan yang halal dan bergizi, menuntut ilmu, menikah, dan menjalankan usaha yang halal adalah cara-cara yang untuk menjaga maqashid syariah yang lainnya. Hukum-hukum yang dapat menyampaikan orang untuk melaksanakan hal-hal yang wajib atau sunnah dalam setiap perbuatan disebut sebagai fathu al-dzariah. Sebaliknya, segala yang diharamkan agar mencegah orang untuk sampai kepada kerusakan disebut sebagai saddu al-dzariah. Misalnya dilarangnya ada dua imam dalam satu shalat itu mencegah agar tidak terjadi perselisihan dalam shalat.

Dalam rangka melaksanakan muamalah atau ibadah mahdhah ini, orang bisa saja–secara simultan–melakukan pelanggaran terhadap ketentuan Allah yang lain. Misalnya, pada saat melakukan ibadah haji (yang adalah kewajiban yang benar) seseorang asik berselfie-selfie dengan tujuan agar dipuji orang. Menurut fiqih, hajinya tidak apa-apa, alias tidak batal. Tetapi, hajji yang disertai riya’ tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali pencapaian yang disebut sebagai syirik khafiy (syirik ringan). Orang yang hajinya disertai riya’ tidak membuat hajinya dilarang, yang dilarang adalah riya’nya. Ini seperti orang yang makan nasi hasil curian; ini tidak membuat makan nasi bagi semua orang menjadi tidak boleh atau haram; yang dilarang adalah mencurinya. Atau seperti fatwa haram selfie dari ulama alay jadi-jadian Felix Siaw. Katanya selfie itu haram karena bisa membuat orang menjadi sombong. Selfie yang membuat orang menjadi sombong itu yang salah bukan selfienya, tetapi sombongnya. Artinya, sombong di sini tidak boleh membuat selfie bagi semua orang menjadi tidak boleh atau haram. Bagi orang-orang yang berjualan obat jerawat, obat kecantikan, obat anti kebotakan, obat langsing, dan lain-lain, selfie itu sangat dibutuhkan untuk menambah daya jual testimoni obat-obat jualannya. Nah, selfie bagi orang-orang yang berjualan obat ini hukumnya wajib. Inilah yang disebut sebagai lil wasaail hukmu al-maqasid: yaitu hukum sebuah cara itu ditentukan dari hukum maksudnya. Jika maksudnya baik, caranya menjadi baik. Jika maksudnya jelek, maka caranya dihukumi jelek juga.

Jadi, jika Anda tidak mengerti hukum Islam, bertanyalah kepada para ulama, karena bisa jadi lho apa yang Anda sangka boleh selama ini sebenarnya tidak boleh menurut Islam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s