JIKA ORANG YAHUDI DAN NASRANI TIDAK RELA, KITA JUGA DEMIKIAN



_s_7560Saya pernah menulis tema ini dalam sebuah status di facebook, beberapa tahun yang lalu. Ini saya tulis kalau tidak salah karena ada teman yang benci sekali melihat orang-orang Kristen yang sedang beribadat di Gereja. Saat itu, saya bertanya begini, “Kalau kamu tidak suka orang Kristen beribadat di Gereja, lalu apa kamu mau mereka beribadat di mesjid?” Hahaha… saat itu saya orang yang suka berdebat, meladeni semua orang yang berbeda dengan saya. Insya Allah sekarang tidak. Selagi bertanya, saya akan jawab. Jika sudah mengarah ke hate speech, saya hindari. Ini agar dua-duanya tidak jatuh pada dosa jadal (perdebatan kusir), al-tsartsaruun (banyak omong), al-Mutasyaddiquun (banyak nongkrong), dan al-mutafayqihuun (sombong).

Ayat ini pun oleh banyak orang dipakai untuk bahan pidato berapi-api menyatakan seolah-olah orang Islam bermusuhan selamanya dengan Yahudi dan Kristen. Eh, dahulu pun saat di pesantren, buku-buku keras ala Hasan al-Banna membuat banyak santri yang masih unyu-unyu juga begitu, berapi-api saat menjadi pembicara di kultum; menyatakan permusuhan dengan orang-orang Kristen dan Yahudi.

Setelah kultum selesai, para santri berhubungan baik dengan Yuk Wah dan Mujong (orang-orang suku China Kristen yang sering mengirim makanan saat mereka melaksanakan Diba’an). Status ini saya rilis lagi karena ada teman yang merequest-nya. Statusnya jelek sih, tapi tidak apa-apa, minimal untuk menepati janji saja.

Membahas “lan tardha” itu panjang. Tapi begini deh, kita mulai dari ayat penyembelihan:

وطعام الذين اوتواالكتاب حل لكم

Maksudnya makanan sembelihan ahlul kitab itu halal kita makan.

Kebanyakan ulama menyatakan bahwa yang dimaksud ahli kitab di sini adalah yahudi dan nashrani. (Al-Maidah ayat 5)

Yang kedua: ayat tentang menikah dengan wanita ahlul kitab Qs. Al-Baqarah 221:

“Janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita mukmin) sebelum mereka beriman.” Ini ayat tentang dilarangnya cowok musyrik dengan cewek mukmin.

Tapi coba dibaca surat ini:

والمحصنات من الذين اوتوا الكتاب من قبلكم

Maksudnya adalah perempuan yang baik-baik dari ahlul kitab boleh dinikahi. Ini yang kedua.

Yang ketiga: ayat tentang yg membedakan antara ahlul kitab dan musyrik.

Al-bayyinah ayat 1:

لم يكن الذين كفروا من هل الكتاب والمشركين

Artinya, Beda sekali antara ahlul kitab dan musyrik.

Kemudian yang keempat: baru ayat lan tardho.

ولن ترضى عنك اليهود ولا النصارى حتى تتبع ملتهم

Syaikh al-Fadhl dalam al-Tahrir wa al-Tanwir mengatakan bahwa maksud ayat ini adalah bahwa Yahudi dan Nashrani tidak rela sampai kamu ikut agama mereka. Sebaliknya, orang Islam juga tidak rela kepada mereka sampai mereka mengikuti agama orang Islam. Maksudnya, ikutnya Nabi kepada aturan orang-orang yahudi dan nashrani waktu itu adalah tidak mungkin, sama tidak mungkinnya dengan kerelaan mereka mengikuti aturan Islam. Hal itu diterangkan juga dalam Al-a’raf 40:

إن الذين كذبوا بأيتنا واستكبروا عنها لا تفتح لهم ابواب السماء ولا يدخلون الجنة حتى يلج الجمل فى سم الخياط

Ini maksudnya, impossible alias tak mungkin, sama seperti impossiblenya jamal (onta) masuk ke lubang jarum. Sama seperti perumpamaan al-baqarah di atas. Kemudian disebutkan lagi dalam surat al-kafirun:

لا اعبد ما تعبدون ولا أنتم عابدون ما اعبد

Alias tidak mungkin muslim menyembah yang orang kafir sembah. Demikian juga orang kafir tidak mungkin menyembah yang kita sembah. Atau pada surat al-baqarah:

سواء عليهم أأنذرتهم ام لم تنذرهم لا يؤمنون

Maksudnya, mau kau ingetin orang-orang kafir itu tak akan beriman mereka itu.

Apakah benar Kristen dan Yahudi seperti itu semua? Kenyatannya banyak Kristen yang akhirnya masuk islam, yahudi pun juga begitu. Pada jaman Nabi saja, di kalangan Yahudi kita kenal Abdullah bin Salam, Shafiyyah binti Huyay, Rayhana, yang masuk islam. Di kalangan Kristen koptik kita kenal Maria qibtiyah, Sirrin istri Hasan Tsabit. Di masa sekarang, banyak contohnya. Apalagi jika kita rujuk kenyataan zaman sekarang, banyak orang-orang non-Muslim membela hak-hak orang-orang Islam yang terdzalimi, seperti yang terjadi di California, Kanada, Jerman, dan banyak negara-negara yang mayoritas warganya adalah non-muslim membela hak-hak orang-orang Islam yang lemah. Ingat lho, lemah. Dan mereka dibiarkan memeluk agama Islam dan menjalankan Islam seperti biasanya.

Artinya, yang dimaksud itu bukanlah semua Yahudi, juga tidak semua Nashrani.

Quraisy Shihab mengartikannya sebagaimana diartikan oleh banyak ulama, bahwa kata lan di depan yahudi itu lebih keras, bahwa Yahudi itu dari dulu sampai kapan pun akan begitu, saat mereka menjadi yahudi lho. Tetapi kata LA di depan nasharani mengtakan bahwa tidak selamanya dan tidak semua nashrani itu seperti itu. Ibn Jarir dalam Tafsir Ibnu Katsir menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Qs. al-Baqarah 120 adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepada Nabi Muhammad kecuali jika kamu mengikuti apa yang mereka sukai dan mereka setujui. Jalaluddin al-Suyuthi, dalam al-Dur al-Mantsur fi al-Tafsir al-Ma’tsur, juga menuliskan sebab turunnya ayat yang sama dengan Ibnu Katsir. Imam Maraghi mengatakan bahwa nabi sangat mengharapkan agar Ahl al-Kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani beriman kepada beliau dan wahyu yang diterimanya. Namun orang Yahudi dan Nasrani sulit menerima dakwah yang disampaikan beliau. Karena nabi putus asa dengan sikap mereka yang kekeh untuk tidak mau menerima ajakan nabi, lalu turunlah ayat di atas.

M. Quraish Shihab dalam tafsir al-Misbah, menjelaskan kaitan ayat ini dengan ayat sebelumnya (119). Menurut Quraish, ayat sebelum ayat di atas sengaja diturunkan untuk menghilangkan kerisauan nabi SAW. yang disebabkan karena orang-orang Yahudi enggan menerima kabar gembira dan peringatan yang beliau dapatkan dari Tuhan. Dan ayat sebelum ayat di atas juga dengan tegas mengatakan bahwa beliau tidak akan dituntut untuk bertanggung jawab atas keengganan mereka tersebut. Quraish juga menyebutkan bahwa ketika menyebut Yahudi al-Quran menggunakan term lan yang berarti tidak akan untuk selama-lamanya, tapi ketika menyebut Nasrani menggunakan term la yang artinya tidak namun tidak selamanya. Pembedaan ini jelas menunjukkan bahwa sikap orang Yahudi dan Nasrani tidak sama terhadap nabi dan ajaran beliau.

Menurut Ibnu Katsir, orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang sombong, makanya mereka membunuh para Nabi bahkan mereka berkali-kali hendak membunuh Rasulullah. Sementara orang-orang Nasrani pengikut al-Masih yang menjalankan Injil, mereka memiliki rasa cinta kasih terhadap Islam, dan para pemeluknya secara umum. Hal itu juga didukung karena di antara mereka terdapat qissisiyyun (para pendeta), yang merupakan para khatib dan ulama mereka, yang memiliki ilmu, ibadah dan tawadhu. Mereka inilah, menurut Ibn ‘Abbas, datang bersama Ja’far bin Abi Thalib dari Habasyah (Ethiopia), dan kemudian beriman dan mata mereka berlinang air mata, ketika Rasulullah membacakan Al-Qur’an kepada mereka. Demikian juga dengan Kaisar Heraclius, yang dengan baik-baik menerima utusan Nabi SAW. dan berpandangan bahwa Nabi SAW. adalah pembawa kebenaran (Shahih Bukhari bab Kayfa Kaana Bad’u al-Wahyi).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s