AMALAN PALING BAIK DAN PALING BURUK ADALAH AMALAN ULAMA


Ulama buruk menebar keburukan dan menyesatkan banyak orang.
Ulama buruk menebar keburukan dan menyesatkan banyak orang.

Al-Quran adalah sumber terpenting dalam Islam. Hanya saja, harus diketahui, banyak aturan-aturan agama yang hanya ada dalam sunnah atau hadis. Yang terpenting dalam penyampaian dan penggalian aturan-aturan itu, oleh karena itu, adalah eksistensi Sahabat. Dalam hal pengetahuan terperinci ini, seseorang yang gagal mengetahui Sahabat dianggap gagal juga menghadirkan hujjah untuk perbuatan yang berhubungan dengan agama. Bahkan, Abu Zur’ah al-Razi dalam al-Ishabah karya Ibu hajar al-Asqalani menjuluki orang-orang yang tak mengerti Sahabat dengan istilah “asyaddu jahlan wa a’dzamu inkaran” atau orang yang sangat bodoh dan ingkar.

Kita ingat hukuman mati yang dijatuhkan atas Ja’d bin Dirham dalam the Presecution of the Zanadiqa karya Mahmod Ibrahim di era Abbasiyah dimana Abu Zur’ah hidup. Penyebutan istilah yang diperkenalkan oleh Abu Zur’ah di atas lebih dikenal sebagai julukan atas orang-orang zindiq, seperti halnya julukan yang dikenakan atas Jahm bin Shafwan (murid dari Ja’d bin Dirham) yang adalah pencetus faham Jahmiyah yang disematkan atasnya ajaran Zanadiq al-Nashara (Zindiq Kristen). Ada juga para penagikut Amr bin Ubaid, yaitu orang-orang mu’tazilah. Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa istilah yang dikenalkan oleh Abu Zur’ah di atas adalah ungkapan dalam masalah pertentangan antara ahli hadis dan pemikiran-pemikiran liberal ala mu’tazilah atau zindiq itu.

Oleh karena itu, hadis memainkan peran kunci dalam menyediakan tuntunan praktis bagi kehidupan sehari-hari. Peranan yang diberikan pada hadis berarti dua hal: pertama, ilmu untuk menentukan kandungan hadis menjadi cabang disiplin yang penting dalam Islam; siapapun yang menguasai ilmu ini, menjadi orang yang paling dihormati. Kedua, sebagai saksi dan pelaku penyebaran Islam dan ahdis, Sahabat adalah generasi paling dihormati sepanjang sejarah Islam. Inilah mungkin maksud dari hadis “Khairul qaruuni qarni, tsummalladziina yalawnahum..”

Imam Syafi’i menvalidasi kedua hal di atas dengan memberikan penghargaan tertinggi kepada para ahli hadis. Misalnya, beliau menganggap Ahmad bin Hambal, dengan kedalaman ilmu hadisnya, sebagai parameter untuk mengukur keislaman seseorang. Abu Zur’ah sebagai penerus Ibnu Hambal saja mempunyai hafalan hadis sebanyak 100 ribu atau 200 ribu riwayat, mungkin dengan jumlah yang sama Ibnu Hambal menguasai riwayat-riwayat itu lebihd dalam lagi. Imam Syafi’i pernah mengungkapkan adagium begini: man abghada Ahmad fahuwa kafir: siapapun yang membuat marah Ahmad bin Hambal, maka dia kafir. Itu karena Imam Syafi’i menganggap bahwa Ibnu Hambal adalah representasi Hadis itu sendiri. Oleh karenanya, membenci Ahmad bin Hambal otomatis membenci sunnah. Membenci Sunnah sama dengan membenci Nabi. Membenci Nabi sama dengan membenci Allah. Dari sinilah istilah Sabbu al-Ulama’ (menghina ulama) dianggap sebagai kekufuran.

Dari sini juga bisa dipahami timbulnya ungkapan bahwa menghina ulama atau menertawakannya dianggap sebagai dosa yang sangat besar atau bahkan jatuh kepada kekufuran, setidaknya menurut imam Syafi’i. Karena ulama dianggap sebagai sebaik-baiknya makhluk setelah Rasul, mengingat mereka adalah waratsatul anbiya’ atau ahli waris ilmunya para Rasul. Para ulama adalah penjaga syariah. Oleh karena itu, dalam Qs. al-Fathir: 28 disebutkan bahwa orang yang paling takut kepada Allah adalah para ulama. Inilah juga yang mendasari ungkapan bahwa ulama adalah sebaik-baiknya makhluk.

Anda pasti pernah mendengar ungkapan “Sesalah-salahnya ulama adalah sebenar-benarnya kita.” Jika merujuk pada cara berpikir di atas, ungkapan ini terlihat ada benarnya: bahwa sesalah-salahnya Ahmad bin Hambal adalah sebenar-benarnya kita; sesalah-salahnya Imam Syafi’i adalah sebenar-benarnya kita; sesalah-salahnya Al-Bukhari adalah sebenar-benarnya kita. Tetapi, apakah ungkapan ini berlaku umum bagi siapa saja yang memakai surban dan mengaku-ngaku sebagai ulama? Well, saya jelas tidak sependapat dengan ungkapan itu, mengingat beliau mengatakan ungkapan itu untuk orang-orang yang waktu itu sedang berdebat dengan Nusron Wahid. Saya tidak melihat mereka itu layak disebut ulama.

Siapakah ulama itu? Saya tidak akan menjawab pertanyaan ini di Status ini, Anda cukup merujuk Imam Ahmad Ibnu Hambal, Abu Zur’ah bin al-Razi, Imam Syafi’i, atau murid-muridnya seperti al-Muzanny dengan karyanya Mukhtashar al-Muzanny yang menjadi hasiyah pada kitab al-Umm; al-Buyuthy dengan kitabnya Mukhtashar al-Buyuthy; Tajuddin Subky dengan karyanya Thabaqat al-Syafi’iyyah al-Kubra; Abu Thaib al-Thabary dengan karyanya Mukhtashar, dan seterusnya. Mereka dikatakan sebagai ulama karena mereka memiliki kualifikasi ulama, yang sering kita sebut menguasai sedikitnya 15 alat. Jika kita, misalnya, merujuk seseorang yang bernama Nasiruddin Thusi. Sejak usia belia, Khajeh telah belajar Nahwu Sharaf dan Sastra Arab dan menjadi jagoan di bidang itu. Ingat lho, jagoan, bukan sekedar belajar. Pada usia keduapuluh tahun, Khajeh telah dipanggil sebagai Ustadz al-Basyar alias gurunya manusia, karena telah menjadi guru besar pada berbagai ilmu seperti Matematika, Astronomi, Fiqih (termasuk ahwal al-Syahsyiyyah, Muamalah Maddiyyah, al-Ahkam al-Iqtishadiyyah wa al-maaliyyah), Ushul Fiqih (termasuk al-Quran dan sunah, riwayat sahabat dan tabiin, konsensus ulama, kaidah bahasa arab dan keterangan penguat yang dinukil dari bangsa arab, dan ijtihad ulama yang tidak bertentangan dengan ketentuan syariat), Sejarah, Filsafat (termasuk logika), dan Teologi. Artinya, beliau adalah guru besar 15 ilmu alat itu ditambah dengan keahliannya yaitu Astronomi, Matematika, dan Filsafat. Atau kita coba lari ke ulama Islam Nusantara, Syaikh Ihsan bin Dahlan Jampes. beliau adalah ulama Indonesia yang mendunia dengan karyanya sepertiSirāj al-Thālibin, yaitu kitab penjelasan atas kitab tasawuf yang disusun oleh Imam al-Ghazali Minhaj al-‘Abidin. Kitab Sirāj al-Thalibin menjadi kitab pegangan di berbagai perguruan tinggi di berbagai negara dan pesantren di Indonesia. Tashrih al-‘Ibarat, yaitu kitab mengenai ilmu falak. Kitab ini juga merupakan syarh dari kitab Natijah al-Miqot yang disusun oleh K.H. Ahmad Dahlan, dari Semarang. Manahij al-Imdad, penjelasan dari kitab Irsyād al-‘Ibād yang disusun Syaikh Zainudin al-Malibari tentang masalah-masalah fiqh. Irsyad al-Ikhwan fi Bayān al-Qahwah wa ad-Dukhan. Kitab yang membahas perbedaan pendapat tentang status hukum kopi dan rokok, yang populer dikonsumsi masyarakat nusantara. Minhaj al-‘Abidin. Kitab yang terakhir ini, banyak dipakai di pesantren-pesantren Indonesia, bahkan kitab ini tersebar di negara Timur Tengah saat dicetak oleh sebuah percetakan terkenal di Mesir, Dar al-Bab al-Halabi.

Jika kita tilik dalam Kitab “Imta’ Ulin-Nazhar bi Ba’dhi A’yanil-Qarn ar-Rabi’ ‘Asyar atau yang dikenal denga kitab Tasynif al-Asma bi Syuyukh al-Ijazah was-Sima’ , kita akan melihat silsilah-sanad (mata rantai keilmuan), dan jaringan ulama di Mekkah pada abad ke-14 H (awal abad ke-20 M). Dalam kitab ini disebutkan banyak ulama Nusantara yang berkiprah dan berpengaruh besar di Mekkah pada masa itu. Di sana akan kita dapati Ahmad Marzuki ibn Ahmad Mirshad al-Batawi (1293-1353 H), dari Batavia (Jakarta); Baqir ibn Nur al-Jukjawi al-Makki (1306-1367 H), dari Jogja; Bidhawi ibn Abdul Aziz al-Lasami; Jami’ ibn Abdul Rasyid al-Rifa’i al-Buqisi (1255-1361 H), dari Bugis; Sulaiman ibn Muhammad Husain al-Falambani (1295-1376 H), dari Palembang; Shalih ibn Mujian al-Batawi al-Tanqarani (1297-1353 H), dari Betawi-Tangerang; Abdul Rasyid ibn Aslam al-Buqisi (1356 H), dari Bugis; Abdul Karim ibn Ahmad al-Khatib al-Minankabawi al-Makki (1301-1357 H), dari Minang; Abdullah ibn Azhuri al-Falambani al-Makki (1279-1357 H), dari Palembang; 14. Abdul Muhith ibn Ya’qub ibn Panji al-Surabawi (1311-1388 H), dari Surabaya, Jawa Timur; Abdul Muhaimin al-Lasami (1313-1365 H), dari Lasem, Jawa Tengah; Ali ibn Abdul Hamid Qudus al-Samarani (1310-1363 H), dari Semarang, Jawa Tengah; Muhsin ibn Muhammad ibn Hasan al-Surabawi (1316-1366 H), dari Surabaya, Jawa Timur; Muhsin ibn Muhammad ibn Abdillah al-Sairani al-Bantani (1277-1359 H), dari Serang, Banten; Muhammad Ahid ibn Idris al-Buquri al-Makki (1302-1372 H), dari Bogor, Jawa Barat; Muhammad Mukhtar ibn Atharid al-Buquri al-Jawi (1287-1349 H), dari Bogor, Jawa Barat; Muhammad Manshur ibn Abdul Hamid al-Falaki al-Batawi (1290-1387 H), dari Batavia (Jakarta); Ma’shum ibn Ahmad ibn Abdul Karim al-Lasami al-Jawi (1290-1392 H), dari Lasem, Jawa Tengah; Manhsur ibn Mujahid Basyaiban al-Surabawi (1302-1360 H), dari Surabaya, Jawa Timur; Hasyim Asy’ari al-Jaumbanji al-Jawi (1282-1366 H), dari Jombang, Jawa Timur; Wahyuddin ibn Abdul Ghani al-Falambani (1288-1360 H), dari Palembang. Semua ulama yang disebutkan ini memiliki karya yang dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya. Misalnya, Baqir ibn Nur al-Jukjawi, menulis kitab biografi ulama Nusantara berjudul “Tarajim ‘Ulama Jawah”; Shalih ibn Mujian al-Batawi, menulis kitab Adab al-‘Alim wal-Muta’allim; kitab Adab al-Qadhi; kitab Risalah fil-Ankihah; dan kitab Risalah fil-Falak. Muhammad Mukhtar ibn Atharid al-Buquri, menulis kitab Hasyiah ‘ala ‘Umdah al-Abrar fi Manasik al-Hajj wal-I’timar; kitab Ta’liqat ‘ala Jami’ at-Tirmidzi; kitab Ta’liqat ‘ala Nuzhum al-Qawaid al-Fiqhiyyah. Muhammad Manshur ibn Abdul Hamid al-Falaki al-Batawi, menulis kitab Sullam al-Nairain; kitab Khullashah aJ-Jadwal; kitab Risalah fi Shalah al-KusyUf wal-Khusuf; kitab Mizan al-I’tidal; kitab Washilah at-Thullab; kitab Jadwal al-Faraidh; kitab ) al-Lu’lu’ al-ManzhUm fi Mabahits Sittah al-‘UlUm; dan kitab I’rab al-Ajurumiyyah lil-Mubtadi’. KH Hasyim Asy’ari menulis kitab Adabul-‘Alim wal-Muta’allim, Risalah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, al-Tibyan fi Nahy Muqatha’ah al-Arham, kitab an-Nurul-Mubin fi Mahabbati Sayyidil-Mursalin, kitab Ziyadah at-Ta’liqat, dan kitab at-Tanbihat al-Wajibat li Man Yashna’ al-Maulid bil-Munkarat.

Tokoh-tokoh yang saya sebutkan di atas bukanlah orang yang menamakan dirinya sebagai ulama, melainkan dunia yang menyebut diri mereka sebagai ulama, karena karya-karya dan keilmuannya. Di zaman sekarang ini, orang-orang tanpa rasa malu memasukkan diri mereka kedalam golongan ulama, padahal ilmunya tidak jelas kualitasnya. Ada yang hanya berbekal jamaah zikir, ada yang hanya berbekal ilmu utak-atik sedekah, ada yang membaca al-Fatihah saja tidak fasih, ada yang berbekal slogan lucu. Mungkin tokoh-tokoh nekad itu tidak sepenuhnya salah, karena di Indonesia ini ada lembaga yang bernama Majelis Ulama Indonesia. Mau tidak mau, orang-orang yang bekerja di sana akan disebut sebagai ulama. Padahal, tak semua orang yang ada di MUI itu teruji ilmunya.

Disamping karya-karya keilmuan, seseorang dikatakan sebagai alim atau ulama (jamak) juga karena akhlaknya. Jika kita merujuk pada syarat dipercayanya sebuah periwayatan adalah adil. Diantara kriteria ini adalah dapat menjaga diri dari larangan-larangan, tak pernah terlibat kriminalitas, terkenal benar dan baik dalam pergaulannya, dan terkenal tak pernah berdusta yang bisa merugikan agama dan merusak kepribadiannya. Artinya, di Negara-negara tertentu yang menghargai ilmu pengetahuan Islam, kriteria ini masih tetap terjaga sampai sekarang, dimana orang-orang yang dinyatakan segabai seorang yang “alim” atau ulama (jamak) adalah orang yang memiliki kriteria adil di atas secara dominan dan tentu berpengatahuan luas, minimal menguasai 15 ilmu alat seperti Ilmu lughat, nahwu dan segala permasalahnnya seperti dalam alfiyah syarah asmuni, sharf atau perubahan bentuk kata dengan berbagai literaturnya, ilmu isytiqaq (ilmu ini seperti menghafal kamus munjid), badi’, bayan, ma’ani, ilmu qiraat, aqaid (ini seperti menghafal 9 jilid ihya’ dikali 10 kitab), ushul fiqh (ini ilmu istimbath tersulit dan minimal menguasai karya2 semacam al- Risalah karya Imam Syafi’i, al-Taqhrib karya Al-Qadhi Abu Bakr al-Baqillani al-Maliki al-Mu’tamad karya Abul Husain Muhammad bin Ali al-Bashri Al-mu’taziliy Asy-syafi’i, al-Burhan karya Abul Ma’ali Abdul Malik bin Abdullah al-Juwaini Asy-Syafi’i/Imamul-haramain, al-Mustashfa karya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Syafi’i), asbabunnuzul, nasikh mansukh, ilmu fiqih, ilmu hadis termasuk rijal hadis dan ribuan matan dan syarahnya, ulum alQuran termasuk riwayat ahad dan mutawatir, gharib, mu’rab, homonim, sinonim, dan seterusnya, ditambah dengan bidang yang menjadi kepakarannya.

Jika merujuk criteria 15 ilmu alat ini, saya menjadi teringat Kyai Said Agil Siradj, Prof. Quraysh Shihab, Dr. Said Agil Munawwar, Gus Mus, Mbah Maimun Zubair, Kyai Abdul Aziz Masyhuri, dan rata-rata ulama-ulama NU. Mereka semua, sepengatahuan saya, adalah pakar ilmu-ilmu alat itu. Bukti kepakarannya adalah mereka sangat menguasai segala jenis kitab yang berbasis ilmu-ilmu fiqh, tauhid, tarikh, ulumul quran, ulumul hadis, dan seterusnya. Bahkan, mereka adalah pemilik sanad-sanad yang muttashil ke Rasulullah SAW. melalui berbagai jalur: dari Jalur Imam Syafi’I, Hanafi, Maliki, Hambali, bahkan ahlul bayt Rasulullah SAW. Mereka pun memiliki karya-karya besar di bidangnya masing-masing.
Pertanyaannya, ada tidak ulama yang dalam ilmunya tapi tingkah-lakunya tidak baik? Jawabannya, secara De Facto, banyak. Ini setidaknya digambarkan oleh hadis yang diriwayatkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak yang berbunyi seperti ini:

ويل لأمتى من علماء السوء يتخذون هذا العلم تجارة يبيعونها من امراء زمانهم ربحا لأنفسهم لا اربح الله تجارتهم

“Celakalah ummatku dari ulama buruk, mereka menjadikan ilmu sebagai barang dagangan yang mereka jual kepada para penguasa untuk mendapatkan keuntungan bagi mereka sendiri. Allah tidak memberikan keuntungan dalam perdagangan mereka.” (HR. al-Hakim)

Hadis kedua yang menjadi dalil ulama su’, yang juga menjadi koreksi atas pernyatan yang menyatakan bahwa sesalah-salahnya ulama adalah sebenar-benarnya kita, adalah berbunyi seperti ini:

الا إن شر الشر شرار العلماء وخير الخير خيار العلماء

“Ketahuilah, sesungguhnya kebaikan yang paling baik adalah kebaikan ulama, dan keburukan yang terburuk adalah keburukan ulama.”

Mirip-mirip pernyataan seseorang ya? Mirip memang, tetapi sangat berbeda maknanya. Artinya, jika ada yang mengatakan bahwa seseorang ditipu oleh ulama’, maka kita harus meneliti lagi, ulama seperti apa yang dimaksud oleh orang tersebut. Ulama seperti Ahmad bin Hambal? Jika iya, maka menurut Imam Syafi’I, bahkan orang tersebut tersesat dalam kekufuran. Ulama seperti Hadratussyaikh, atau tokoh-tokoh yang terbukti memiliki ilmu yang dalam? Jika iya, maka orang itu tersesat dalam dosa besar, karena dianggap menghina ahli waris ilmunya para Nabi. Atau tokoh-tokoh yang nekat memasukkan diri mereka kedalam kriteria ulama (padahal tidak memiliki bukti ilmiah apa-apa bahwa mereka layak disebut ulama)? Jika iya, maka hukum menghina orang biasa itu adalah dosa. Tetapi, yang lebih luas dari itu, maksud dari hadis ini adalah bahwa jika orang-orang yang secara ilmiah layak disebut ulama saja bisa berbuat buruk dengan membohongi orang memakai al-Quran dan hadis, maka orang-orang yang nekat menyebut diri mereka ulama pun sangat mampu melakukannya. Kenapa? Lah wong mengaku-ngaku ulama saja mereka tidak malu, apalagi melakukan hal-hal abstrak yang mengntungkannya secara finansial, pasti lebih mau lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s