AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH TAK KENAL AQIDAH MUJASSIMAH


Ngakunya ahlussunnah tapi akidahnya wahabi, shame on you!
Ngakunya ahlussunnah tapi akidahnya wahabi, shame on you!

Sebenarnya, saya merasa malas membuat tulisan ini, karena tulisan seperti ini seharusnya masanya sudah expired sejak bertahun-tahun yang lalu. Seharusnya kita telah membahas masalah-masalah yang berkenaan dengan kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan atau masalah-masalah agama yang lebih advanced lainnya. Meskipun begitu, saya tersinggung juga untuk menuliskan tulisan jelek ini.

Seseorang bertanya, “Tahun berapa Tuhanmu ditemukan?” Abu Hanifah menjawab, “Allah ada sebelum tanggal dan zaman, tidak ada yang mengawali wujudnya.” Lalu Abu Hanifah bertanya, “Sebelum tiga apa?” Atheis menjawabnya, “Dua.” Abu Hanifah bertanya lagi, “Sebelum dua?” Atheis menjawab, “Satu.” Abu Hanifah bertanya lagi, “Lalu sebelum satu?” Atheis menjawab, “Tidak ada.” Abu Hanifah berkata, “Jika satu yang hanya angka saja tidak ada yang mengawali, lalu bagaiaman pula dengan satu yang hakikat. Dia-lah Allah yang Qadim dan tidak ada yang mengawali keberadaan-Nya.”

Si atheis itu lalu bertanya lagi, “Kearah manakah Tuhanmu menghadap?” Abu Hanifah menjawab, “Jika engkau menyalakan lilin di malam yang gelap, kemanakah cahaya lilin itu menghadap?” Atheis menjawab, “Kesegala arah.” Abu Hanifah berkata, “Jika cahaya lilin menghadap ke segala arah, bagaimanakah dengan cahayanya semua langit dan bumi?”

Orang atheis itu bertanya lagi, “Bagaimanakah bentuk tuhanmu, apakah dia keras seperti besi, cair seperti air, atau menguap seperti gas?” Abu Hanifah bertanya, “Apakah engkau pernah duduk di sebelah orang sakit yang menghadapi kematiannya?” Atheis menjawab, “Ya pernah.” Imam Abu Hanifah bertanya, “Apakah dia bisa berkata-kata kepadamu setelah maut menjemputnya?” Atheis menjawab, “Tidak.” Abu Hanifa berkata, “Apakah sebelum mati dia bisa berbicara dan bergerak?” Atheis menjawab, “Bisa.” Abu Hanifah bertanya, “Apa yang merubahnya?” Atheis berkata, “Keluarnya ruh.” Abu Hanifah bertanya, “Apakah ruhnya keluar?” Atheis berkata, “Benar.” Abu Hanifah berkata, “Deskripsikanlah kepadaku ruh ini, apakah dia cair, padat, atau berbentuk gas?” Atheis menjawab, “Saya tidak tau.” Abu Hanifah berkata, “Jika kepada makhluk saja engkau tidak bisa mendiskripsikannya, bagaimana engkau memintaku mendiskripsikan Dzat Allah?”

Menurut al-Thahawi dalam awal Risalahnya saat membahas ayat الرحمن على العرش استوى menyatakan bahwa hal ini adalah masalah akidah ahlussunnah wal jamaah. Maksudnya adalah, ini adalah akidah generasi Salaf Shabat dan Tabi’in dan Atba’ al-Tabi’in dalam hal menyucikan Allah dari tempat, arah dan fisik. Perkataan al-Thahawi ini adalah ajaran terpenting, karena dia adalah ulama hadis (yang mampu menggalinya dari hadis-hadis) dan ulama fiqh (yang mampu menggali hokum-hukumnya sekaligus). Dia adalah ulama madzhab Hanafi.

Menurut Imam Abul Hasan al-Asy’ari, Allah Ada tanpa tempat; Allah Menciptakan Arsy’ al-Kursiyy, dan Allah tidak membutuhkan tempat. Dan Allah, setelah Menciptakan tempat, adalah seperti sebelum Menciptakannya. Atau, Allah tidak bertempat dan tidak butuh kepada Arsy dan al-Kursiyy. Dinukil dari al-Hafidz Ibn Asakir.

Abu Mansur al-Maturidi berkata:

كان الله ولا مكان فخلق العرش والكرسي ولم يحتج إلى مكان، وهو بعد خلق المكان كما كان قبل خلقه أي بلا مكان ومن غير احتياج إلى العرش والكرسي

Sesungguhnya Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Tampat adalah makhluk memiliki permulaan dan bisa diterima oleh akal jika ia memiliki penghabisan. Namun Allah ada tanpa permulaan dan tanpa penghabisan, Dia ada sebelum ada tempat, dan Dia sekarang, setelah menciptakan tempat Dia sebagaimana sifat-Nya yang Azali, ada tanpa tempat. Dia maha suci (artinya mustahil) dari adanya perubahan, habis, atau berpindah dari satu keadaan kepada keadaan lain. (Kitab at-Tauhid, hal. 69) Imam Ja’far al-Shadiq berkata:

ﻣﻦ ﺯﻋﻢ ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻓِﻲ ﺷﻰﺀ، ﺃﻭ ﻣﻦ ﺷﻰﺀ، ﺃﻭ ﻋﻠﻰ ﺷﻰﺀ ﻓﻘﺪ ﺃﺷﺮﻙ . ﺇﺫ ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺷﻰﺀ ﻟﻜﺎﻥ ﻣﺤﻤﻮﻻ، ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﺷﻰﺀ ﻟﻜﺎﻥ ﻣﺤﺼﻮﺭﺍ، ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺷﻰﺀ ﻟﻜﺎﻥ ﻣﺤﺪﺛﺎ

“Barangsiapa berkeyakinan bahwa Allah berada di dalam sesuatu, atau dari sesuatu, atau di atas sesuatu maka ia adalah seorang yang musyrik. Karena jika Allah berada di atas sesuatu maka berarti Dia diangkat, dan bila berada di dalam sesuatu berarti Dia terbatas, dan bila Dia dari sesuatu maka berarti Dia baru (makhluk).” (al-Risalah al-Qusyairiyyah, hal. 6)

Imam Abu Ishaq asy-Syirazi asy-Syafi’i al-Asy’ari dalam Aqidah al-Syirazi dalam Muqaddimah Kitab Syarh al-Luma’, juz. 1, hal. 101 berkata:

“Sesungguhnya istiwa’ Allah bukan dalam pengertian bertempat (bersemayam) menempel, karena bertempat dan menempel adalah sifat segala benda yg merupakan makhluk, sementara Allah maha Qadim dan Azaliy (tidak bermula), dengan demikian itu menunjukan bahwa Allah ada pada azal tanpa tempat, dan setelah Dia menciptakan tempat maka Dia sebagaimana pada sifat-Nya yang azali; ada tanpa tempat (karena Allah tidak berubah dari satu keadaan kepada keadaan yang lain).”

Maka, ketika Anda ditanya dimanakah Allah? Jawablah dengan jawaban: “Wallahu a’lam.” Karena barangsiapa yang telah menjawab begitu, maka dia telah berfatwa dengan benar. Artinya, menurut Aqidah ahlussunnah wal-jamaah, menjawab pertanyaan tersebut dengan kata-kata: “Allah berada di atas Arsy” adalah kesalahan besar yang dilakukan oleh para mujassimin. Mengenai pendapat imam 4 Madzhab yang tampak beraqidah mujassimah, saya menjawabnya bahwa itu adalah pencatutan tak bertanggungjawab. Demikian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s