MUSLIM YANG TAK MENGERTI ISLAM


jihad

Siapa itu muslim yang tak mengerti Islam? Yaitu muslim yang bahkan kewajibannya sebagai muslim pun dia tidak mengerti. Apa itu kewajiban muslim? Yaitu agar menjadi orang yang baik. Apa bukti kebaikannya? Buktinya umat Islam yang lain tidak tersakiti oleh ulahnya. Apa lagi? Yaitu sesama manusia lain tidak merasa tersakiti oleh ulahnya. Apa lagi? Tetangganya tidak terganggu oleh keburukannya. Apa lagi? Menyebarkan kedamaian, bukan pengerusakan dan terror.

Tak ada satu orang pun yang berhak mempertanyakan keislaman seseorang yang mengaku dirinya muslim, apalagi beraksesoris muslim, kecuali si penanya itu adalah orang gila. Di Indonesia, tidak ada orang selain muslim yang mengenakan jilbab. Jika pun ada orang agama lain yang mengenakan hal semacam jilbab di Indonesia, biasanya cara mengenakannya sangat terlihat bedanya. Berbeda dengan orang-orang Kristen di negara Arab, banyak diantara mereka yang mengenakan pakaian persis seperti gamis dan jilbab yang dikenakan oleh orang-orang Islam. Artinya apa? Orang yang mengenakan jilbab di Indonesia itu adalah orang Islam atau setidaknya orang yang menyatakan diri sebagai orang Islam.

Yang kemudian menjadi terlihat bodoh adalah bahwa pernyataan Islam-nya seseorang itu hanya dibatasi oleh Syahadat, pengetahuan rukun Iman dan Islam saja. Padahal, masih banyak hal-hal lain mengenai Islam yang harus dilakukan oleh orang yang mengaku Islam, seperti: Apakah dia orang Islam yang baik yang meninggalkan hal-hal yang tak berguna baginya? Apakah dia orang Islam yang sebenarnya karena tidak menyakiti sesama muslim? Apakah dia seorang muslim yang benar karena tidak menyakiti sesame manusia? Karena menjadi muslim tidak hanya masalah melaksanakan ibadah-ibadah mahdhah semata. Bahwa untuk menjadi muslim seseorang harus baik kepada seluruh umat manusia bahkan kepada selain manusia. Karena Nabi bersabda, “Seorang muslim adalah seseorang yang manusia selamat dari tangan dan mulutnya.” Karena Nabi bersabda, “Seorang muslima dalah seseorang yang sesama muslim selamat dari tangan dan mulutnya.” Karena Nabi SAW. bersabda, “Tidak beriman seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejelekanya.” Anda mengaku muslim? Jadilah orang yang orang lain tidak takut kepada keburukan Anda!

Apalagi, belakangan ini, mengkafirkan atau menyesatkan sesama muslim itu seperti menjadi kebiasaan yang wajar. Padahal, bagi orang-orang yang mengerti itu adalah perbuatan yang sangat dilarang oleh Allah. Kali ini saya akan merujuk fatwa-fatwa dari ulama wahabi.

Para ulama wahabi seperti syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid, Ibnu Utsaimin, dan rujukan para ulama wahabi yaitu Ibnu Taimiyah. Syaikh al-Munajjid menyatakan bahwa mengkafirkan atau menyesatkan sesama muslim adalah sesuatu yang hina. Sebelum mengkafirkan seseorang, kita harus melihat pada dua hal: satu dalil al-Quran dan Sunnah yang secara jelas menunjukkan bahwa perbuatan seseorang memang dihukumi sebagai kafir atau sesat; kedua, penerapan hukum al-Quran dan Sunnah itu pada perkataan atau perbuatan tertentu yang memenuhi syarat kafir atua sesat tadi, dimana semua mawani’ (hal-hal yang menghalangi syarat tadi) telah benar-benar dilalui.

Menurut Ibnu Utsaimin semua orang harus takut kepada Allah dari mengkafirkan dan menyesatkan kecuali ada dalil al-Quran dan Sunnah yang jelas menunjukkan itu. (Fatawa ala al-Darbi 2/6)
Syaikh al-Munajjid merujuk sebuah hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim:

( أَيُّمَا رَجُلٍ قَالَ لِأَخِيهِ يَا كَافِرُ، فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا ) رواه البخاري (6104) ، ومسلم (60).
Setiap orang yang berkata kepada saudaranya, “Wahai kafir,” maka tuduhan itu menimpa salah-satunya.” Artinya, jika yang dituduh kafir ternyata bukan kafir, maka yang menuduhlah yang kafir.

Imam Nawawi berkata bahwa hadis ini adalah dasar yang dipakai oleh madzhab yang benar untuk tidak mengkafirkan sesama muslim bahkan jika muslim yang lain itu melakukan maksiat seperti pembunuhan dan zina. Maka, mengatakan kafir kepada sesame muslim itu membatalkan keislamannya (Syarah al-Nawawi bab Bayan Hal Iman Man Qaala Liakhiiri al-Mulsim ya Kafir).

Ibnu Taimiyah berkata bahwa yang dimaksud dengan keluar dari Islam adalah keluar secara hakikat atau secara keseluruhan (Majmu’ Fatawa 355/7).

Terakhir, Syaikh Munajjid merujuk hadis di ini: “Kafir kepada Allah itu melepaskan seseorang dari nasab walaupun sedikit.” Atau hadis: “Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya, “Wahai kafir,” maka kekafiran itu menimpa salah-satunya,” (al-Mughni 332/2).

Ini adalah fatwa ulama wahabi, yang kita kenal mudah sekali mengkafirkan orang lain. Fatwa ini sengaja saya ambil karena fatwa ini nampaknya sangat umum di kalangan para ulama, alias menjadi konsensus atau ijma’, bahwa dosa mengkafirkan sesama muslim itu sangat-sangat berbahaya bagi keislaman seseorang.

Arti dari fatwa-fatwa ini apa? Artinya, bahkan kepada seseorang yang jelas-jelas bermaksiat saja tidak boleh kita mengkafirkannya, jika dia mengaku muslim! Apalagi kepada orang yang mengaku muslim dan tidak melakukan kemaksiatan-kemaksiatan itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s