MAKNA HADIS “MAN TASYABBAHA BIQAUMIN”: HUKUM BAJU SINTERKLAS BAGI MUSLIM


Setiap orang memiliki pilihan masing-masing dalam melaksanakan agamanya. Ada yang maunya ikut ajaran yang keras: sedikit-sedikit bunuh, orang lewat di depan shaff shalatnya bunuh, istri berdiskusi dengan suami dianggap membantah dan berhak ditempeleng, dan seterusnya. Ada pula yang memilih pilihan madzhab agama yang kalem dan tenang. Pilihan yang kedua ini alasannya adalah karena Islam itu memang berarti kedamaian. Karena itu, kelompok kedua memahami bahwa imam-imam atau ulama-ulama yang mengajarkan dalil-dalil kedamaianlah yang diikuti. Ini tentu tidak sedang membahas ayat perang, dimana perang pun adalah adalah kelanjutan diplomasi melalui
sarana lain (Clausewitz). Artinya, perang di dalam Islam pun adalah proses menciptakan kedamaian itu, entah dalam rangka mempertahankannya atau mengadakannya.

Mari kita membahas hadis ini:

من تشبه بقوم فهو منهم

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia adalah bagian dari kaum tersebut.”

Apakah hadis ini mutlak ingin mengatakan bahwa orang Islam tidak boleh meniru kebiasaan orang-orang non-muslim? Apakah pelarangannya itu mencakup seluruh kebiasaan orang non-muslim?

Mengenai masalah ini, banyak dalil yang menunjukkan bahwa perintah Nabi untuk berbeda dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani itu bukanlah wajib. Ada hadis tentang perintah Rasulullah SAW untuk mewarnai uban dengan tujuan untuk berbeda dengan orang-orang Yahudi dan Nashrani.

إن اليهود والنصارى لا يصبغون، فخالفوهم

“Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak menyemir uban mereka, maka berbedalah dengan mereka.” (HR. Bukhari)

Tetapi beberapa sahabat tidak melakukannya. Mereka menganggap bahwa perintah itu hukumnya mustahabbah atau sunnah saja. Pada kali lain Rasulullah SAW. memerintahkan untuk memangkas kumis. Tapi pada kenyataannya Umar bin Khaththab memelihara kumisnya, ada dalam atsar bahwa Umar bin Khaththab mengelus-elus kumisnya dan meniupnya ketika marah. Bisa dilihat di dalam naskah hadis dan syarah ini:

أن عمر رضي الله عنه كان إذا غضب فتل شاربه ونفخ رواه الطبراني في المعجم الكبرى بسنتد صحيح وروى هو وأبو زرعة في ” تارخيه ” والبيهقي : أن خمسة من الصحابة كانوا يقمون أي يستأصلون شوارهبم

Sesungguhnya Umar bin al-Khaththab ra. jika sedang marah, dia mengelus dan meniup kumisnya. (HR. Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir dengan sanad Shahih, juga diriwayatkan oleh Abu Zur’ah dalam Tarikh-nya; al-Baihaqi berkata: ada lima Sahabat yang memanjangkan kumisnya).

Ada juga hadis dari Rasulullah SAW. yang memerintahkan umat Islam untuk bershalat di atas sendal dan sepatu agar berbeda dengan kaum musyrikin. Tetapi kenyataannya para ulama memperbolehkan shalat tanpa sendal. Hadisnya berbunyi begini:

خالفوا اليهود، فإنهم لا يصلون في نعالهم وخفافهم

“Berbedalah kalian dengan Yahudi, karena mereka shalat tidak memakai sandal dan sepatu.”

Ada juga hadis yang berbunyi seperti ini:

اللحد لنا والشق لاهل الكتاب

“Lahad (liang lahat yang bagian sisi arah qiblatnya ada cekungan untuk menempatkan mayit)adalah untuk kita dan Syaq (liang lahat yang cekungannya berada di tengah)
adalah untuk selain kita(selain Islam).”

Tapi, setelah itu, apakah para sahabat mengharamkan Syaq? Faktanya, para Sahabat tidak melarang Syaq.

Ada juga hadis Rasulullah SAW. yang melarang memakai mihrab di masjid-masjid, agar berbeda dengan orang-orang Nashrani di gereja-geraja mereka. Faktanya, di mesjid-mesjid sekarang memakai mihrab. Nabi SAW. juga melarang untuk merenovasi (tasy-yiid) masjid-masjid agar berbeda dengan Nashrani dan Yahudi di gereja dan synagogue mereka. Tapi faktanya para ulama memperbolehkannya. Imam al-Subki bahkan memperbolehkan menghiasi masjid dengan emas dan perak dalam kitabnya Qanaadil al-Madiinah.

Rasulullah SAW. melarang shalat pada saat matahari terbenam, tapi para ulama cuma menghukuminya dengan Karaahah atau makruh. Nabi SAW. juga melarang mencukur rambut di bagian tengkuk (al-qafaa) agar berbeda dengan kaum Majusi, tapi para ulama menganggapnya makruh saja. Ada pula yang memperbolehkannya. Dan sekarang sudah menjadi kebiasaan alias boleh-boleh saja.

Tetapi, apa maksud dari semua itu? Mari kita bahas hadis ini lagi:

خالفوا اليهود والنصارى فإنهم لا يصلون فى خفافهم ولا فى نعاهلم

Berbedalah kalian dengan Yahudi dan Nasrani karena mereka tidak shalat dengan sepatu dan sandal mereka.

Dalam Ushul Fiqih, ada yang namanya wajhu al-Dalalah atau argument. Wajhu al-Dalalah dari hadis di atas adalah berbeda dengan Yahudi dan Nasrani dalam beribadah, yaitu Yahudi dan Nashrani tidak memperbolehkan umatnya shalat di atas sepatu dan sandal. Sementara Islam memperbolehkan ummatnya melakukan shalat di atas sepatu dan sandal. Boleh lho, bukan sunnah. Tapi ada yang memahaminya sunnah, maka ada orang-orang yang shalat di mesjid yang bersih dengan memakai sepatu, hahahaha. Ini menujukkan bahwa Jins al-Mukhalafah atau keharusan berbeda dengan Yahudi dan Nasrani dalam hadis “ma tasyabbaha biqaumin” itu adalah dalam hal syariat. Maka, ada baiknya kita mengambil hadis yang lain lagi, yaitu hadis ini:

َ عن أبي هريرة، عن النبي صلَّى الله عليه وسلم قال: لا يزال الناس ظاهرا ما عجل الناس الفطر لان اليهود والنصارى يؤخرون

“Dari Abi Hurairah, Nabi SAW. bersabda: Agama Islam ini akan senantiasa eksis, selama kaum muslimin menyegerakan berbuka, karena kaum Yahudi dan Nashrani mengakhirkannya.”

Inilah yang dimaksud dengan berbeda dengan orang Yahudi dan Nasrani, yaitu berbeda dalam tatacara ibadah. Misalnya saja al-Quran melarang orang Islam bermuwālah (Qs. al-Maidah 51) dengan ahlul kitab (maaf tafsiran ini saya ambil dari Ibnu Katsir). Maknanya, yang dilarang adalah mencintai mereka secara syariah, bukan cinta seorang ayah kepada
anaknya atau anak kepada ayahnya yang non-muslim, atau suami muslim kepada isterinya yang ahlul kitab. Contoh mudahnya cinta syariah itu begini: seseorang mengatakan kepada orang lain, “Aku mencintaimu karena kamu adalah muslim.” Artinya, tidak mengapa Anda mengatakan, “Saya mencintai orang-orang Nasrani dan Yahudi.” Karena kedua kalimat itu berbeda maknanya. Yang satu mencintai karena agamanya, yang lain mencinta karena kemanusiaan.

Bagaimana dengan memakai baju Sinterklas? Saya rasa, baju Sinterklas bukanlah bagian dari peribadatan umat Kristiani; juga bukan bagian dari ibadah umat Islam. Ini menurut saya lho, bisa saja pendapat ini salah. Artinya, umat Islam tidak memakainya sebagai tatacara beribadah sehingga menyamai umat Nasrani, seperti tatacara puasa dan shalat di atas. Itu hanyalah bentuk muamalah semata. Jika merujuk pada cara berpikir Ushul Fiqih di atas, maka bentuk muamalah seperti ini pun tidak mengapa dilakukan.

Terakhir, saya akan mengutip pendapat yang sedikit berbeda dengan pendapat di atas, yaitu dari Dar al-Ifta’ Mesir. Pendapatnya seperti ini:

قول الرسول – صلى الله عليه وسلم – من تشبه بقوم فهو منهم يحمل على أنه يكون كافرا مثلهم إن تشبه بهم فيما هو كفر كتعظيم يوم عيدهم
تبجيلا لدينهم، أو لبس شعارهم قاصدا الاستخفاف بالدين وإلا فإنه يكون آثما مثلهم فقط.

Artinya: Sabda Rasulullah SAW. “man tasyabbaha biqauwmin fahuwa minhum” itu artinya dilarang menjadi seperti mereka dalam penolakannya terhadai Islam, seperti merayakan hari raya orang-orang Nasrani atau Yahudi dengan niat ingin mengagungkan agama mereka, atau memakai pakaian-pakaian keagamaan mereka dengan maksud ingin menghina Islam. Tetapi, jika tidak berniat mengagungkan atau menghina Islam, maka hukumnya hanya berdosa kecil saja. Pertanyaannya, apakah topi atau baju Sinterklas itu termasuk baju acara keagamaan Kristen? Jawabannya tanyakan kepada teman-teman Anda yang Kristen atau yang lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s