AKAD GO-FOOD HALAL


 

Kemarin saya membaca ada postingan yang mengharamkan akad GoFood atau semacamnya. Alasannya karena akadnya murakkab atau lebih dari dua. Mereka mengambil dalil bahwa tidak boleh ada 2 akad dalam 1 akad. Mengenai ini, mari kita bahas hukumnya.

Rukun jual-beli itu ada 3: Aqid (penjual dan pembeli), ma’qud alayh (barang dagangan), dan Shighah (Ijab-qabul). Ijab itu adalah lafadz yang diucapkan oleh penjual, seperti, “Saya menjual.” Qabul adalah lafadz yang diucapkan oleh pembeli, seperti, “Aku membeli.” Ini adalah ijab-qabul qauliyah atau lewat perkataan. Sedangkan ijab-qabul fi’liyah atau melalui perbuatan adalah dengan memberi dan menerima (take and give), yaitu saat pembeli membayar harga barang dagangan kepada penjual. Jadi tidak harus memakai kata “aku menjual” dan “aku membeli”, kuno banget. Jika dilakukan melalui internet, pembeli tinggal pencet tombol barang dagangan apa, lalu klik beli, maka jual-beli sudah terjadi.

Syarat jual beli ada delapan: 1. Al-Tarādhi atau suka sama suka antara pembeli dan penjual. Allah SWT. berfirman dalam Qs. annisa 29:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dengan jalan perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama-suka di antara kamu.”Dari Said al-Khudri ra. Rasulullah SAW. bersabda: “Sesungguhnya perdagangan itu harus dengan dasar suka sama suka.”

Artinya, perdagangan tidak sah jika salah-satu ada yang terpaksa. Kecuali pemaksaan dengan jalan yang benar, yaitu seperti pemaksaan oleh seorang Hakim agar seseorang menjual barangnya agar dapat melunasi hutangnya, maka itu hukumnya sah.

Kedua: Aqid harus baligh, berakal, dan mengerti akad. Syarat ketiga adalah penjual adalah pemilik barang dagangan, atau orang yang dikuasakan untuk menjual. Keempat adalah barang dagangan harus yang boleh dimanfaatkan, seperti makanan , minuman, pakaian, kendaraan, obat-obatan, dan sebagainya. Artinya, tidak boleh berjual-beli barang yang diharamkan, seperti khamr, babi, mayat, dan seterusnya. Seperti hadis Nabi SAW.:

“Sesungguhnya Allah mengharamkan perdagangan khamr, mayat, babi, dan sesembahan.”

Yang kelima adalah barang yang dijual mudah diserahkan. Karena barang yang sulit diserahkan, seperti jual-beli keris yang bisa joget disco, jual-beli ikan yang masih ada di laut, jual-beli burung yang sedang terbang, jual beli susu yang belum diperah, jual beli anak kambing yang sedang dikandung, atau jual-beli hewan yang hilang, maka memperdagangkannya dilarang. Karena itu masuk dalam bay’ gharar atau perdagangan tepu-tepu. Dalam hadis Muslim, Rasulullah SAW. melarang bay’ al-gharar (dagang yang tak jelas). Keenam, barang yang dijual harus diketahui sifatnya oleh penjual dan pembeli. Artinya, tidak boleh membeli barang yang belum pernah diketahui sifat-sifatnya. Seperti menjual barang yang penjualnya sendiri saja tidak mengerti kualitas barang tersebut (apalagi pembelinya), maka perdagangan yang seperti ini dilarang, karena mengandung unsur gharar. Ketujuh, harga harus diketahui bersama dengan menetapkan harga
yang jelas dengan nilai-nilai yang jelas pula. Kedelapan, serah-terima barang dagangan dan harga barang harus beres pada waktu akad, agar tidak terjadi akad hutang dengan hutang. Madzhab Hanafi mengecualikan akad istishna’, yaitu akad pemesanan barang kepada produsen, mereka mempertanyakan apakah ini boleh atau tidak. Jumhur Hanafiyah menyatakan ini adalah akad yang boleh. Artinya, jika seseorang yang baligh, berakal, memiliki barang dagangan, dan memiliki alat-alat seperti telfon, mobil, dan melakukan perdagangan online melalui website dengan menggambarkan kualitas barang dan sifat-sifatnya dengan harga yang jelas, dengan waktu dan cara delivery yang jelas, lalu ada pembeli yang membelinya, maka itu boleh saja, karena syarat-syaratnya telah terpenuhi.

Bagaimana jika pembayarannya seperti cara Gojek? Akad ini jangan dianggap ribet, karena ada yang menghitung di sana ada beberapa akad. Padahal ini adalah akad ishtishna’, yaitu akad salam dan ijarah. Madzhab Syafiiah memperbolehkannya. Contohnya seperti apa? Ya gampangannya itu kasus GoFood. Di sana ada penjual dan pembeli serta barang dagangan. Lalu, driver Gojek sebagai apa? Driver Gojek itu bukan pihak ke3, tapi penjual barang dan jasa. Ingat, yang menjual barang itu bukanlah si pembuat barang pesanan, tetapi perusahaan Gojek dengan aplikasi gojeknya. Ini disebut sebagai akad salam dan ijarah. Dalam Qarar Majma’ al-Fiqh al-Islamy al-Duwaly diterangkan sebagai berikut:

يُشترط في عقد الاستصناع بيان جنس المستصنع ونوعه وقدره وأوصافه المطلوبة، وأن يُحدد فيه الأجل، ويجوز في عقد الاستصناع تأجيل الثمن كله، أو تقسيطه إلى أقساط معلومة لآجال محددة.

Artinya, disyaratkan dalam akad ishtishna’ keterangan jenis, macam, kualitas, dan sifat-sifat barang dagangan. Syarat yang lain adalah temponya harus jelas. Dalam akad ishtishna’ ini, boleh pembayarannya diakhirkan setelah barang diterima, atau mencicilnya sesuai perjanjian.

Bolehkan akad seperti GoFood ini? Al-Syafi’iyyah dan maliki memperbolehkan. #janganribet

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s