ASSAD MEMBANTAI WARGA SURIAH?


Ini tulisan yang agak panjang. Tapi, saya akan coba membuat Anda tidak bosan membacanya. Caranya, sambil membaca, Anda boleh ngemil. Bukan, bukan karena itu saja. Ini menurut saya penting, agar kita mengerti cara menyikapi media, alias tak mudah percaya media sebelum investigasi. Juga tak memiliki peluang untuk mencutikan nalar dan otak kita.

Saya akan membahas mengenai “demonstrasi di Dera’a”, yang dianggap sebagai awal dari perang Suriah. Kenapa saya membahasnya? Apakah saya orang yang paling tahu masalah ini? Tentu saja saya bukan orang yang paling tahu masalah ini. Ini saya tulis untuk mencoba memberikan contoh bahwa melihat sebuah kejadian besar, seperti perang Suriah, tidak cukup hanya dengan membaca satu dua berita online. Yang harus dilakukan adalah jurnalisme investigasi atau investigative journalism. Jika tidak mampu, maka kita coba melakukan sebaik mungkin sebagaimana seorang jurnalis investigasi biasa lakukan.

Membahas jurnalisme investigasi, saya akan mencopas status FB saya yang pernah saya tulis beberapa bulan yang lalu, yang kebetulan dipublish di beberapa media online. Ini penting, agar kita mengerti bagaimana cara kita menyikapi berita media. Saat itu saya membahas mengenai Haji di Karbala, yang kacau itu. Dalam status itu, saya memulai dengan kasus heboh menyangkut emas Busang dan isu bunuh-dirinya Michael De Guzman, sang penemu emas Busang.

Saat pemberitaan mengenai bunuh-dirinya De Guzman (salah seorang eksekutif perusahaan tambang asal Kanada, Bre-X), nyaris seluruh media memberitakannya, mempercayai pola berita itu menjadi sebuah fakta: bahwa De Guzman mati bunuh diri dari atas helikopter pada 19 maret 1997 di pedalaman Kalimantan Timur. Bahwa, setelah itu, Bre-X bangkrut karena harga sahamnya turun. Bondan Winarno berbeda. dia merasa aneh saat mendatangi sebuah kompleks pemakaman mewah di ibu kota Filipina, Manila, yang bernama Holy Cross Memorial Park, tempat jenazah Michael de Guzman dimakamkan.

Guzman adalah geolog kebanggan Filipina yang bekerja di sebuah perusahaan tambang dan mengklaim menemukan 40 juta ton emas di Busang. Sejak mengumumkan temuan itu, harga saham Bre-X Minerals, Ltd. melonjak tinggi. Saham Bre-X yang pada Maret 1995 hanya dihargai 50 sen dolar Kanada, langsung naik sampai ke level 286,5 dolar Kanada. Hanya dalam hitungan bulan nilai saham Bre-X telah membengkak dari Rp. 4,550 menjadi Rp. 2,6 juta per lembar. Artinya, jika Anda memiliki 1 lot saham (500 lembar saham), maka dalam tempo 1,5 tahun saja, modal Anda akan naik dari Rp. 2,3 juta menjadi Rp. 1,3 miliar.

Pejabat Indonesia kala itu juga ikut-ikutan memblow-up berita kandungan emas ini. Seperti biasa, orang-orang sekitar presiden (saat itu Soeharto) sibuk mencari mitra lokal bagi perusahaan-perusahaan tambang asing yang berminat. Bre-X menggandeng Freeport. Freeport melakukan pengujian di lokasi. Hasilnya, Freeport tertawa geli, kandungan emas di Busang ternyata sangat sedikit. Saat itulah Guzman dikabarkan melompat bunuh diri. Pemerintah Indonesia pun menjadi bahan tertawaan masyarakat dunia karena dianggap kongkalikong dengan penipu.

Semua data-data itu dijadikan bahan investigasi oleh Bondan Winarno. Dalam investigasnya, Bondan mendapatkan jawaban: Bahwa sejak kematiannya, tak ada satu pun kerabatnya yang datang; bahwa di makam itu tidak didapati karangan bunga, padahal De Guzman adalah orang kebanggan Filipina dan Istana Malacanang. Lalu timbul pertanyaan, benarkah jenazah yang dikuburkan itu adalah De Guzman? Benarkah orang yang telah mencairkan saham senilai 4,8 juta dolar Amerika itu mau mengakhiri hidupnya begitu saja? Skenario bunuh diri dari Bre-X dan wasiat-wasiat De Guzman kepada keluarganya, bukankah tidak nyambung? Dulu pernah ada Cinch Uranium memiliki kasus yang tambang emas bodong, juga dari Kanada, seperti Bre-X. Apa hubungannya? Kenapa pada mayat yang ditengarai De Guzman itu tidak ditemukan gigi palsu, padahal De Guzman memakai gigi palsu di bagian atas? Kenapa yang menemukan mayat di hutan itu Bre-X, dan bukan Tim SAR, dalam waktu 4 hari pula? Kenapa setelah peristiwa itu, dua orang awak helikopter (dimana De Guzman dikabarkan melompat bunuh diri) dan seorang kawan De Guzman hilang seperti ditelan langit?

Walaupun hasil akhirnya masih berupa pertanyaan, karena Bondan sempat dituntut 1 triliun oleh IB Sudjana, semua ini adalah cara jurnalisme investigasi bekerja. Dan memang harus beginilah jurnalisme bekerja. Seperti itu pulalah Dina Y. Sulaeman, Helmi Aditya, dan yang lainnya melakukan penelusuran atas kebenaran sebuah berita. Misalnya berita mengenai White Helmet yang begitu hebat itu. Banyak orang mempercayai kebaikan White Helmet itu sebagai fakta dan kebenaran. Padahal, setelah diselidiki dari segi foto yang disebar saja, ternyata diketahui bahwa foto-foto itu penuh rekayasa. Belum lagi jika kita merujuk dari kesaksian Eva Bartlett dan Venessa Beeley (lihat https://dinasulaeman.wordpress.com/…/hoax-aleppo-dan-logik…/).

SEKARANG KITA MULAI MEMBAHAS “AKSI DEMONSTRASI DERA’A”

Kita akan coba membahas peristiwa 17-18 Maret 2011 di Daraa. Peristiwa ini dikenal oleh banyak kalangan sebagai sebab utama terjadinya perang di Suriah. Menurut Sumber Intelijen Israel (Debka, August 14, 2011), markas NATO di Brussels dan komando tinggi Turki telah menyusun rencana untuk melakukan program militer ke Suriah. dengan mempersenjatai para pemberontak untuk memerangi rezim Assad. … Strategi NATO adalah mendeploy sejumlah besar anti-tank dan anti roket, mortar, dan senapan mesin berat ke pusat-pusat protes (di Dera’a) untuk memukul mundur pasukan lapis baja pemerintah Suriah. (DEBKAfile, 14 Agustus 2011)

Inisiatif ini, juga didukung oleh Arab Saudi dan Qatar. Mereka terlibat proses rekrutmen ribuan jihadis “Freedom Fighters”, mirip rekrutmen para mujahidin oleh CIA untuk berjihad ala CIA pada masa kejayaan Soviet vs. Afghanistan. Di Brussels dan Ankara juga dibahas cara rekrutmen ribuan relawan Muslim di negara-negara Timur Tengah dan dunia Islam lainnya untuk berjuang bersama pemberontak Suriah. Militer Turki akan menjamu para relawan ini, melatih mereka dan mengamankan perjalanan mereka ke Suriah. (DEBKAfile, 14 Agustus, 2011) Tentara bayaran ini kemudian diintegrasikan kedalam organisasi teroris yang disponsori oleh AS dan sekutu, termasuk Al nusrah dan ISIS.

Gerakan “gerakan protes” di Dera’a ini memiliki penampilan yang sama dengan teroris-teroris yang didukung oleh Mossad dan/atau intelijen Barat. Sumber-sumber pemerintah menunjukkan bahwa di sana ada peran kelompok Salafi radikal (didukung oleh Israel). Secara bersama-sama, media Barat menggambarkan peristiwa di Daraa sebagai gerakan protes terhadap Bashar Al Assad. Dilaporkan, bahwa di Daraa, para penembak jitu menarget polisi dan demonstran.

Berita dari media Israel dan Lebanon (yang mengakui kematian polisi) menggambarkan apa yang sesungguhnya terjadi di Daraa pada 17-18 Maret. The Israel National News Report menegaskan:

“Seven police officers and at least four demonstrators in Syria have been killed in continuing violent clashes that erupted in the southern town of Daraa last Thursday. … and the Baath Party Headquarters and courthouse were torched, in renewed violence on Sunday. (Gavriel Queenann, Syria: Seven Police Killed, Buildings Torched in Protests, Israel National News, Arutz Sheva, March 21, 2011)

Artinya: “Tujuh polisi dan setidaknya empat demonstran di Suriah tewas dalam bentrokan yang meletus di kota Daraa Kamis lalu. … Mabes Partai Baath dan gedung pengadilan dibakar dalam kekerasan yang terjadi pada hari Minggu. (Gavriel Queenann, Syria: Seven Police Killed, Buildings Torched in Protests, Israel National News, Arutz Sheva, March 21, 2011)

Laporan berita Yi LIbnan juga mengakui pembunuhan tujuh polisi di Daraa.

[They were killed] “during clashes between the security forces and protesters… They got killed trying to drive away protesters during demonstration in Dara’a.”

“Mereka tewas dalam bentrokan antara pasukan keamanan dan pengunjuk rasa … Mereka terbunuh saat mencoba untuk menghalau pengunjuk rasa selama demonstrasi di Dara’a.”

Dari berita ini, mestinya kita semua bisa mengerti bahwa peristiwa di Daraa ini bukanlah “aksi damai” seperti yang diklaim oleh media Barat. Berdasarkan berita ini, dapat dilihat bahwa pihak polisi Suriah lebih banyak yang tewas daripada para “demonstran”. Hal ini penting, karena dengan demikian, jumlah kepolisian dari awal kalah banyak dibandingkan para demonstran bersenjata. Dari laporan-laporan ini diketahui adalah bahwa banyak diantara para demonstran bukanlah demonstran tapi teroris yang terlibat dalam tindakan pembunuhan berencana dan pembakaran. (Lihat Israel National News, 21 Maret 2011)

Laporan berita Israel itu dirangkum dengan judul: Syria: Seven Police Killed, Building Torched In Protest. Dalam rangkuman ini, terlihat jelas bahwa agenda AS-NATO-Israel adalah konsisten dalam mendukung gerakan pemberontakan yang terafiliasi dengan Al Qaeda dengan cara menggabungkan peristiwa kematian polisi dan penembak jitu profesional. Presiden Bashar al Assad kemudian dituduh membunuh rakyatnya sendiri.

Inilah yang dinamakan sebagai strategi “False Flag”. Cara yang sama juga pernah digunakan selama gerakan protes Ukraine Maidan. Pada tanggal 20 Februari 2014, penembak jitu profesional menembaki demonstran dan polisi, lalu menuduh presiden Viktor Yanukovych melakukkan “pembunuhan massal.” Padahal, akhirnya terkuak bahwa para penempak jitu tersebut dikendalikan oleh penentang Presiden Yanukovych, yang kini menjadi bagian dari pemerintahan koalisi.

“Mandat kemanusiaan” dari AS dan sekutunya itu ditopang oleh strategi “False FLag” itu. Mandatnya adalah membunuh warga sipil dengan maksud untuk menjatuhkan legitimasi pemerintah yang menolak untuk mematuhi diktat dari Washington dan sekutu-sekutunya.

Jadi, media Barat secara berjamaah mempresentasikan bahwa protes di Dera’a itu adalah bagian dari gerakan protes pro-demokrasi Arab, yang menyebar secara spontan dari Tunisia, Mesir, dan dari Libya ke Suriah, atau yang biasa disebut sebagai “Arab Spring”. Liputan media Barat ini menitikberatkan pada polisi Suriah dan angkatan bersenjata yang dituduh menembak dan membunuh demonstran “pro-demokrasi”. Sementara, media Barat tidak sadar bahwa peristiwa penembakan polisi yang menewaskan 7 polisi ini benar terjadi. Akan tetapi, media Barat gagal menyebutkan bahwa diantara para demonstran itu ada orang-orang bersenjata serta penembak jitu yang menembaki pasukan keamanan dan pengunjuk rasa. Mari kita lihat.

Demonstrasi tidak dimulai di Damaskus, ibukota negara. Demonstrasi justru dimulai dari Daraa, sebuah kota perbatasan kecil berpenduduk 75.000 jiwa, di perbatasan Yordania Suriah. Kalau di Indonesia, kota Dera’a ini seperti Kota Atambua, yang merupakan pintu gerbang utama menuju Timor Leste melalui perbatasan Motaain. Bedanya, Dera’a masih kalah besar 4 kali lipat jumlah penduduknya. Kenapa tidak dilakukan di Damaskus atau Aleppo, dimana para oposisi politik dan gerakan sosial berada?

The Associated Press menggambarkan protes Dera’a sebagai berikut:

“The violence in Daraa, a city of about 300,000 near the border with Jordan, was fast becoming a major challenge for President Bashar Assad, …. Syrian police launched a relentless assault Wednesday on a neighborhood sheltering anti-government protesters [Daraa], fatally shooting at least 15 in an operation that began before dawn, witnesses said. At least six were killed in the early morning attack on the al-Omari mosque in the southern agricultural city of Daraa, where protesters have taken to the streets in calls for reforms and political freedoms, witnesses said. An activist in contact with people in Daraa said police shot another three people protesting in its Roman-era city center after dusk. Six more bodies were found later in the day, the activist said. As the casualties mounted, people from the nearby villages of Inkhil, Jasim, Khirbet Ghazaleh and al-Harrah tried to march on Daraa Wednesday night but security forces opened fire as they approached, the activist said. It was not immediately clear if there were more deaths or injuries.” (AP, March 23, 2011, emphasis added)

Kukasih artinya: “Kekerasan di Daraa, kota berpenduduk sekitar 300.000 di dekat perbatasan dengan Yordania, menjadi tantangan besar bagi Presiden Bashar Assad, …. Polisi Suriah melancarkan serangan tanpa henti kepada pengunjuk rasa anti-pemerintah, penembakan fatal setidaknya kepada 15 orang dalam operasi yang dimulai sebelum fajar, kata para saksi mata. Setidaknya enam orang tewas dalam serangan pagi di masjid al-Omari di kota pertanian selatan Daraa, dimana demonstran turun ke jalan-jalan dalam rangka reformasi dan kebebasan politik, kata para saksi mata. Seorang aktivis mengatakan bahwa polisi menembak tiga orang yang memprotes di pusat kota setelah senja. Enam mayat lagi ditemukan di kemudian hari, katanya. Karena korban bertambah, orang-orang dari desa-desa terdekat dari Inkhil, Jasim, Khirbet Ghazaleh dan al-Harrah mencoba untuk berbaris di Daraa Rabu malam, tapi pasukan keamanan melepaskan, kata seorang aktivis. Tidak jelas apakah ada korban tewas atau cedera.” (Associated Press, 23 Maret 2011)

Laporan dari Associated Press ini jelas salah: mereka mengabarkan bahwa Daraa adalah kota berpenduduk 300.000, padahal penduduknya adalah 75.000. Yang menjadi masalah lagi adalah laporan ini tidak memberitakan masalah kematian polisi. Laporan mengenai kematian polisi ini penting untuk menilai apa yang sebenarnya terjadi. Bila ada korban polisi (tertembak), seharusnya ada aksi saling tembak antara demonstran dan polisi.
Lalu, siapakah para “demonstran” dan penempak jitu yang berada di atas atap yang menembaki polisi? Laporan berita Israel dan Lebanon (yang mengakui kematian polisi) memberikan gambaran yang lebih jelas tentang apa yang terjadi di Daraa pada 17-18 Maret. Israel National Report News dan Ya Libnan, yang di atas telah kita bahas, bisa disimpulkan sebagai berkut:

1. Ini bukan “aksi damai” seperti yang diklaim oleh media Barat. Beberapa “demonstran” memiliki senjata api yang digunakan untuk menembaki polisi: polisi menembaki demonstran bersenjata dan berhasil membunuh empat dari meeka”.

2. Menurut Israel News, dari jumlah korban awal, jumlah polisi yang tewas lebih banyak daripada jumlah demonstran yang tewas: 7 polisi yang tewas vs 4 demonstran. Hal ini penting karena ini menunjukkan bahwa kepolisian Suriah kalah banyak dibandingkan jumlah kelompok bersenjata terorganisir yang menyamar menjadi demonstran itu. Menurut sumber-sumber media Suriah, ada juga penembak jitu di atas atap yang menembaki polisi dan para pengunjuk rasa.

Laporan resmi menunjukkan bahwa polisi menembaki militer, sebaliknya orang-orang bersenjata itu juga menembaki polisi. Dalam laporan Al Jazeera, April 29 2011, Daraa digambarkan sebagai “A City Undersiege” atau Kota yang Terkepung. Bacalah naskah berita ini dengan hati-hati:

“Tanks and troops control all roads in and out. Inside the city, shops are shuttered and nobody dare walk the once bustling market streets, today transformed into the kill zone of rooftop snipers. Unable to crush the people who first dared rise up against him – neither with the secret police, paid thugs or the special forces of his brother’s military division – President Bashar al-Assad has sent thousands of Syrian soldiers and their heavy weaponry into Deraa for an operation the regime wants nobody in the world to see. Though almost all communication channels with Deraa have been cut, including the Jordanian mobile service that reaches into the city from just across the border, Al Jazeera has gathered firsthand accounts of life inside the city from residents who just left or from eyewitnesses inside who were able to get outside the blackout area. The picture that emerges is of a dark and deadly security arena, one driven by the actions of the secret police and their rooftop snipers, in which soldiers and protestors alike are being killed or wounded, in which cracks are emerging in the military itself, and in which is created the very chaos which the regime uses to justify its escalating crackdown.” (Daraa, a City under Siege, IPS / Al Jazeera, April 29, 2011)

Ini kukasih terjemahannya: “Tank-tank dan pasukan pemerintah mengontrol semua jalan masuk dan jalan keluar. Toko-toko tutup, tak ada yang berani keluar ke jalanan, hari ini berubah menjadi zona pembunuhan para penembak jitu di atap. Tak mampu menghancurkan orang-orang yang pertama kali berani melawannya—tidak dengan polisi rahasia, preman bayaran, atau pasukan khusus dari divisi militer—Presiden Bashar al-Assad mengirimkan ribuan tentara Suriah dengan persenjataan lengkap ke Deraa untuk sebuah operasi militer dimana tak seorang pun di dunia ini boleh tahu. Meskipun hampir semua saluran komunikasi dengan Deraa telah terputus, termasuk layanan sellular Yordania yang mencapai ke Dera’a, Al Jazeera berhasil mengumpulkan berita dari warga yang baru saja meninggalkan kota, atau dari saksi mata yang mampu keluar dari daerah pemadaman itu. Anda akan membayangkan kota yang gelap dengan pengamanan yang mengerikan: satu sisi digerakkan oleh polisi rahasia dan penembak jitunya, dimana para demonstran dan militer telah terbunuh atau terluka, dimana perpecahan terjadi pada pihak militer, dan dimana ini telah menciptakan kekacauan, dimana rezim Assad memakainya untuk menjustifikasi perpecahan yang semakin menjadi-jadi.” (Daraa, a City under Siege, IPS / Al Jazeera, April 29, 2011)

Tetapi, al-Jazeera justru melaporkannya seperti ini:

“Tank dan pasukan pemerintah mengontrol semua jalan masuk dan dan jalan keluar,” “Ribuan tentara Suriah dengan persenjataan berat masuk ke Daraa.” Dikatakan bahwa situasi seperti telah berlangsung selama beberapa minggu. Artinya apa? Artinya, mestinya para demonstran bayaran itu tidak dapat memasuki Dera’a dong, iya dong, ding dong.

Lalu dikatakan, “Orang-orang yang tinggal di kota berada di rumah mereka, tidak ada yang berani keluar ke jalanan.” Pertanyaannya adalah: jika tidak ada yang berani berada di jalanan, lalu di mana para demonstran? Siapa yang demo kalau begitu? Hantu?
Pertanyaan pentingnya adalah: siapa yang berada di jalanan? Menurut Al Jazeera, para pengunjuk rasa berada di jalanan bersama dengan militer. Baik para demonstran dan militer itu ditembaki oleh “polisi rahasia yang berpakaian preman”, oleh “preman bayaran” dan penembak jitu yang disponsori pemerintah. Kesan yang disampaikan dalam laporan ini adalah bahwa korban peristiwa Dera’a adalah pertikaian antara polisi dan militer. Namun, laporan tersebut juga mengatakan bahwa tentara (dalam jumlah ribuan) mengontrol semua jalan masuk dan keluar dari kota, tetapi mereka ditembak atas oleh polisi rahasia yang berpakaian preman.

Inilah yang disebut sebagai outright fabrication atau berita palsu atau berita buatan atau berita pesanan. Tujuan antaranya adalah agar masyarakat dunia berpersepsi bahwa tentara dibunuh oleh polisi dan “penembak jitu pemerintah”, dimana tujuan akhirnya adalah untuk menyangkal keberadaan kelompok teroris bersenjata. Anda sendiri bisa menilainya dari pemberitaan media Barat sendiri.

Menurut laporan Xinhua (30 April 2011), “kelompok teroris” bersenjata”menyerang daerah perumahan prajurit” di provinsi Daraa, “membunuh seorang sersan dan melukai dua orang lainnya”.
Sementara pemerintah memikul tanggung jawab berat untuk kasus salah-penanganan operasi militer-polisi ini, termasuk kematian warga sipil, laporan mengkonfirmasi bahwa kelompok teroris bersenjata juga menembaki pengunjuk rasa dan warga setempat. Kejahatan tersebut lalu ditimpakan kepada angkatan bersenjata, polisi, dan pemerintah Bashar Al Assad. Dengan demikian, “masyarakat internasional” menggambarkan Assad sebagai orang yang memerintahkan pembunuhan warga Suriah yang tak terhitung jumlahnya.

Faktanya, Anda tahu, bahwa “wartawan asing” dilarang melaporkan di dalam wilayah Suriah, sampai-sampai banyak informasi jumlah korban yang berseliweran tanpa bisa diverifikasi kebenaran dan “saksi”nya. Siapa yang melarang? Yang melarang adalah aliansi AS-NATO, dengan tujuan agar mereka dapat menggambarkan bahwa peristiwa di Suriah adalah sebagai gerakan protes damai yang sedang ditindas oleh “rezim diktator”.

Perlu kita ketahui bersama, saat itu, “AS dan NATO memiliki pesawat tempur, kapal perang dan kapal selam yang bergerak dalam rangka menyerang Libya, yang tentu saja dapat digunakan terhadap Suriah—selain enam Armada AS dan asset militer NATO yang secara permanen ditempatkan di Mediterania. Pada tanggal 27 April, Rusia dan China telah mencegah AS dan NATO-nya mendorong Resolusi 1973 atas Suriah di Dewan Keamanan PBB, melalui Wakil Duta Besar Rusia untuk PBB Alexander Pankin. Rusia dan China menyatakan bahwa situasi di Suriah saat ini “tidak memberikan ancaman bagi perdamaian dan keamanan internasional.” Kita tahu betul bahwa Suriah adalah mitra sejati terakhir Rusia di Mediterania dan dunia Arab. Suriah juga mengoperasikan salah satu dari dua pangkalan angkatan laut Rusia di luar negeri, yaitu di Tartus, sedangakan yang lainnya berada di Crimea Ukraina. (Rick Rozoff, Libyan Scenario For Syria: Towards A US-NATO “Humanitarian Intervention” directed against Syria? Global Research, April 30, 2011)

Tujuan utamanya adalah untuk memicu kekerasan sektarian dan kekacauan politik di Suriah dengan diam-diam mendukung organisasi teroris. Masih ingat dengan data yang saya tunjukkan dari Jendral Wesley Clark? Jika masih ingat, maka Anda mestinya mengerit bahwa kebijakan luar negeri jangka panjang AS adalah “regime change” atau perubahan rezim dan destabilisasi Suriah sebagai negara-bangsa independen, melalui proses “demokratisasi” rahasia atau melalui cara-cara militer. Faktanya, Suriah ada pada daftar “negara-negara nakal”, yang ditargetkan untuk diintervensi oleh militer AS. Seperti ditegaskan oleh mantan komandan NATO Jenderal Wesley Clark:

“[The] Five-year campaign plan [includes]… a total of seven countries, beginning with Iraq, then Syria, Lebanon, Libya, Iran, Somalia and Sudan” (Pentagon official quoted by General Wesley Clark).”

Lima tahun rencana kampanye [termasuk] … mengambil alih tujuh negara, dimulai dengan Irak, kemudian Suriah, Lebanon, Libya, Iran, Somalia dan Sudan.” (Pentagon official quoted by General Wesley Clark)

Tujuannya adalah untuk melemahkan struktur Suriah (Anda pun sudah membaca kan status saya yang berjudul ISIS buatan ASSAD?). Pada saat yang sama, AS membenarkan intervensi kemanusiaan yang disponsori oleh PBB, berupa embargo pada Suriah (termasuk sanksi), serta pembekuan aset bank Suriah di lembaga keuangan asing di luar negeri. Yang jelas Pentagon memasukkan Suriah kedalam roadmap-nya, yaitu pada akhirnya perang atas Suriah harus dilaksanakan seperti yang telah direncanakan oleh Washington dan Tel Aviv. (Rujuklah kebocoran dokumen Defense Intelligence Agency, History of Foreign Meddling in Syria, dan seterusnya)

Peta Alawiyyin

Ada yang mengatakan bahwa sebab kerusuhan sosial dan protes massa di Suriah adalah pengangguran yang semakin meningkat, kondisi social yang semakin memburuk, terutama sejak pemerintah menjalankan reformasi ekonomi pada tahun 2006 di bawah bimbingan IMF. “Obat ekonomi” IMF adalah penghematan, pembekuan upah, deregulasi sistem keuangan, reformasi perdagangan dan privatisasi. (Lihat IMF Syrian Arab Republic — IMF Article IV Consultation Mission’s Concluding Statement, http://www.imf.org/external/np/ms/2006/051406.htm, 2006)

Katanya, dengan pemerintahan yang didominasi oleh minoritas Alawiyyin, Suriah bukanlah “model masyarakat” yang mengakui hak-hak sipil dan kebebasan berekspresi. Faktanya, Suriah adalah negara sekuler independen di dunia Arab. Sikapnya yang populis, anti-imperialis, dan sekuler, itu diwarisi dari partai Baath yang mengakomodir orang-orang Muslim, Kristen dan Druze. Berbeda dengan Mesir dan Tunisia, di Suriah rakyatnya mendukung Presiden Bashar Al Assad. Gerakan aksi besar di Damaskus pada 29 Maret, “dengan puluhan ribu pendukung” Presiden Al Assad nyaris tak pernah disebut-sebut. Malahan, foto-foto dan rekaman video dari aksi yang mendukung Al Assad ini digunakan oleh media Barat untuk meyakinkan publik internasional bahwa Presiden sedang berhadapan dengan aksi unjuk rasa anti-pemerintah.

Laporan-laporan menunjukkan bahwa teroris ini terintegrasi dalam kelompok Islam. Tidak ada bukti konkret organisasi Islam apa yang berada di balik teroris. Pemerintah pun belum merilis siapa kelompok-kelompok ini.

Baik Ikhwanul Muslimin Suriah, dimana pemimpinnya tinggal di Inggris, dan Hizbut Tahrir yang sedang di-banned, adalah diantara yang telah membiayai gerakan protes itu. Lho kok bisa? Masak iya? Iya kok masak? Hizbut Tahir (yang dipimpin oleh Omar Bakri Muhammad) cenderung mendominasi gerakan Islam Inggris. Hizbut Tahir juga dianggap penting dan strategis bagi Secret Service Inggris MI6, untuk kepentingan Anglo-Amerika di Timur Tengah dan Asia Tengah. (Lihat https://therearenosunglasses.wordpress.com/…/is-hizb-ut-ta…/)

Sedangkan para pendukung dan anggota dari partai ”Hizbut Tahrir” mengibarkan bendera partai mereka dan menyanyikan slogan selama protes di Tripoli, Lebanon utara, untuk mengungkapkan solidaritas dengan pengunjuk rasa Suriah, 22 April 2011. REUTERS/Mohamed Azakir. Hizbut Tahrir juga mengadakan demonstrasi anti-Assad di Tripoli, Lebanon (40 km dari perbatasan Suriah), 22 April 2011.

Suriah adalah negara Arab sekuler, masyarakat sangat toleran, dimana umat Islam dan Kristen memiliki sejarah hidup dalam damai selama ber-abad-abad. Hizbut Tahrir adalah gerakan politik radikal berkomitmen menciptakan kekhalifahan Islam. Di Suriah, tujuan Hizbut Tahrir adalah untuk mengacaukan negara sekuler ini. Di Indonesia juga, hihi.

Sejak perang Soviet-Afganistan, badan-badan intelijen Barat serta Israel Mossad secara konsisten menggunakan berbagai organisasi teroris Islam sebagai “aset intelijen” mereka. Baik Washington dan Inggris telah memberikan dukungan terselubung untuk “teroris” di Afghanistan, Bosnia, Kosovo dan Libya, dll sebagai sarana untuk memicu perselisihan etnis, kekerasan sektarian dan ketidakstabilan politik. Gerakan protes yang dipentaskan di Suriah itu adalah mencopas model Libya. Pemberontakan di Timur Libya terintegrasi dengan Kelompok Pejuang Islam Libya (LIFG) yang didukung oleh MI6 dan CIA. Tujuan utama dari gerakan protes Suriah, melalui kebohongan media dan rekayasa, adalah untuk menciptakan perpecahan dalam masyarakat Suriah serta membenarkan “intervensi kemanusiaan” pada akhirnya.

Kesimpulannya Anda ambil sendiri-sendiri saja. Boleh menganggap semua data ini bohong. Boleh membela PBB dengan bukti di atas. Boleh juga mengikuti alur investigasi media di atas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s