TOLERANSI NABI TERHADAP NON-MUSLIM DAN BAU BUSUK MULUT PENDUKUNG TERORISME


SIapakah kalian, mengaku Islam tapi meludahi wajah mulia Nabi SAW. Siapakah kalian, mengatasnamakan Islam, tapi kekaluan kalian persis seperti babi hutan....
Siapakah kalian, mengaku Islam tapi meludahi wajah mulia Nabi SAW. Siapakah kalian, mengatasnamakan Islam, tapi kelakuan kalian persis seperti babi hutan….

Fallacy atau sesat pikir adalah senjata terampuh siapapun untuk membuat audience-nya selalu membebek. Karena dengan fallacy ini, audience terjaga kebodohannya. Termasuk para teroris, mereka menyebarkan ajaran-ajarannya pun selalu melalui fallacy. Mereka mengetahui betul bahwa penyakit rata-rata orang adalah malas berpikir, sehingga ajaran apapun yang mampu menina-bobokkan akan laris ditelan mentah-mentah.

Saya ambil kasus yang belum lama terjadi, misalnya tewasnya Santoso. Dahulu Santoso lebih dikenal sebagai teroris daripada sebagai mujahidin. Sekarang, setelah tewas, Santoso dikenal sebagai agen minyak wangi: konon mayatnya mengeluarkan semerbak harum mewangi. Tentu saja sangat menggelikan, karena pelaku perampokan, pembunuhan, dan puluhan kriminal ini, tewasnya malah dianggap sebagai pahlawan.

Fallacy-nya mudah saja dikenali. Islam itu mengakui adanya 2 jenis orang kafir (non-muslim), yaitu Dzimmi dan Harbi. Yang dzimmi harus dilindungi, seperti orang-orang Islam melindungi diri dan keluarganya sendiri. Itu ajaran Nabi SAW. yang kebenarannya diakui oleh ijma’ ulama. Berbeda dengan Dzimmi, jenis kafir yang kedua, yaitu Harbi, harus diperangi, meskipun para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Ramadhan Buthi dalam Fiqhu al-Sirah, menyarankan agar orang-orang muslim yang hidup di negara kafir harby, boleh bertaqiyyah, atau berpura-pura tidak melakukan apa-apa, padahal sedang berjuang di bawah tanah.

Bank BCA, para anggota kepolisian RI, dan—apalagi—masyarakat awam yang non muslim sekalipun, adalah entitas-entitas yang hidup di negara Indonesia. Mereka hidup di dalam naungan negara Republik Indonesia. Jika pun diantara mereka ada yang berlabel “non-muslim”, jelas kufurnya mereka itu ada dalam jenis Dzimmi, yaitu kafir yang harus dilindungi, karena mereka tidak sedang berperang dengan kita. Mereka tidak mengangkat senjata melawan orang Islam. Jika pun ada pemikiran filosofis yang mengatakan bahwa BCA, misalnya, adalah bank kafir yang merugikan negara dalam kasus BLBI, maka cara memeranginya pun harus seimbang dengan cara dia berperang melawan kita, ini baru misalnya lho. Jika, misalnya ini benar, BCA berperangnya dengan jalan politik dan keuangan, maka kita tak boleh mengangkat senjata memberangusnya, karena secara Qawaid Fiqih, tuduhan bahwa BCA tengah memerangi kita hanya dikategorikan sebagai “kecurigaan” atau al-dzann, sedangkan kaidahnya berbunyi: jika ada dzann yang bertentangan dengan hakikat, maka yang dimenangkan adalah hakikat. Hakikatnya apa? Pada hakikatnya, BCA tidak tengah melakukan makar di negara kita ini. Artinya, bahwa bank-bank yang dirampok oleh kelompok Sanatoso, dan entitas-entitas yang diterror, bahkan dibunuh, itu wajib dilindungi oleh umat Islam.

Sadar atau tidak, mengakui Santoso dkk. sebagai Mujahid itu seperti mengatakan bahwa apa yang diajarkan oleh Nabi SAW. itu salah. Nabi SAW. mengajarkan toleransi tingkat tinggi pada saat beliau memimpin Madinah. Umat beragama lain dibiarkan hidup memeluk agamanya masing-masing. Di dalam Piagam Madinah, tidak ada itu ceritanya orang Islam boleh meneror saudaranya sebangsa atas alasan apapun. Artinya, jika Santoso dkk. diklaim mati syahid, mau tak mau orang-orang yang mengklaim itu mengakui bahwa Nabi SAW. salah: Nabi selalu salah, Santoso selalu benar. Bukti kebenaran Santoso apa? Buktinya baunya wangi saat mati. Aneh bukan?

Anehnya di mana? Bagaimana mungkin ajaran Nabi SAW. yang merupakan fakta dibantah dengan cerita hoax yang dinyatakan sebagai fakta?

Fakta adalah hal atau keadaan yang merupakan kenyataan atau sesuatu yang benar-benar ada atau terjadi. Fakta bersifat objektif, oleh karena itu, setiap orang akan memiliki kesamaan pandangan tentang satu fakta. Kebenaran fakta itu mutlak dan tidak bisa dibantah. Fakta memiliki dua sifat: fakta umum dan fakta khusus. Fakta umum adalah fakta/keadaan/peristiwa yang dapat ditemukan atau terjadi secara umum, atau sudah merupakan kelaziman. Misalnya, matahari terbit dari timur dan terenam di barat. Semua mamalia menyusui anaknya. Fakta khusus adalah fakta/keadaan/peristiwa yang ditemukan atau terjadi secara khusus atau istimewa atau ada keadaan tertentu saja. Misalnya, Messi mendapatkan Ballon D’or tahun lalu. Nah, fakta-fakta ini diketahui bersama oleh banyak orang, diakui kebenarannya, tanpa ada keraguan sedikit pun. Bau wangi Siyono dan Santoso itu tidak bisa disebut sebagai fakta.

Selama ini, para penggosip dan para muslim alay itu memang gencar menyebarkan kebenaran sikap intoleransi terhadap non-muslim. Seolah-olah al-Quran dan Hadis memang mengajarkan intoleransi itu. Ayat-ayat dan hadis dipakai secara telanjang bulat tanpa embel-embel ilmu al-Quran dan ilmu hadis. Mereka memakai ayat-ayat al-Quran yang berbahasa padat itu seperti seseorang memakan kue pancong: tanpa ilmu dan skill. Akhirnya, doktrin kacau ini diterima dengan baik oleh orang-orang Islam dari dua golongan: golongan bodoh dan pemalas, dan golonngan pintar tapi memiliki kepentingan memaintain jamaah bodohnya.

Tanpa panjang-lebar, saya akan mengutip Piagam Madinah, yang diterjemahkan dari Ahmad Ibrahim al-Syarif dalam Daulah al-Rasul fi al-Madinah. Harapan saya, Anda bisa membaca atau mengcopasnya, agar Anda semua mengetahui betapa besarnya toleransi Nabi SAW. kepada orang-orang yang berbeda agama. Juga, bagaimana Nabi SAW. mempersatukan umat Islam dan umat agama lain untuk bersatu membangun Madinah (negara). Piagam Madinah ini membuktikan bahwa Nabi SAW. tidak pernah mengajarkan intoleransi terhadap pemeluk agama lain. Ini juga membuktikan tidak benar bahwa Islam itu bermusuhan dengan orang-orang non-muslim, seperti Yahudi dan Nasrani. Yang betul itu, Islam selalu bermusuhan dengan orang-orang yang dzalim. Ini pun membuktikan bahwa para teroris adalah sekumpulan manusia berotak kerdil, yang didukung oleh orang-orang yang bermulut bau, menentang Rasulullah SAW. tetapi masih merasa sebagai orang yang beragama Islam.

 

PIAGAM MADINAH

Bismillahirrahmanirrahim. Surat Perjanjian ini dari Muhammad-Nabi; antara kaum Mukmin dan Muslim dari kalangan Quraysh dan Yatsrib beserta yang mengikuti mereka dan menyusul mereka dari berjuang bersama mereka:

Pasal 1

Sesungguhnya mereka satu umat, lain dari (komuitas) manusia lain

Pasal 2

Kaum muhajirin dari Quraisy sesuai adat kebiasaan yang baik yang berlaku di kalangan mereka, bahu membahu membayar diyat (denda atas pembunuhan) di antara mereka dan mereka membayar tebusan tawanan dengan cara baik dan adil di antara mukminin.

Pasal 3

Banu Auf sesuai dengan adat kebiasaan baik yang berlaku di kalangan mereka, bahu membahu membayar diyat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan  baik dan adil di antara mukminin

Pasal 4

Banu Sa’idah sesuai dengan adat kebiasaan baik yang berlaku di kalangan mereka, bahu membahu membayar diyat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan  baik dan adil di antara mukminin.

Pasal 5

Banu Al Hars sesuai dengan adat kebiasaan baik yang berlaku di kalangan mereka, mereka bahu membahu membayar diyat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan  baik dan adil di antara mukminin

Pasal 6

Banu Jusyam sesuai dengan adat kebiasaan baik yang berlaku di kalangan mereka, mereka bahu membahu membayar diyat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan  baik dan adil di antara mukminin.

Pasal 7

Banu An Najjar sesuai dengan adat kebiasaan baik yang berlaku di kalangan mereka, mereka bahu membahu membayar diyat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan  baik dan adil di antara mukminin.

Pasal 8

Banu ‘Amr bin ‘Auf sesuai dengan adat kebiasaan baik yang berlaku di kalangan mereka, mereka bahu membahu membayar diyatdi antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan  baik dan adil di antara mukminin.

Pasal 9

Banu Al Nabit dengan adat kebiasaan baik yang berlaku di kalangan mereka, bahu membahu membayar diyat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan  baik dan adil di antara mukminin.

Pasal 10

Banu Al ’Aus dengan adat kebiasaan baik yang berlaku di kalangan mereka,  bahu membahu membayar diyat di antara mereka seperti semula, dan setiap suku membayar tebusan tawanan dengan  baik dan adil di antara mukminin.

Pasal 11

Sesungguhnya mukminin tidak boleh membiarkan orang berat menanggung utang diantara mereka tetapi membantunya dengan baik dalam pembayaran tebusan atau diat.

Pasal 12

Seorang mukmin tidak diperbolehkan membuat persekutuan dengan sekutu mukmin lainnya tanpa persetujuan dari padanya.

Pasal 13

Orang-orang mukmin yang taqwa harus menentang orang yang diantara mereka mencari atau menuntut sesuatu secara zalim , jahat, melakukan permusuhan atau kerusakan di kalangan mukminin. Kekuatan mereka bersatu dalam menentangnya, sekalipun ia anak dari salah seorang di antara mereka.

Pasal 14

Seorang mukmin tidak boleh membunuh orang beriman lainnya lantaran membunuh orang kafir. Tidak boleh pula orang beriman membantu orang kafir (membunuh) orang beriman.

Pasal 15

Jaminan Allah satu. Jaminan diberikan oleh mereka yang dekat. Sesungguhnya mukminin itu saling membantu, tidak bergantung kepada golongan lain.

Pasal 16

Sesungguhnya orang Yahudi yang mengikuti kita berhak atas pertolongan dan santunan, sepanjang (mukminin) tidak terzalimi dan ditentang olehnya.

Pasal 17

Perdamaian mukminin adalah satu. Seorang mukmin tidak boleh membuat perdamaian tanpa ikut serta mukmin lainnya di dalam suatu peperangan di jalan Allah, kecuali atas dasar kesamaan dan keadilan di antara mereka.

Pasal 18

Setiap pasukan yang berperang bersama kita harus bahu membahu satu sama lain

Pasal 19

Orang-orang mukmin itu membalas pembunuh mukmin lainnya dalam peperangan di jalan Allah. Orang-orang beriman dan bertakwa berada pada petunjuk yang terbaik dan lurus.

Pasal 20

Orang musyrik (Yatsrib) dilarang melindungi harta dan jiwa orang (musyrik) Quraisy, dan tidak boleh bercampur tangan melawan orang beriman.

Pasal 21

Barang siapa yang membunuh orang beriman dan cukup bukti atas perbuatannya, harus dihukum bunuh, kecuali wali terbunuh rela (menerima diat). Segenap orang beriman harus bersatu dalam menghukumnya.

Pasal 22

Tidak dibenarkan orang mukmin yang mengakui piagam ini, yang percaya pada Allah dan Hari Akhir, untuk membantu pembunuh dan memberi tempat kediaman kepadanya. Siapa yang memberi bantuan dan menyediakan tempat tinggal bagi pelanggar itu, akan mendapat kutukan dari Allah pada hari kiamat, dan tidak diterima dari padanya penyesalan dan tebusan.

Pasal 23

Apabila kamu berselisih tentang sesuatu, penyelesaiannya menurut (ketentuan) Allah Azza Wa Jalla dan (keputusan) Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Pasal 24

Kaum Yahudi memikul biaya bersama mukminin selama dalam peperangan.

Pasal 25

Kaum Yahudi dari Bani ‘Auf adalah satu umat dengan mukminin. Bagi kaum Yahudi agama mereka, dan bagi kaum muslimin agama mereka. Juga (kebebasan ini berlaku) bagi sekutu-sekutu dan diri mereka sendiri, kecuali bagi yang zalim dan jahat. Hal demikian akan merusak diri dan keluarga

Pasal 26

Kaum Yahudi Banu Najjar diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Auf.

Pasal 27

Kaum Yahudi Banu Hars diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Auf

Pasal 28

Kaum Yahudi Banu Sa’idah diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Auf.

Pasal 29

Kaum Yahudi Banu Jusyam diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Auf

Pasal 30

Kaum Yahudi Banu Al-’Aus diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Auf.

Pasal 31

Kaum Yahudi Banu Sa’labah diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Auf

Pasal 32

Kaum Yahudi Banu Jafnah dari Sa’labah diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Auf.

Pasal 33

Kaum Yahudi Banu Syutaibah diperlakukan sama seperti Yahudi Banu ‘Auf

Pasal 34

Sekutu-sekutu Sa’labah diperlakukan sama seperti mereka (Banu Sa’labah).

Pasal 35

Kerabat Yahudi (di luar kota Madinah) sama seperti mereka (Yahudi).

Pasal 36

Tidak seorang pun dibenarkan (untuk berperang), kecuali seizin Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ia tidak boleh dihalangi  (menuntut pembalasan) luka (yang dibuat orang lain). Siapa berbuat jahat (membunuh), maka balasan kejahatan itu akan menimpa diri dan keluarganya, kecuali ia teraniaya. Sesunggunya Allah sangat membenarkan ketentuan ini.

Pasal 37

Bagi kaum Yahudi ada kewajiban biaya dan bagi mauk muslimin ada kewajiban biaya. Mereka (Yahudi dan muslimin) bantu membantu dalam menghadapi musuh piagam ini. Mereka saling memberi saran dan nasehat. Memenuhi janji lawan dari khianat. Seseorang tidak menanggung hukuman akibat (kesalahan) sekutunya. Pembelaan diberikan kepada pihak yang teraniaya.

Pasal 38

Kaum Yahudi memikul bersama mukiminin selama dalam peperangan.

Pasal 39

Sesungguhnya Yatsrib itu tanahnya haram (suci) bagi warga piagam ini.

Pasal 40

Orang yang mendapat jaminan (diperlakukan) seperti diri penjamin, sepanjang tidak bertindak merugikan dan tidak khianat.

Pasal 41

Jaminan tidak boleh diberikan kecuali seizin ahlinya.

Pasal 42

Bila terjadi suatu persitiwa atau perselisihan di antara pendukung piagam ini, yang dikhawatirkan menimbulkan bahaya, diserahkan penyelesaiannya menurut (ketentuan) Allah Azza Wa Jalla, dan (keputusan) Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sesungguhnya Allah paling memelihara dan memandang baik isi piagam ini.

Pasal 43

Tidak ada perlindungan bagi Quraisy (Mekkah) dan juga bagi pendukung mereka.

Pasal 44

Mereka (pendukung piagam) bahu membahu dalam menghadapi penyerang kota Yatsrib.

Pasal 45

Apabila mereka (pendukung piagam) diajak berdamai dan mereka (pihak lawan) memenuhi perdamaian serta melaksankan perdamaian itu, maka perdamaian itu harus dipatuhi. Jika mereka diajak berdamai seperti itu, kaum mukminin wajib memenuhi ajakan dan melaksanakan perdamaian itu, kecuali terhadap orang yang menyerang agama. Setiap orang wajib melaksanakan (kewajiban) masing-masing sesuai tugasnya.

Pasal 46

Kaum Yahudi Al ‘Aus, sekutu dan diri mereka memiliki hak dan kewajiban seperti kelompok lain pendukung piagam ini, dengan perlakuan yang baik dan penuh dari semua pendukung piagam ini. Sesungguhnya kebaikan (kesetiaan) itu berbeda dari kejahatan (pengkhianatan) . Setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya. Sesungguhnya Allah paling membenarkan dan memandang baik isi piagam ini.

Pasal 47

Bahwa kebaikan bukanlah kejahatan dan bagi yang melakukannya hanya akan memikul sendiri akibatnya; sesungguhnya Allah bersama pihak yang benar dan patuh menjalankan isi piagam ini. Sesungguhnya orang tidak akan melanggar isi piagam ini kecuali dia zalim atau pembuat dosa. Barangsiapa keluar atau tinggal di Madinah, keselamatannya terjamin kecuali yang zalima tau pembuat dosa. Sesungguhnya Allah menjadi pelindung bagi yang berbuat baik dan bertakwa; dan (demikian pula) Muhammad Rasulullah.

 

Muhammad Ibni Abdillah

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s