5 DALIL SUPER KUAT KEISLAMAN ABU THALIB


Nabi SAW. tidak meminta apa-apa atas jasa-jasa beliau. Beliau hanya diperintahkan oleh Allah agar meminta balasan kepada kita agar mencintai keluarganya. Tidak lebih dari itu.
Nabi SAW. tidak meminta apa-apa atas jasa-jasa beliau. Beliau hanya diperintahkan oleh Allah agar meminta balasan kepada kita agar mencintai keluarganya. Tidak lebih dari itu.

Sebenarnya, keluarga Nabi SAW. tidak perlu dibela-bela, kerena Allah SWT. yang akan membela mereka. Mungkin kalimat yang pas untuk mengungkapkannya begini, “Walaupun seluruh dunia mengkafirkan keluarga Nabi SAW., jika memang kenyatannya mereka memang muslim, ya muslim saja.” Tetapi, sebagai pencinta Nabi SAW. saya merasa terpanggil menuliskan bukti-bukti keislaman Abu Thalib. Dengan bukti ini, seharusnya kita semua sudah teryakinkan bahwa Abu Thalib adalah seorang Muslim.

Berikut adalaha 5 dalil yang membuktikan bahwa Abu Thalib adalah seorang Muslim.

DALIL PERTAMA:
Tidak Dipisahkannya Fatimah binti Asad dengan Abu Thalib
Firman Allah SWT:
ولا تنكحوا المشركين حتى يؤمنوا

“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman.” (Qs. al-Baqarah 221)

Al-Haitsami dalam Majma’ al-Zawaaid wa Manba’ al-Fawaaid dalam bab Keutamaan Zainab binti Rasulullah SAW. Juz 9 hal. 213

عن ابن إسحاق ، قال : …. وكان الاسلام قد فرق بين زينب بنت رسول الله (ص) وبين أبى العاص بن الربيع ، الا أن رسول الله (ص) كان لا يقدر على أن يفرق بينهما ، فأقامت معه على اسلامها وهو على شركه حتى هاجر رسول الله (ص) إلى المدينة وهي مقيمة معه بمكة

15233—Dari Ibnu Ishaq, berkata, “….. Islam memisahkan antara Zainab binti Rasulillah SAW. dengan Abi al-Ash bin al-Rabi’. Rasulullah SAW. tidak kuasa memisahkan antara keduanya. Zainab telah memeluk agama Islam, sedangkan Abu al-Ash masih dalam keadaan syirk, hingga Rasulullah SAW. berhijrah ke Madinah, sedangkan Zainab masih bersama Abu al-Ash di Makkah….”

PEMBAHASAN:
1. Kenapa Nabi SAW. berusaha memisahkan antara puteri kesayangannya Zainab (yang muslimah) dengan Abu al-Ash (yang kafir), tapi membiarkan Fatimah binti Asad (muslimah) dengan Abu Thalib (yang kafir)? Padahal Fatimah binti Asad termasuk orang-orang yang awal masuk Islam. Bukankah ini adalah bukti bahwa Abu Thalib adalah seorang muslim? Jika tidak, maka berarti Nabi SAW. telah melanggar perintah Allah SWT.
2. Kenapa tidak disebutkan dalam sejarah bahwa Fatimah binti Asad (yang muslimah) meminta dipisahkan dengan Abu Thalib (yang kafir), padahal Fatimah binti Asad adalah seorang Muslimah pintar yang mengerti syariah?
3. Kenapa tidak ada disebut dalam sejarah bahwa Nabi sendiri juga berusaha memisahkan antara Fatimah binti Asad (yang muslimah) dengan Abu Thalib (yang kafir), seperti Nabi juga memisahkan antara Zainab (puterinya yang muslimah) dengan Abu al-Ash (yang kafir)?

DALIL KEDUA
HADIS BUKHARI
‏حدثنا ‏: ‏إسحاق بن إبراهيم ،‏ ‏حدثنا :‏ ‏عبد الرزاق ،‏ ‏أخبرنا :‏ ‏معمر ،‏ ‏عن ‏ ‏الزهري ،‏ ‏عن ‏ ‏سعيد بن المسيب ‏، ‏عن ‏ ‏أبيه ‏، ‏قال :‏ ‏لما حضرت ‏ ‏أبا طالب ‏ ‏الوفاة دخل عليه النبي ‏ ‏(ص) ‏ ‏وعنده ‏ ‏أبو جهل ‏ ‏وعبد الله بن أبي أمية ‏ ‏فقال النبي ‏ ‏(ص) ‏ ‏أي عم قل : لا إله إلا الله أحاج لك بها عند الله ، فقال ‏ ‏أبو جهل ‏ ‏وعبد الله بن أبي أمية :‏ ‏يا ‏ ‏أبا طالب ‏ ‏أترغب عن ملة ‏ ‏عبد المطلب ‏، ‏فقال النبي ‏ ‏(ص) ‏: ‏لأستغفرن لك ما لم أنه عنك فنزلت :‏ ‏ما كان للنبي والذين آمنوا أن يستغفروا للمشركين ولو كانوا أولي ‏ ‏قربى من بعد ماتبين لهم أنهم أصحاب الجحيم

Menjelang wafatnya Abu Thalib, Rasulullah SAW. mendatanginya. Ketika itu di sisinya sudah ada Abu Jahal serta Abdullah bin Abi Umayyah bin Al-Mughirah. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada pamannya, “Wahai paman, katakan Laa ilaaha Illallah, kalimat yang dengan itu aku dapat membelamu di sisi Allah.” Lalu Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayah berkata, “Wahai Abu Thalib, apakah kamu akan membenci agama Abdul-Muthalib.” Rasulullah SAW. bersabda, “Demi Allah, aku akan memohonkan ampunan untukmu selama aku tidak dilarang tentang hal itu kepadamu.” Maka Allah Azza wa Jalla menurunkan (wahyu),

ما كان للنبي والذين آمنوا أن يستغفروا للمشركين ولو كانوا أولي ‏ ‏قربى من بعد ما تبين لهم أنهم أصحاب الجحيم

“Tidaklah sepatutnya bagi nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At-Taubah: 113)

PEMBAHASAN:
Hadis ini menunjukkan kekeliruan al-Bukhari. Surat al-Taubah turun di Madinah, yaitu pada tahun ke-9 Hijrah. Hal ini adalah pendapat seluruh ulama, lihatlah Al-Durar al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma’tsur (Imam al-Suyuthi), Fathul Qadir (Muhammad bin Ali bin Muhammad al-Syawkaani), Abu Syaikh meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Surat al-Bara’ah (al-Taubah) diturunkan setelah Fathu Makkah (Madaniyah), Ibnu Mardawayh dari Ibnu Abbas bahwa Surat al-Taubah diturunkan di Madinah, Ibnu Mardawayh meriwayatkan dari Abdullah bin al-Zubayr bahwa Surat al-Taubah diturunkan di Madinah, Ibnu Mundzir meriwayatkan dari Qatadah, bahwa Surat al-Taubah diturunkan di Madinah, Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakr Al-Anshari al-Qurthubi dalam Tafsir al-Qurthubi menyatakan bahwa Surah al-Taubah adalah surath Madaniyah.

Bagaimana mungkin surat yang turunnya tahun kesembilan Hijrah sedangkan sebab turunnya (asbabunnuzulnya) terjadi jauh sebelum peristiwa Hijrah? Abu Thalib wafat pada tahun kesepuluh kenabian, sedangkan Surat al-Taubah turun 12 tahun setelah kematiannya. Tanpa mengurangi rasa hormat, menurut saya, mengenai ini al-Bukhari tidak valid dalam memberikan informasi.

HADIS KE2

Shahih Bukhari—Kitab Tafsir al-Quran—Surah al-Nisa’— يستفتونك قل الله يفتيكم في الكلالة

 ‏‏حدثنا ‏: ‏سليمان بن حرب ‏، ‏حدثنا :‏ ‏شعبة ،‏ ‏عن ‏ ‏أبي إسحاق ‏: ‏سمعت ‏ ‏البراء ‏ (ر) ‏، ‏قال :‏‏آخر سورة نزلت ‏ ‏براءة ،‏ ‏وآخر آية نزلت :‏ ‏يستفتونك قل الله يفتيكم في ‏ ‏الكلالة

“Surat yang paling akhir diturunkan adalah Surat al-Bara’ah (al-Taubah), dan ayat yang paling akhir diturunkan adalah: يستفتونك قل الله يفتيكم في الكلالة.”

PEMBAHASAN:
Hadis ini juga menjelaskan bahwa informasi dari Imam al-Bukhari, mengenai hal ini, tidak valid . Hadis ini jelas menerangkan bahwa Surat al-Taubah turun di Madinah. Tetapi pada saat dia menjelaskan bahwa turunnya QS. al-Taubah 113 adalah karena kematian Abu Thalib yang kafir, dia mengatakan bahwa Surat al-Taubah adalah surat Makkiyyah. Inkonsistensi ini membuat informasi al-Bukhari tidak valid untuk dijadikan rujukan keimanan.

DALIL KETIGA
Shahih Bukhari—Kitab Manaqib al-Anshar—Bab Kisah Abu Thalib

‏3670 – ‏حدثنا ‏ : ‏مسدد ‏ ، ‏حدثنا ‏: ‏يحيى ،‏ ‏عن ‏ ‏سفيان ،‏ ‏حدثنا :‏ ‏عبد الملك ،‏ ‏حدثنا ‏: ‏عبد الله بن الحارث ،‏ ‏حدثنا :‏ ‏العباس بن عبد المطلب ‏ (ر) ‏، ‏قال للنبي ‏ ‏(ص) ‏: ‏ما أغنيت عن ‏ ‏عمك ‏ ‏فانه كان يحوطك ويغضب لك ، قال :‏ ‏هو في ‏ ‏ضحضاح ‏ ‏من نار ولولا أنا لكان في الدرك الأسفل من النار

“Apa yang kau perbuat untuk pamanmu Abu Thalib? Dahulu ia melindungimu, dan marah demi membelamu. Maka Rasul SAW. bersabda, “Dia di permukaan api neraka, kalau bukan karena aku, niscaya ia di dasar neraka yang terdalam.” (Shahih Bukhari Bab Manaqib pasal : Qisshah Abu Thalib hadits No.3670); (Shahih Muslim Bab Iman, pasal : syafaat Nabi saw Li Abi Thalib wattakhfiif hadits No. 308)

PEMBAHASAN:
Seperti yang pernah saya ceritakan pada status Kritik Hadis Ooh Gitu, dimana hadis menangisi mayat akan menyiksa mayat tak lolos uji karena bertentangan dengan ayat al-Quran “Tidaklah seseorang menanggung dosa orang lain…” (Qs. al-An-am 164), maka hadis Duo Shahih Bukhari-Muslim ini pun tak lolos audisi karena bertentangan dengan ayat-ayat al-Quran. Dan semua yang bertentangan dengan al-Quran pasti salah adanya, tak peduli siapa yang meriwayatkannya. Inilah ayat-ayat yang bertentangan itu:

1. “Mereka (orang kafir) kekal di dalam laknat itu; tidak akan diringankan azab dari mereka dan tidak (pula) mereka diberi tangguh.” (Qs. al-Baqarah 162)

2. “Dan apabila orang-orang zalim telah menyaksikan azab, maka tidaklah diringankan azab bagi mereka dan tidak puIa mereka diberi tangguh.” (Qs. al-Nahl 85)

3. Dan orang-orang yang kafir, bagi mereka neraka Jahannam. Mereka tidak dibinasakan hingga mereka mati, dan tidak diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir. (Qs. Faathir 36)

4. “Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat, yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa`at yang diterima syafa`atnya.” (Qs. Ghaafir 18)

5. “Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya, kecuali golongan kanan,berada di dalam surga, mereka saling menanyakan, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, “Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (neraka) Saqar?” Mereka menjawab, “Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat, dan kami (juga) tidak memberi makan orang miskin, bahkan kami biasa berbincang untuk tujuan yang batil, bersama orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan, sampai datang kepada kami kematian.” Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat (pertolongan) dari orang-orang yang memberikan syafaat.” (Qs. al-Muddatstsir 38-48)

Jadi, dari sini, sudah kita ketahui bahwa riwayat hadis Bukhari-Muslim ini sekali lagi tidak lolos audisi. Bagaimana mungkin Nabi menyatakan dapat memperingan Abu Thalib yang kafir padahal al-Quran menyatakannya tidak bisa? Kecuali bahwa hadis ini tidaklah benar.

DALIL KELIMA
Perlaku Nabi Kepada Mayit Abu Thalib Adalah Perlakuan Kepada Mayit Muslim

Al-Nasa-i—Kekhususan Ali bin Abi Thalib—Halaman 38

– …. أخرجه ابن سعد في طبقاته ، عن عبيد الله بن أبي رافع ، عن علي ، قال :أخبرت رسول الله (ص) بموت أبي طالب فبكى ، ثم قال : اذهب فاغسله وكفنه وواره غفر الله له ورحمه ، فقال البرزنجي كما في أسني المطالب : 35 ، أخرجه أبو داود وابن الجارود وابن خزيمة : وإنما ترك النبي (ص) المشي في جنازته اتقاء من شر سفهاء قريش ، وعدم صلاته لعدم مشروعية صلاة الجنازة يومئذ.

Sumber yang lain adalah: Asna al-Mathaalib, al-Barzanji, dan Tadzkirah al-Khawash, Ibnu Jauzi.

Ibnu Sa’d dalam Thabaqatnya, dari Abdillah bin Abi Rafi’, dari Ali, berkata, “Aku kabarkah kepada Rasulullah SAW. kematian Abu Thalib. Menangislah Nabi SAW. Lalu beliau berkata, “Pergilah, mandikan dan kafanilah dia.” Dan diriwayatkan lagi, “Semoga Allah mengampuninya dan memberinya rahmat.” Dan al-Barzanji berkata di Asna al-Mathaalib 35 yang ditakhir oleh Abu Dawud dan Ibnu al-Jaaruud dan Ibnu Khuzaimah, “Nabi meninggalkan jenazah Abu Thalib untuk menjaga perbuatan jahat dari orang-orang Quraysh. Sedangkan tidak dishalatkannya jenazah Abu Thalib, karena saat itu memang belum turun Syariah tentang Shalat Sunnah Jenazah.

Dari muamalah Rasulullah SAW. kepada mayitnya Abu Thalib ini, sudah bisa diketahui bahwa Abu Thalib adalah seorang Muslim. Sekarang Anda tinggal memilih, menjadi pembenci keluarga Nabi walaupun dalil-dalil keislamannya sudah jelas, atau sebaliknya, menjadi pencintanya.

 

2 thoughts on “5 DALIL SUPER KUAT KEISLAMAN ABU THALIB

  1. Maaf..untuk yg pertama..maksudnya apa tidak memisahkan fatimah dan abu thalib…abu thalib adalah mertua fatimah…fatimah menikah dengan ali bin abu thalib.

    1. Yang istrinya Ali bin Abi Thalib itu Fathimah binti Muhammad. Fatimah yg Anda tanyakan itu Fatimah anaknya Asad, isterinya Abu Thalib, ibunya Ali bin Abi Thalib.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s