MEMANJANGKAN JENGGOT MUBAH SAJA


jenggot
Jenggotmu adalah pilihanmu. Jika memelihara jenggot  itu sunnah menurutmu, maka tunjukkanlah bahwa engkau pengikut sunnah sejati: berperilakulah selayaknya Nabi berperilaku. 

Mungkin tulisan ini sudah basi. Tapi, menurut saya saya harus menuliskannya. Karena orang2 masih saja berdebat mengenai wajib dan tidaknya memelihara jenggot. Orang-orang yang berjenggot bersikeras menyatakan bahwa berjenggot itu wajib dan mendapatkan pahala melakukannya. Sedangkan yang tak berjenggot ada yang mengetahui dalilnya, ada yang asal bersih saja. Ya sudah, saya akan coba berpartisipasi. Semoga ada manfaatnya.

Bantahan dari Sayyid Abdul Aziz Al-Ghumari

Para ulama berpendapat bahwasannya mencukur jenggot itu tidak boleh. Mereka berdalil dengan hadis-hadis Rasulullah SAW. dan Ijma’, bahwasannya mencukur jenggot itu ada tasyabbuh (penyerupaan) dengan wanita dan merubah ciptaan Allah. Dalil ini ditentang oleh Sayyid Abdul Aziz Siddiq al-Ghumari dalam kitabnya Ifaadatu Dzawi al-Afhaam bianna halqi al-lihyah makruuh walaysa biharaam.

Dalil Pertama
Para Ulama berpendapat bahwa perintah untuk memelihara jenggot itu WAJIB, tujuannya untuk membedakan diri kita dengan orang-orang musyrik. 

Bantahannya
Sesungguhnya perintah untuk memanjangkan jenggot selalu bertalian dengan maksud agar berbeda dengan orang-orang musyrik. Rasulullah SAW. bersabda: “Berbedalah dengan orang-orang Nashrani, panjangkanlah jenggotmu.” Tapi kita menemukan bahwa perintah untuk berbeda dengan orang-orang musyrik itu sunnah saja, bukannya wajib. Yang membuat perintah itu bukan wajib adalah bahwa berbeda dengan orang musyrik itu adalah untuk syiar agama.

Banyak dalil-dalil yang menunjukkan bahwa perintah Nabi untuk berbeda dengan orang-orang musyrik itu itu bukanlah wajib. Ada hadis tentang perintah Rasulullah SAW untuk mewarnai uban dengan tujuan untuk berbeda dengan orang-orang Yahudi dan Nashrani. “Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak menyemir uban mereka, maka berbedalah dengan mereka.” (HR. Bukhari) Tetapi beberapa sahabat tidak melakukannya. Mereka menganggap bahwa perintah itu hukumnya mustahabbah. Pada kali lain Rasulullah SAW. memerintahkan untuk memangkas kumis. Tapi pada kenyataannya Umar bin Khaththab memelihara kumisnya, ada dalam atsar bahwa Umar bin Khaththab mengelus-elus kumisnya dan meniupnya ketika marah.

Rasulullah SAW. memerintahkan untuk bershalat di atas sendal dan sepatu agar berbeda dengan kaum musyrikin. Tetapi kenyataannya para ulama memperbolehkan shalat tanpa sendal. Juga hadis yang berbunyi:

اللحد لنا والشق لاهل الكتاب
“Lahad (liang lahat yang bagian sisi arah qiblatnya ada cekungan untuk menempatkan mayit)adalah untuk kita dan Syaq (liang lahat yang cekungannya berada di tengah)adalah untuk selain kita(selain Islam).” Padahal para sahabat setelah itu tidak mengharamkan Syaq. Rasulullah SAW. juga melarang memakai mihrab di masjid-masjid, agar berbeda dengan orang-orang Nashrani di gereja-geraja mereka. Faktanya, di mesjid-mesjid sekarang memakai mihrab. Nabi SAW. juga melarang untuk merenovasi (tasy-yiid) masjid-masjid agar berbeda dengan Nashrani dan Yahudi di gereja dan synagogue mereka. Tapi faktanya para ulama memperbolehkannya. Imam al-Subki bahkan memperbolehkan menghiasi masjid dengan emas dan perak dalam kitabnya Qanaadil al-Madiinah.

Rasulullah SAW. melarang shalat pada saat matahari terbenam, tapi para ulama cuma menghukuminya dengan Karaahah. Nabi SAW. juga melarang mencukur rambut di bagian tengkuk (al-qafaa) agar berbeda dengan kaum Majusi, tapi para ulama menganggapnya makruh saja. Ada pula yang memperbolehkannya. Dan sekarang sudah menjadi kebiasaan alias boleh-boleh saja.

Maka, agar adil, saya akan coba tuliskan semua pendapat ulama tentang hukum mencukur jenggot. Pada dasarnya, hukum mencukur jenggot ini terbelah menjadi 3 bagian: haram, makruh, dan boleh-boleh saja.

PENDAPAT PERTAMA mengatakan bahwa hukum memelihara jenggot itu WAJIB. Ini adalah pendapat Jumhurul Muslimin. Pendapat ini menafsirkan bahwa perintah Nabi untuk memelihara jenggot agar berbeda dengan orang musyrik itu wajib. Diantara yang menafsirkan begini adalah madzhab Hanafi, Maliki, dan Hambali. Mereka memandang bahwa dalam hadis-hadis itu tidak ada tanda dibolehkannya memotong jenggot.

Disamping itu, para ulama itu memperkuatnya dengan dalil al-Quran: Katakanlah, “Taatlah kepada Allâh kepada rasul; jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allâh) dengan terang.” [an-Nûr/24:54].

Juga dalil dari hadis:
Setiap umatku akan memasuki surga kecuali yang enggan. Ditanyakan, siapakah yang enggan itu wahai Rasulullah? Rasul SAW. menjawab: siapa yang taat kepadaku akan masuk surga, siapa yang mengkhianatiku dialah orang yang enggan itu.

Menurut para ulama, memelihara jenggot itu adalah salah-satu dari fitrah manusia. Hadisnya berbunyi begini:

عَشْرٌ مِنْ الْفِطْرَةِ قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكُ وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ وَقَصُّ الْأَظْفَارِ وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ وَنَتْفُ الْإِبِطِ وَحَلْقُ الْعَانَةِ وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ قَالَ زَكَرِيَّاءُ قَالَ مُصْعَبٌ وَنَسِيتُ الْعَاشِرَةَ إِلَّا أَنْ تَكُونَ الْمَضْمَضَةَ
Ada sepuluh perkara fitrah; mencukur kumis, memanjangkan jenggot, bersiwak, beristinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung), memotong kuku, bersuci dengan air, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan dan beristinja’ dengan air. Zakariya berkata, Mush’ab berkata, “Dan aku lupa yang kesepuluh, kecuali ia adalah berkumur-kumur.”

PENDAPAT KEDUA menyatakan bahwa memelihara jenggot itu TIDAK WAJIB. Hukumnya hanya MUSTAHABB (sunnah) saja. Inilah pendapat Ulama Syafi’iyyah. Mereka berpendapat bahwa memelihara jenggot itu adalah kebiasaan saja, dan bukan merupakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadah. Sedangkan hadis sepuluh fitrah di atas menurut Syafi’iah adalah merupakan perkara yang sunnah, bukan wajib.

Al-Syafi’iyyah menolak dalil diwajibkannya memelihara jenggot (a’fuu al-Lihyah) karena hadis ini adalah hadis muallal, atau hadis yang mengandung cacat. Sebab cacatnya adalah frasa “agar berbeda dengan Majusi dan Musyrikin. Setelah diteliti, dalilnya ternyata adalah “Rubahlah uban dan janganlah meniru-niru.” Maka uban bukanlah kewajiban orang Yahudi. Dan para ulama Syafi’iyah tidak pernah mengatakan bahwa mewarnai rambut itu kewajiban karena bertujuan berbeda dengan orang Yahudi.

Demikian juga dengan memanjangkan jenggot, itu sama saja. Jika memanjangkan jenggot itu wajib, maka merubah warna uban itu juga wajib. Dan ini tidaklah benar. Maka tercerabutlah hukum kewajiban memanjangkan jenggot.

Karena perintah memanjangkan jenggot itu selalu bertalian dengan memangkas jenggot, maka itu hukumnya adalah sunnah, seperti yang telah dinyatakan oleh al-Nawawi.

PENDAPAT KETIGA menyatakan bahwa hukum memelihara jenggot itu TIDAK WAJIB, TIDAK JUGA SUNNAH, tetapi hanyalah merupakan KEBIASAAN SAJA, seperti makan, minum, dan berpakaian. Ini adalah pendapat ulama-ulama modern seperti Syikh Mahmud Syaltut dan Syaikh Muhammad Abu Zahrah. Daarul Ifta’ al-Misyriyyah menyatakan pendapat ini dalam fatwa-fatwa yang mereka keluarkan: Fatwa No. 261 11/15/2005. Fatwa itu menyebutkan bahwa hal-hal yang berkaitan dengan kebiasaan seperti makan, minum, berpakian, duduk, dan kebiasaan lain itu hukumnya dianjurkan. Para ulama dalam hal ini sependapat dengan pendapat Syafi’iyyah bahwa memanjangkan jenggot itu adalah sunnah-sunnah kebiasaan saja. Namun, dalam menghukuminya mereka berbeda dengan Syafi’iyyah. Jika syafi’iyyah memandang bahwa memanjangkan jenggot itu sunnah, sedangkan ulama Mesir ini memandangnya sebagai hal yang boleh-boleh saja alias mubah. Artinya, pelakunya tidak mendapatkan pahala, sedangkan orang yang tak melakukannya juga tak mendapatkan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s