Kenapa Tak Semua Orang Boleh Berdalil Dengan al-Quran-Hadis?


Berdalillah dengan al-Quran dan Hadis sesukamu. Sebannyak-banyaknya orang yang kausesatkan dan kaubuat sesat dari dalil-dalil ngawurmu itu, mungkin menguntungkanmu di dunia, tapi akan menjadi bebanmu di akhirat kelak.
Berdalillah dengan al-Quran dan Hadis sesukamu. Sebannyak-banyaknya orang yang kausesatkan dan kaubuat sesat dari dalil-dalil ngawurmu itu, mungkin menguntungkanmu di dunia, tapi akan menjadi bebanmu di akhirat kelak.

Dahulu, media sosial kembali dibuat bingung dengan kutipan hadis, yang disampaikan oleh Tifatul Sembiring. Twitannya berbunyi begini: “Siapa yang kalian dapati mengerjakan perbuatan kaum Luth (homoseksual), maka bunuhlah…” (HR. Ahmad).

Naskah lengkapnya begini:

من وجدتموه يعمل عمل قوم لوط فاقتلوا الفاعل والمفعول به

“Siapa yang kalian dapati mengerjakan perbuatan kaum Luth (homoseksual), maka bunuhlah kedua pelakunya.”

Pertanyaannya, apakah hadis ini valid? Bagaimana pendapat para ulama mengenai hadis ini? Lalu bagaimana sebenarnya pendapat para ulama mengenai hukuman terhadap LGBT?

Tidak Valid

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Talkhis al-Habir fi Takhrij Ahadits al-Rafi’ al-Kabir membahas hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud (dengan lafadz yang mirip), Turmudzi, Ibn Majah, al-Hakim, dan al-Bayhaqi ini. Menurutnya, sanad hadis ini sangat-sangat dhaif (lemah). Walaupun al-Qurthubi menyatakan kevalidan matan (naskah) hadis ini. Di lain kesempatan, al-Bazzar mentakhrij hadis dari jalan Ashim bin Umar bin Umar al-Umari dari Suhail dari bapaknya, menurutnya hadis ini adalah hadis matruk (yaitu hadis yang salah-satu rawinya dianggap berbohong), yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan naskah seperti ini: “……maka rajamlah dari atas ke bawah.” Benar, hadis ini adalah hadis marfu’ (hadis yang diceritakan oleh sahabat mengenai Nabi), tapi hadis ini dianggap matruk.

Al-Turmudzi berkata bahwa dia mengenal hadis ini dari riwayat Ibnu Abbas naskahnya adalah “Terlaknatlah orang-orang yang melakukan homoseksual.” Dan tidak disebutkan kata “membunuh”. Hadis yang diriwaytakan oleh Ashim bin Umar dari Suhail bin Abi Shalih dari bapaknya dari Abi Hurairah dari Rasulullah SAW. berkata, “Bunuhlah kedua pelaku homoseksual.” Menurut Ibnu Hajar, hadis ini dalam sanadnya ada permasalahan, karena tidak pernah diketahui satu orang pun yang meriwayatkannya dari Suhail bin Abi Shalih selain Ashim bin Umar al-Umari. Maka, hadis ini dhaif. Ada juga yang diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya dan al-Hakim dalam al-Mustadrak-nya, dikatakan hadis ini shahih isnadnya (periwayatannya), padahal belum ditakhrij baik oleh al-Hakim maupun oleh Ahmad. Annasai sendiri mengeluarkan hadis semisal dengan kalimat: “Terlaknatlah para pelaku homoseksual,” seperti yang diisyaratkan oleh al-Turmudzi. Menurut Bukhari, Umar bin Abi Umar itu adalah shaduq (orang jujur), tetapi karena meriwayatkan dari Ikrimah, maka banyak terjadi manaakir (kebohongan). Al-Dzahabi menyatakan bahwa dia bukanlah orang yang dhaif juga bukan didaifkan, melainkan lebih dari itu.

Ada lagi hadis yang berbunyi: “Siapa yang kalian dapati melakukan homoseksual, maka rajamlah dari atas ke bawah.” Menurut al-Dzahabi, menanggapi hadis ini, bahwa salah satu perawinya, yaitu abdurrahman terlalu lemah, dan dianggap saqith (gugur alias gak lolos audisi). Ibnu Hajar dalam Talhish al-Habir 4/54-55 menyatakan bahwa hadis Abu Hurairah ini tidak benar. Hadis ini dinaytakan Matruk alias ada kebohongan di dalamnya.

Nabi Tak Pernah Memaksa

Nabi SAW. adalah sosok yang mulia dan halus budi pekertinya. Sampai-sampai dalam urusan rajam, Nabi SAW. mempertimbangkan banyak hal. Jika pun pertimbangan hukum sudah lengkap, maka Rasulullah SAW. tidak memaksakan hukum itu dijatuhkan kepada pelaku zina atau homoseksual. Berikut hadis riwayat Bukhari, Ahmad dan Abu Dawud, beserta asbabul wurudnya:

عن ا بْنِ عبّاس قال : لما أتى ماعزبن مالك النبي صلى الله عليه وَسلم قال : لَعَلَّكَ قَبَّلْتَ،أَوْغَمَّزْتَ أَوْنَظَرْتَ؟ قَالَ : لاَيَكْنِيْ،قَالَ : نَعَمْ.فَعِنْدَ ذَلِكَ أَمَرَ بِرَجْمِهِ (رواه احمد والبخاريّ وأبوداود)

Dari Ibnu Abbas, ia berkata, tatkala Ma’iz bin malik datang ke tempat Nabi SAW, Nabi SAW bertanya, “Apakah barangkali engkau hanya mencium, atau mungkin engkau sekedar bermain mata atau mungkin sekedar melihat?” Ma’iz menjawab, Tidak, ya Rasulullah. Lalu nabi SAW bertanya, “apakah engkau setubuhi dia?” dengan tidak menggunakan kata sindiran ia menjawab, “Ya.” Ketika itulah lalu dia diperintahkan untuk dirajam. (HR. Ahmad, Bukhari dan Abu Daud).

Kisah Dibalik Hadis

Diriwayatkan bahwa Maiz bin Malik al-Aslami adalah seorang anak yatim dibawah asuhan Hazal bin Nu’aim, lalu ia berzina dengan seorang hamba perempuan dari suku Hay, kemusdian Hazal menyuruhnya untuk menghadap Nabi saw. Dan memberitahu kepadanya apa yang telah ia perbuat barangkali Nabi saw. Mau memaafkannya. Lalu datanglah ia menghadap Nabi saw. Sedang pada waktu itu nabi saw. Berada di Mesjid, Nabi saw. Sedang pada waktu itu nabi saw. Berada diMesjid, ia memaggil: Ya Rasulullah, sesunggguhna aku telah berbuat zina! Kemudian Nabi saw. Berpaling daripadanya dan bersabda kepadanya:

“Celaka kamu! Kembalilah, mohonlah ampunan kepada Allah dan tobatlah kepadanya-Nya!”

Kemudian Ma’iz berpaling ke arah Nabi saw. Lagi dan berkata: sesungguhnya aku telah berbuat zina! Lalu nabi SAW. Berpaling darinya. Kemudian Maiz menghadap lagi kearah nabi saw. Seraya berkata: Sucikanlah diriku ya Rasulullah, sungguh aku telah berbuat zina! Lalu Abu Bakar ash-Shiddiq ra. Berkata: kalau kamu mengaku (seperti itu ) empat kali maka Rasulullah SAW. Akan merajam kamu. Tetapi Maiz tetap menolak dan berkata (lagi): Ya Rasulullah sungguh aku telah berbuat zina, sucikanlah aku!

Kemudian Rasulullah SAW. bersabda:
“Barangkali engkau sekedar mencium, mencubit atau melihat saja?” Maiz menjawab: Tidak !lalu Rasulullah saw. Bertanya kepadanya dengan kata-kata yang tegas maknanya (yaitu kata) “Jima’” lalu Ma’iz menjawab: Ya! Nabi SAW. Bertanya:

“Sehingga kemaluan masuk kedalam vaginanya?” Ia menjawab: Ya! Nabi saw. Bertanya (lagi): “Apakah seperti batang celang masuk kedalam wadahnya atau seperti timba masuk sumur?”Ia menjawab: Ya!

Kemudian Nabi SAW. bertanya lagi: “Tahukah kamu apakah zina itu?” Ia menjawab Ya (aku tahu), yaitu aku berbuat sesuatu dengan cara seperti apa yang dilakukan oleh seorang laki-laki terhadap istrinya sendiri secara halal”. Nabi saw. Bertanya lagi: “ lalu apak kamu maksudkan dengan ucapanmu itu?” Ia menjawab: Akubermaksud agar supaya engkau mensucikan diriku. Lalu Nabi saw. Memerintahkan (agar supaya dirajam), maka dirajamlah dia.

Maka tatkala ia (Ma’iz) merasakan sakitnya terkena lemparan batu ia berteriak-teriak kepada orang banyak: Hai kaumku, kembalikanlah aku kepada Rasulullah saw. Sebab kaumku telah membunuhku dan menipuku serta memberitahukan kepadaku bahwa rasulullah saw. Tidak membunuhku, tetapi orang-orang tetap memukulnya sehingga ia mati.

Kejadian itu disampaikan kepada Rasulullah saw. Kemudian ia bersabda:
“Mengapa kalian tidak membiarkannya (lari), barangkali ia mau bertobat lalu Allah menerima tobatnya”. Tiba-tiba Rasulullah saw. Mendengar sebagian sahabat membicarakan kejadian Ma’iz itu, katanya: sungguh ia telah dirajam seperti anjing. Kemudian Rasulullah saw. Marah seraya bersabda: “Sungguh ia telah bertobat dengan sungguhnya kalau seandainya (tobatnya itu) dibagi untuk seluruh umat tentu mencukupi”

Begitulah pelajaran berharga dari Rasulullah SAW. Jika pun pelaku homoseksual itu harus dihukum, maka harus ada bukti kuat yang membuktikan bahwa seseorang itu melakukannya. Tak cukup dengan pengakuan korban, tetapi juga pengakuan pelaku. Jika pelaku tidak mengaku, maka hukuman itu tidak pernah ada. Kecuali ada bukti-bukti kuat ditambah 2 orang saksi. Kalau menilik dari Hadis Nabi di atas, maka para pelaku yang tak mau dihukum, tidak akan pernah dihukum menurut hukum Islam.

Hadis yang ditwit oleh Tifatul Sembiring pun adalah hadis yang belum jelas kebenarannya. Bahkan banyak yang mengatakan penuh kebohongan. Itulah alasannya kenapa tak sembarangan orang boleh membacakan dalil alQuran dan hadis atas kasus-kasus tertentu jika tidak mengetahui detailnya. Karena alih-alih berdakwah malah hanya akan merusak Islam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s