ISTRI BOLEH MEMAKAI NAMA SUAMI DI BELAKANG NAMANYA


suami istri
Hanya cinta yang membuat suami/istri mau menghabiskan waktu seumur hidup bersama pasangannya: berjuang bersama melewati segala hal.

Di Indonesia, baik di media sosial, maupun di alam nyata, baik oleh anak-anak muda yang tidak belajar agama, maupun para pengajar agama, mempermasalahkan pemakaian nama suami di belakang istri itu sangat marak. Banyak sekali—bahkan bisa dibilang rata-rata—yang mengharamkan pemakaian nama suami di belakang istri itu. Sedikit sekali yang memperbolehkannya.

Yang dipakai adalah dalil ini:
“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan memakai nama bapak-bapak mereka, itulah yang lebih adil d sisi Allah.” [QS. Al-Ahzab : 5]

Berkenaan dengan ayat ini, al-Bukhari berkata, telah menuturkan kepada kami Ma’la bin Asad, teleh menuturkan kepada kami Abdul Aziz bin al-Mukhtar, telah menuturkan kepada kami Musa bin Uqbah berkata, telah menuturkan kepada saya Salim dari Abdullah bin Umar, dari Zaid bin Haritsah anak angkat Nabi SAW. kami memanggilnya Zaid bin Muhammad, sehingga wahyu turun,

“Panggillah mereka dengan memakai nama bapak-bapak mereka. Itulah yang lebih adil di sisi Allah.” Selain Bukhari, juga ada Muslim, Nasa’i, dan Turmudzi yang meriwayatkannya dari jalan Musa bin Uqbah.

Dari ini sudah agak jelas kan ya, bahwa yang dilarang itu memakai nama orang lain sebagai bapaknya. Fulan bin Presiden Soeharto. Padahal Fulan bukan anak Presiden Soeharto.

Menurut Dr. Ali Jumah, mufti Mesir, para perempuan di luar Arab biasanya memakai nama suaminya di belakang nama mereka adalah untuk menunjukkan bahwa mereka sudah bersuami. Hal yang seperti ini sangat jauh dari memakai nama orang lain sebagai nama bapaknya. Bahwa Fulaanah telah bersuamikan Fulan. Tentu saja itu tidak dilarang. Biasa-bisa saja. Baik malah. Bahkan, nama majikan pun boleh lho ditulis setelah nama seseorang. Seperti Ikrimah Maula Ibni Abbas. Bisa juga memakai profesi sebagai nama belakangnya. Seperti al-Ghazali atau tukang tenun sutera.

Dalam Islam, malah laqab atau ciri-khas seringkali ditulis di belakang nama seseorang, seperti al-A’masy (si mata rabun), al-A’raj (si pincang), al-Jaahidz (si mata melotot). Ada lagi malah yang memakai nama ibunya di belakang namanya, yaitu guru Ibnu Syaibah (imam yang alim, pemimpin para hafizh, penulis kitab-kitab besar seperti Al-Musnad, Al-Mushannaf, dan At-Tafsir) yaitu Ismail Ibnu Aliyah. Padahal mestinya Ismail bin Ibrahim. Ini diperbolehkan dengan sepengetahuan bapaknya. Ada juga yang memakai nama suaminya. Siapa yang memulai? Allah-lah yang memulai. Yaitu seperti yang disebutkan dalam Qs. al-Tahrim 10. “Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, Imra’ata Nuh dan Imra’ata Luth. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, tetapi kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah.” Dan pada ayat sesudahnya, disebutkan juga dengan frasa “Imra’ata Fir’aun”. Dalam hadis, Nabi SAW juga sering menyebutkan seperti yang al-Quran sebutkan tadi. Seperti frasa “Sesungguhnya Zainab Imra’atu Mas’ud….”

Yang tidak boleh itu mengakui orang lain sebagai bapaknya. Bahwa si A adalah anak dari si B. Mentang-mentang diangkat anak oleh orang kaya, bapaknya dilupakan dalam silsilah keluarganya, dan memakai nama bapak angkatnya sebagai kebanggaan. Berbeda dengan anak angkat yang seringkali disebut bahwa dia adalah anak si B oleh si B sendiri. Lalu, penyebutan ini menyebar ke mana-mana sehingga menjadi ‘urf. Maka, yang ini tidak apa-apa. Inilah yang dinamakan dengan al-Tasyabbuh.

Ini menjadi menarik karena melibatkan kepercayaan bahwa meniru suatu golongan (dalam hal ini kebiasaan orang Barat yang memakai nama suami mereka atau nama keluarga suami di belakang nama mereka) berarti menjadi bagian dari golongan tersebut. Menurut Dr. Ali Jum’ah, ada dua syarat peniruan (al-Tasyabbuh) itu diharamkan: pertama, pekerjaan/kelakuan/sifat-sifat yang ditiru itu memang asalnya dilarang oleh agama; kedua, peniru memang berniat meniru. Nah, jika kedua syarat ini hilang salah-satunya, maka tidak apa-apa al-tasyabbuh itu.

Ini diperkuat oleh Hadis Nabi SAW. yang diriwayatkan oleh Muslim, dari Jabir bin Abdillah r.a. berkata, “Rasulullah SAW. (shalat) dalam keadaan sakit. Maka kami shalat di belakang beliau, padahal beliau duduk. Rasul menoleh kepada kami, lalu melihat kami sedang berdiri. Beliau memberikan isyarat kepada kami untuk duduk, lalu kami duduk. Setelah salam, berliau bersabda: kalian tadi hampir melakukan apa yang dilakukan oleh orang-orang Persi dan Romawi. Mereka berdiri padahal raja-raja mereka sedang duduk. Jangan lakukan itu. Ikutlah imam-imam (shalat) kalian. Jika imam shalat berdiri, shalatlah sambil beridir. Jika imam shalat duduk, maka shalatlah sambil duduk.” Para sahabat sesungguhnya telah melakukan apa yang orang-orang Persia dan Romawi lakukan, karena telah melakukan shalat sambil beridiri padahal Nabi sedang duduk. Tapi itu tidak mengapa, karena niat untuk al-Tasyabbuh tidak ada. Ibnu Nujaim al-Hanafi dalam al-Bahr al-Raiq berkata, “Menyerupai (al-Tasyabbuh) ahlul kitab itu tidak dilarang dalam segala hal. Kita pun makan dan minum seperti yang mereka lakukan. Yang dilarang adalah peniruan itu dilakukan dalam hal yang dilarang dan sengaja kepingin menyerupai mereka.”

Maka, memakai nama suami di belakang seorang wanita itu tidak menghapuskan nasab bapaknya. Yang tidak boleh itu memakai kata binti yang disandarkan kepada suaminya atau orang lain. Karena memakai kata Bint di belakang namanya itu menjadi seperti pengakuan secara ‘urf bahwa dia adalah keturunan suaminya. Berbeda jika di belakang bin itu bukanlah nama bapaknya melainkan adalah sebuah laqab. Seperti nama Muhammad bin al-Hanafiyah. Padahal beliau adalah putera Sayyidina Ali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s