Amiin, Aamiin, atau Amin, Sama Saja


"Amiin.." Kabulkanlah doa kami ya Allah...
“Amiin..” Kabulkanlah doa kami ya Allah…

Dari sejak saya kecil, pembahasan hukum Amiin dan Aamiin itu masih berlanjut. Bedanya, waktu saya kecil, jawabannya tidak ngawur. Para ustadz menjawabnya dengan baik. Meskipun detail jawaban itu saya telah lupa, tapi yang saya ingat adalah bahwa aamiin dan amiin mempunyai makna yang sama dalam bahasa Arab Masmu’ah.

Sekarang, ustadz-ustadz artis itu menjawab asal-asalan. Saya lihat, syndrome surban telah menjangkiti mereka. Mereka mengira bahwa dengan memakai surban orang langsung menjadi alim ilmu agama dan dapat menjawab sekenanya saja.

Jika mau membahas yang benar Amiin atau Aamiin, kita harus merujuk pada ilmu tata bahasa Arab, yaitu ilmu Nahwu. Rujukan ilmu Nahwu yang teruji–karena kelengkapannya–adalah Alfiyah Ibnu Malik. Berikut saya kutip Syarah Asymuni untuk Alfiyah Ibni Maalik. Syarah ini akan berguna bagi kita untuk mengungkap yang mana yang benar: aamiin atau amiin, atau malah amin saja? Mari kita kutip kitab Asymuni yang membahas tentang “amin” ini. 

أمين بالقصر على وزن فعيل، وآمين بالمد على وزن فاعيل، وكلتاهما مسموعة، فمن الأولى قوله
تَبَاعَدَ مِنِّى فَطَحْلٌ وَابْنُ أُمِّهِ
أَمِينَ فَزَادَ اللَّهُ مَا بَينَنَا بُعْدَا
ومن الثانية قوله:
ـ وَيَرْحَمُ اللَّهُ عَبْداً قَالَ آمِينَا

وعلى هذه اللغة فقيل إنه عجمي معرّب لأنه ليس في كلام العرب فاعيل، وقيل أصله أمين بالقصر فأشبعت فتحة الهمزة فتولدت الألف كما في قوله:

أَقُولُ إذْ خَرَّتْ عَلَى الكَلكَالِ

Maksudnya, kata “amiin” dengan “a” pendek sesuai dengan wazan “fa-iil”, dan kata “aamiin” dengan “a” panjang dengan wazan “faa-iil”, dua-duanya masmu’ah. Masmu’ah ini kalau dalam kamus diartikan sebagai yu’malu bihi atau dilakukan. Artinya, dua-duanya, baik aamiin dan amiin itu dipakai oleh orang Arab, menurut kitab Asymuni. Contohnya yaitu nadzam:

تَبَاعَدَ مِنِّى فَطَحْلٌ وَابْنُ أُمِّهِ
أَمِينَ فَزَادَ اللَّهُ مَا بَينَنَا بُعْدَا

Artinya: Menjauhlah dari aku thahlun dan saudaranya… Amiin (dengan “a” pendek), semoga Allah semakin menjauhkan kita.

Contoh yang kedua adalah

وَيَرْحَمُ اللَّهُ عَبْداً قَالَ آمِينَا
Semoga Allah menyayangi hamba yang mengatakan aamiin (dengan “a” panjang).

Kata aamiin ini adalah bahasa asing yang diarabkan, karena tidak ada dalam bahasa Arab itu wazan “faa-iil” (فاعيل). Aslinya adalah “amiin” dengan “a” pendek. Tetapi, jika hendak memakai kata “aamiin” dengan “a” panjang” maka fathah dari hamzah “a” diisyba’kan dan jadilah “a”-nya panjang.

Seperti kata kalkal (الكلكل), yang berarti dada atas, dipanjangkan menjadi kalkaal (الكلكال) dalam syair ini:

أَقُولُ إذْ خَرَّتْ عَلَى الكَلكَالِ

kata alkalkaal (الكلكال) di sini berasal dari kata الكلكل, yang berarti dada. Apakah kata al-kalkal (dengan a pendek) sudah tidak terpakai? Justru kata al-kalkal (الكلكل)-lah yang dipakai sampai sekarang di kamus-kamus.

Apakah kata amiin dan aamiin ini sama dengan kata amina ya’manu yang berarti aman? Ya berbeda atuuuuh. Amiin atau aamiin di sini bukanlah kalimah fi’i atau kata kerja. Amiin dan aamiin adalah isim yang bermakna sebagai fi’il amar. Di Alfiyah kan disebutkan nadzamnya begini:

والأمر ان لم يك للنون محل….. فيه هواسم نحو صه وحيهل
Lafadz Amar jika tidak menerima nuun taukid adalah “ISIM” (isim fi’il) seperti lafadz shah dan hayyahal.

Lafadz shah (صه) yang bermakna diamlah, tidak bisa dikasih nun taukid menjadi َّصَهَنَ. Dan lafadzh hayahhal (حيّهل) yang bermakna panggillah, tidak bisa diberi nun taukid menjadi َحَيَّهَلَنّ. Demikian juga dengan amiin dan aamiin, mereka berdua tidak menerima nun taukid.

Tafsir Ibnu Katsir pun membenarkan perbedaan ini dengan mengatakan kalimat seperti ini:

[يستحب لمن قرأ الفاتحة أن يقول بعدها : آمين [ مثل : يس ] ، ويقال : أمين . بالقصر أيضا [ مثل : يمين 

Disunnahkan bagi orang yang membaca al-Fatihah untuk membaca “Aamiin” (seperti kata “Yaasiin), atau kata “Amiin” (seperti kata “yamiin).

Tambahan lagi dari Hasiyah al-Shabban, bahwa bacaan Aamiin itu ada yang diimalahkan “a”-nya, yaitu dengan dibaca “Eemiin”. Oke, semoga jelas.

Jadi, sekarang Anda tinggal memilih, Anda mau memakai Aamiin? Boleh. Atau mau memakai Amiin? Boleh juga. Atau Anda mengucapkan Amin? Boleh saja. Tapi Amin yang terakhir itu adalah Amin yang telah disadur kedalam bahasa Indonesia. Bahkan, dalam kitab Hasyiah al-Shabban ‘Ala Syarh al-Asymuni, ucapan Eemiin dibetulkan juga. Jadi, jika Anda ingin mengamini doa-doa saudara-saudara Anda di Facebook dan di media sosial lainnya, Anda cukup memakai Amin (a pendek i pendek) saja. Karena Anda sedang memakai Amin dalam bahasa Indonesia. Boleh-boleh saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s