5 DALIL SUPER KUAT KEISLAMAN ABU THALIB

Sebenarnya, keluarga Nabi SAW. tidak perlu dibela-bela, kerena Allah SWT. yang akan membela mereka. Mungkin kalimat yang pas untuk mengungkapkannya begini, “Walaupun seluruh dunia mengkafirkan keluarga Nabi SAW., jika memang kenyatannya mereka memang muslim, ya muslim saja.” Tetapi, sebagai pencinta Nabi SAW. saya merasa terpanggil menuliskan bukti-bukti keislaman Abu Thalib. Dengan bukti ini, seharusnya kita semua sudah teryakinkan bahwa Abu Thalib adalah seorang Muslim.

Berikut adalaha 5 dalil yang membuktikan bahwa Abu Thalib adalah seorang Muslim.

DALIL PERTAMA:
Tidak Dipisahkannya Fatimah binti Asad dengan Abu Thalib
Firman Allah SWT:

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا ۚ

“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman.” (Qs. al-Baqarah 221)

Al-Haitsami dalam Majma’ al-Zawaaid wa Manba’ al-Fawaaid dalam bab Keutamaan Zainab binti Rasulullah SAW. Juz 9 hal. 213 Continue reading 5 DALIL SUPER KUAT KEISLAMAN ABU THALIB

Amiin, Aamiin, atau Amin, Sama Saja

"Amiin.." Kabulkanlah doa kami ya Allah...
“Amiin..” Kabulkanlah doa kami ya Allah…

Dari sejak saya kecil, pembahasan hukum Amiin dan Aamiin itu masih berlanjut. Bedanya, waktu saya kecil, jawabannya tidak ngawur. Para ustadz menjawabnya dengan baik. Meskipun detail jawaban itu saya telah lupa, tapi yang saya ingat adalah bahwa aamiin dan amiin mempunyai makna yang sama dalam bahasa Arab Masmu’ah.

Sekarang, ustadz-ustadz artis itu menjawab asal-asalan. Saya lihat, syndrome surban telah menjangkiti mereka. Mereka mengira bahwa dengan memakai surban orang langsung menjadi alim ilmu agama dan dapat menjawab sekenanya saja.

Jika mau membahas yang benar Amiin atau Aamiin, kita harus merujuk pada ilmu tata bahasa Arab, yaitu ilmu Nahwu. Rujukan ilmu Nahwu yang teruji–karena kelengkapannya–adalah Alfiyah Ibnu Malik. Berikut saya kutip Syarah Asymuni untuk Alfiyah Ibni Maalik. Syarah ini akan berguna bagi kita untuk mengungkap yang mana yang benar: aamiin atau amiin, atau malah amin saja? Mari kita kutip kitab Asymuni yang membahas tentang “amin” ini.  -lihat naskah lanjutannya>

PUYENGNYA FAHAM JILBAB PUNUK UNTA

Perempuan yang kesenangannya bersolek dan mejeng kiri-kanan untuk menarik perhatian lawan jenis, itu diibaratkan seperti wanita beramput punuk unta.
Perempuan yang kesenangannya bersolek dan mejeng kiri-kanan untuk menarik perhatian lawan jenis, itu diibaratkan seperti wanita beramput punuk unta.

Saya ini orang malas. Jika saya merujuk sebuah apalagi beberapa referensi, khusus untuk jamaah facebook, saya langsung tulis saja apa adanya. Tp saya jelaskan maksudnya sesingkat2nya.

Jadi, selama saya hidup, belum pernah saya menemukan zaman dimana orang2 yang tak mengerti agama menjadi sok mengerti agama hanya karena membaca sebuah artikel. Bahkan jika isi artikelnya adalah bolehnya membunuh ibu yg tak mau berbaiat kpd syaikh2 mereka pun mungkin akan dijalankannya dengan senang hati. Ini sudah banyak buktinya. Mereka tak tau harus bagaimana menyikapi hidup. AlQuran yg mereka bangga2kan tak diketahui kandungannya, apalagi hadis yg dgn seenaknya dibelok2kan maknanya.

Kasus jilbab punuk unta itu sesungguhnya sangat menjijikkan. Padahal kita tau tak ada satu pun lafadz yg menyebutkan kata jilbab. Kata2nya kan kaasiyaatun aariyaatun mumiilaatun maailaatun ru-uussuhunna ka-asnimatil bukhti almaailah. Jadi, kepala yg mirip punuk unta itu tidak berdiri sendiri.

Kita lihat saja syarah orang2 pintar dulu. Jangan buru2 menghakimi dgn ilmu orang2 gak jelas. Imam Nawawi dalam riyadhussalihin bab HARAMNYA PEREMPUAN MENYERUPAI LAKI2 DAN SEBALIKNYA. -lihat naskah lanjutannya>

Ayah-Bunda Nabi SAW. Bukan Penyembah Berhala

penyembah berhala
Jika kepada anak-istrimu saja Anda pasti memilah-milah kabar yang berhembus tentang mereka, lalu bagaimana mungkin Anda menyatakan cinta kepada Rasulullah, sedangkan Anda bernafsu sekali memilih hadis-hadis yang mengkafirkan ayah-bunda beliau? Padahal itu adalah hadis bermasalah.

Hari-hari ini saya benar-benar mual mendengar orang membahas dengan bahagianya bahwa ayah-bunda Nabi SAW. pasti masuk neraka hanya bersandar pada hadis yang tak mutawatir. Yang penting perawinya Bukhari-Muslim pasti merupakan kebenaran. Jadi ukuran kebenaran berpindah dari kevalidan sanad dan matan menjadi asal diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim, maka hadis lain bahkan ayat alQuran, yaitu ayat fatrah, menjadi salah. Atau ini hobby mengkafirkan yg akut, sampai2 orangtua Nabi SAW yg mulia saja tak luput dari hobby buruk mereka.

Para ulama berbeda pendapat ttg masalah ibunda dan ayahanda Rasulullah SAW. Pertama adalah kelompok yg berpendapat bahwa siapapun yg mati sblm Rasul diutus, maka matinya adalah selamat. Ini dikemukakan oleh al-Suyuthi dan ulama2 al-Syafi-iyyah. Kelompok kedua berpendapat bahwa yg selamat selama masa fatrah (masa ketiadaan seorang Rasul) hanyalah anak2. Ini dikemukakan oleh ibnu hazm, ibnu hajar al-asqalani, imam Qurtuby, dan Ibnu al-Jauzi.

Imam Nawawi jelas menyampaikan bahwa orang musyrik pada masa fatrah (jahiliyah) adalah yang menyembah berhala. Sedangkan kedua orang tua Nabi Shallallahu alaihi wasallam tidaklah menyembah berhala. Silahkan baca tulisan tentang bagaimana akhlak kedua orangtua beliau pada berbagai referensi, Demikian juga dengan Ibnu Hajar, beliau pernah berkata yang menyampaikan ucapan Al Kirmaniy bahwa Kabar Aahaad dipakai hanya pada amal perbuatan, bukan pada I’tiqadiyyah (Fathul baari Almasyhur Juz 13 hal 231), termasuk karya-karya Imam Nawawi. Continue reading Ayah-Bunda Nabi SAW. Bukan Penyembah Berhala

APAKAH PATUNG ITU BERHALA?

memahat patung
Bekerjalah sesukamu. Asal engkau tidak menduakan Tuhanmu, dan berkehndak ingin menandingi kekuasan-Nya, maka engkau berada pada koridor yang aman.

Patung dalam al-Quran

Dalam al-Qur’an ada dua jenis patung: PERTAMA: PATUNG YANG DISEMBAH. Patung inilah yang disebut sebagai berhala (ashnaam) dan anshaab.

“Dan demi Allah, sungguh, aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu (ashnaamakum) setelah kamu pergi meninggalkannya.” (Qs. al-Anbiya 57)

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala. (Qs. Ibrahim 35)

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala (anshaab), mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (Qs. al-Maidah 90)

Anshaab adalah berhala yang disembah dengan mengorbankan sesembahan (sesajen berupa hewan yang disembelih).

Maka, sudah jelas bahwa patung seperti yang ada pada ayat-ayat di atas dilarang bagi Muslim: memproduksinya, menjualnya, apalagi menyembelih hewan untuknya. Menyembah patung-patung itu jelas hukumnya syirk. Continue reading APAKAH PATUNG ITU BERHALA?

ISTRI BOLEH MEMAKAI NAMA SUAMI DI BELAKANG NAMANYA

suami istri
Hanya cinta yang membuat suami/istri mau menghabiskan waktu seumur hidup bersama pasangannya: berjuang bersama melewati segala hal.

Di Indonesia, baik di media sosial, maupun di alam nyata, baik oleh anak-anak muda yang tidak belajar agama, maupun para pengajar agama, mempermasalahkan pemakaian nama suami di belakang istri itu sangat marak. Banyak sekali—bahkan bisa dibilang rata-rata—yang mengharamkan pemakaian nama suami di belakang istri itu. Sedikit sekali yang memperbolehkannya.

Yang dipakai adalah dalil ini:
“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan memakai nama bapak-bapak mereka, itulah yang lebih adil d sisi Allah.” [QS. Al-Ahzab : 5]

Berkenaan dengan ayat ini, al-Bukhari berkata, telah menuturkan kepada kami Ma’la bin Asad, teleh menuturkan kepada kami Abdul Aziz bin al-Mukhtar, telah menuturkan kepada kami Musa bin Uqbah berkata, telah menuturkan kepada saya Salim dari Abdullah bin Umar, dari Zaid bin Haritsah anak angkat Nabi SAW. kami memanggilnya Zaid bin Muhammad, sehingga wahyu turun,

“Panggillah mereka dengan memakai nama bapak-bapak mereka. Itulah yang lebih adil di sisi Allah.” Selain Bukhari, juga ada Muslim, Nasa’i, dan Turmudzi yang meriwayatkannya dari jalan Musa bin Uqbah. Continue reading ISTRI BOLEH MEMAKAI NAMA SUAMI DI BELAKANG NAMANYA

Kenapa Tak Semua Orang Boleh Berdalil Dengan al-Quran-Hadis?

Berdalillah dengan al-Quran dan Hadis sesukamu. Sebannyak-banyaknya orang yang kausesatkan dan kaubuat sesat dari dalil-dalil ngawurmu itu, mungkin menguntungkanmu di dunia, tapi akan menjadi bebanmu di akhirat kelak.
Berdalillah dengan al-Quran dan Hadis sesukamu. Sebannyak-banyaknya orang yang kausesatkan dan kaubuat sesat dari dalil-dalil ngawurmu itu, mungkin menguntungkanmu di dunia, tapi akan menjadi bebanmu di akhirat kelak.

Dahulu, media sosial kembali dibuat bingung dengan kutipan hadis, yang disampaikan oleh Tifatul Sembiring. Twitannya berbunyi begini: “Siapa yang kalian dapati mengerjakan perbuatan kaum Luth (homoseksual), maka bunuhlah…” (HR. Ahmad).

Naskah lengkapnya begini:

من وجدتموه يعمل عمل قوم لوط فاقتلوا الفاعل والمفعول به

“Siapa yang kalian dapati mengerjakan perbuatan kaum Luth (homoseksual), maka bunuhlah kedua pelakunya.”

Pertanyaannya, apakah hadis ini valid? Bagaimana pendapat para ulama mengenai hadis ini? Lalu bagaimana sebenarnya pendapat para ulama mengenai hukuman terhadap LGBT?

Tidak Valid

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Talkhis al-Habir fi Takhrij Ahadits al-Rafi’ al-Kabir membahas hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud (dengan lafadz yang mirip), Turmudzi, Ibn Majah, al-Hakim, dan al-Bayhaqi ini. Menurutnya, sanad hadis ini sangat-sangat dhaif (lemah). Walaupun al-Qurthubi menyatakan kevalidan matan (naskah) hadis ini. Di lain kesempatan, al-Bazzar mentakhrij hadis dari jalan Ashim bin Umar bin Umar al-Umari dari Suhail dari bapaknya, menurutnya hadis ini adalah hadis matruk (yaitu hadis yang salah-satu rawinya dianggap berbohong), yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan naskah seperti ini: “……maka rajamlah dari atas ke bawah.” Benar, hadis ini adalah hadis marfu’ (hadis yang diceritakan oleh sahabat mengenai Nabi), tapi hadis ini dianggap matruk. Continue reading Kenapa Tak Semua Orang Boleh Berdalil Dengan al-Quran-Hadis?

MEMANJANGKAN JENGGOT MUBAH SAJA

jenggot
Jenggotmu adalah pilihanmu. Jika memelihara jenggot  itu sunnah menurutmu, maka tunjukkanlah bahwa engkau pengikut sunnah sejati: berperilakulah selayaknya Nabi berperilaku. 

Mungkin tulisan ini sudah basi. Tapi, menurut saya saya harus menuliskannya. Karena orang2 masih saja berdebat mengenai wajib dan tidaknya memelihara jenggot. Orang-orang yang berjenggot bersikeras menyatakan bahwa berjenggot itu wajib dan mendapatkan pahala melakukannya. Sedangkan yang tak berjenggot ada yang mengetahui dalilnya, ada yang asal bersih saja. Ya sudah, saya akan coba berpartisipasi. Semoga ada manfaatnya.

Bantahan dari Sayyid Abdul Aziz Al-Ghumari

Para ulama berpendapat bahwasannya mencukur jenggot itu tidak boleh. Mereka berdalil dengan hadis-hadis Rasulullah SAW. dan Ijma’, bahwasannya mencukur jenggot itu ada tasyabbuh (penyerupaan) dengan wanita dan merubah ciptaan Allah. Dalil ini ditentang oleh Sayyid Abdul Aziz Siddiq al-Ghumari dalam kitabnya Ifaadatu Dzawi al-Afhaam bianna halqi al-lihyah makruuh walaysa biharaam.

Dalil Pertama
Para Ulama berpendapat bahwa perintah untuk memelihara jenggot itu WAJIB, tujuannya untuk membedakan diri kita dengan orang-orang musyrik.  Continue reading MEMANJANGKAN JENGGOT MUBAH SAJA