QAIDAH TADĀKHUL DALAM SIKAP ANTI KEBENARAN


"Menjadi Pandawa atau Kurawa adalah pilihan. Dan pilihan terbaik adalah pilihan yang membuatmu menjadi manusia berakhlak baik."
“Menjadi Pandawa atau Kurawa adalah pilihan. Dan pilihan terbaik adalah pilihan yang membuatmu menjadi manusia berakhlak baik.”

Menurut Babad Tanah Jawi, Sumatera, Madura, Bali itu dulunya adalah pulau Jawa. Kemudian th 1208 M terjadi gempa yg memisahkan Jawa dengan Sumatera, dan tahun 1254 gempa memisahkan Jawa dengan Madura. Sedangkan pulau Jawa sendiri awalnya adalah bagian dari India dengan nama Nusa Kendang. Yang kemudian berpisah karena letusan Gunung menjadi Pulau Jawa dan Bali.

Pada kitab yang sama diceritakan perwatakan orang Jawa, yang menurut saya bukan saja Jawa tetapi sekarang menjadi Indonesia, bahwa watak mereka itu persis seperti cerita Kurawa yang menggambarkan perwatakan satria jahat. Pandawa adalah perwatakan satria baik. Kresna adalah lambang satria yang membela pandawa dgn berbagai konsekwensinya. Karna adalah lambang pembela kurawa dgn berbagai konsekwensinya. Terhadap tokoh Karna ini, menurut Babad Tanah Jawi, terdapat ambivalensi kepribadian orang jawa.

Di satu sisi pembelaan Karna terhadap Kurawa merupakan kesalahan. Namun, pembelaan terhadap status, kedudukan, dan kehormatan yg diterima dari Kurawa bukanlah satu hal yg salah. Membela harga diri dianggap suatu kebenaran. Di sisi lain, karakter Gunawan Wibisana yg lebih memilih Rama sebagai representasi kebenaran dan kebaikan, serta meninggalkan negaranya jg sesuatu yg benar.

Dalam qaidah fiqhyiah, ini disebut sebagai TADĀKHUL, pencakupan hal2 (sifat2) besar kpd hal2 (sifat2) kecil. Sifat India (yang adalah induk dari pulau jawa sumatera dll) yang suka bernyanyi sebelum dan sesudah melakukan aksi, lebih suka bercuap2 dulu sebelum bertindak, suka berjoget dalam mengekspressikan perasaan mereka, menurun ke sebagian besar sikap keseharian kita. Kita lebih banyak menari dan bernyanyinya daripasa beraksi. Kita lebih suka menghabiskan waktu berjoget dan berasyikmasyuk daripada bertindak secara nyata. That’s why we are more likely deserved to be called social media citizens than citizens itself.

Di arena politik bahkan di non politik, sifat Karna lebih disukai daripada sikap Kresna. Karna biasanya kaya dan menonjol. Kresna biasanya dikucilkan dan dibully. Karna lebih bisa menghasilkan banyak uang. Sedangkan Kresna berada di bawah tanah di ujung2 desa dan kota. Sedangkan para Kurawa bebas melakukan perampokan2 dan makar2 lainnya dengan judul besar politik. Lalu di mana pandawa? Pandawa di masa sekarang ya judul besar itu. Para Kurawa berlindung di balik judul besar politik, program2 pembangunan, kementerian, bahkan mungkin kepresidenan. Akibatnya, rakyat tak ada yang merasa menjadi Karna, karena mereka secara bersama2 membela judul besar yang diyakini sebagai Pandawa.

Padahal, untuk menjadi orang yang sadar berada di posisi yang mana, siapapun memerlukan minimal pengetahuan, lebih-lebih ilmu. Untuk mendapatkan pengetahuan, orang harus banyak membaca dan menelaah berbagai sumber, baik sumber berita, sebagai bacaan sekunder, maupun buku-buku, sebagai sumber bacaan primer. Dengan banyak membaca, seseorang minimal telah mendapatkan pengetahuan. Dengan pengetahuan ini, dia akan memiliki state of mind, atau sikap mental. Pengetahuan yang sepotong-sepotong, atau berdasarkan gossip, akan menghasilkan mental yang negatif. Dia akan mudah menyalahkan orang, menyesatkan orang, mengkafirkan orang lain, dan seterusnya. Akibatnya, dia akan selalu merasa pada posisi yang selalu benar, tanpa celah instrospeksi sedikit pun.

Berbeda dengan orang-orang yang kurang baca, orang-orang yang banyak membaca, minimal akan mendapatkan banyak pengetahuan. Pengetahuan yang banyak ini akan menciptakan sikap mental yang baik. Dia akan mudah membuka hati atas informasi apapun. Dengan hati yang terbuka itu (openminded) mereka akan menjadi orang-orang yang mudah diajak berdiskusi. Mereka akan memiliki pandangan bahwa setiap orang bisa saja salah. Jika setiap orang bisa salah, maka dirinya pun bisa salah. Pandangan hidupnya pun bisa juga salah. Untuk itu, mereka akan menjadi orang-orang yang ramah kepada setiap informasi yang menghampirinya.

Yang lebih hebat lagi adalah jika pengetahuan itu kemudian dikonversikan menjadi ilmu. Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan memperdalam informasi-informasi yang didapat itu dengan pertanyaan bagaimana? Misalnya, jika Anda mendapatkan informasi tentang haramnya mencukur habis jenggot, Anda harus bertanya, bagaimana cara berpikirnya mencukur jenggot itu haram? Jika Anda tidak memiliki literatur kitab-kitab klassik yang memungkinkan Anda menjawab pertanyaan itu, Anda harus mencari tahu kepada orang-orang yang Anda anggap berilmu mengenai pertanyaan Anda itu. Jika sudah bertemu dengan orang-orang itu, jangan berhenti sampai di situ, tanyakanlah dari mana asal jawaban mereka itu. Kalau bisa, Anda mengetahui kitab dan bacaannya. Anda cerna baik-baik excerpt atau kutipan-kutipan kitab itu. Mintalah diajarkan terjemahannya per kata. Dengan begitu, Anda telah memiliki ilmu mengenai hukum mencukur jenggot itu. Demikian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s