MASIH TAKUT DAN BERHARAP KEPADA SELAIN ALLAH


"Engkau kepada Tuhanmu ibarat anak kepada orang-tuanya. Engkau semestinya merasa aman dalam aturan-Nya. Sedangkan cinta Tuhan kepadamu tak terhingga melebihi cinta orang-tua kepada anak-anaknya."
“Engkau kepada Tuhanmu ibarat anak kepada orang-tuanya. Engkau semestinya merasa aman dalam aturan-Nya. Sedangkan cinta Tuhan kepadamu tak terhingga melebihi cinta orang-tua kepada anak-anaknya.”
Iman melahirkan rasa takut dan harapan: takut terhadap berbagai keburukan, dan harapan terhadap berbagai kebaikan. Makrifat melahirkan rasa takut dan harapan: yaitu takut dan berharap terhadap yang telah berlalu. Tauhid melahirkan rasa rakut dan harapan terhadap berbagai hakikat. Rasa takut ini mengacu kepada pe-nyaksian Tuhan, yaitu, takut kepada Allah swt. tanpa takut kepada selain-Nya, dan berharap kepada-Nya tanpa pernah berharap kepada selain-Nya.

Iman-Ma’rifat-Tauhid itu ibarat PEGUNUNGAN HATI. Iman adalah gunung yang bertempat di SHADR. Makrifat adalah gunung yang terletak di FUAD. Dan tauhid adalah gunung yang bersemayam di LUBB. Di puncak setiap gunung tersebut ada burung. Burung di gunung SHADR bernama al-nafs al-ammarah bi al-su (jiwa yang memerintahkan keburukan). Burung di gunung QALB dinamakan al-nafs al-mulhamah (jiwa yang mendapat ilham). Burung di gunung FUAD dinamakan al-nafs al-lawwamah (jiwa yang mencela diri). Burung di gunung LUBB dinamakan al-nafs al-muthma’innah (jiwa yang tenang).

Al-nafs al-ammarah bi al-su terbang di atas lembah-lembah kemusyrikan, keraguan, kemunafikan, dan sejenisnya. Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya jiwa ini selalu memerintahkan kepada keburukan kecuali yang dikasihi oleh Tuhanku.” (QS. Yusuf 53)

Jiwa yang diberi ilham kadangkala terbang di atas lembah-lembah ketakwaan, tapi kadangkala terbang di lembah kefasikan. Allah swt. berfirman, “Allah mengilhamkan kepada jiwa ini jalan kefasikan dan jalan ketakwaannya.” (QS. Al-Syams 8) Burung yang terdapat di gunung makrifat, yaitu Jiwa yang suka mencela dirinya sendiri, terbang di atas lembah-lembah yang tinggi dan mulia, menatap berbagai kemuliaan Allah, serta kadangkala bangga dengan berbagai karunia Allah. Dia juga terbang di lembah kehinaan, kerendahan hati, dan kadangkala merasa kecil dan papa. Meskipun demikian, ia selalu mencela dirinya sendiri. Allah berfirman, “Aku bersumpah demi jiwa yang selalu mencela diri.” (QS. Al-Qiyamah 2) Sementara burung di gunung LUBB, yaitu jiwa yang tenang, terbang di lembah-lembah ridha, malu, dengan mengakui tauhid, dan merasakan manisnya mengingat Allah. Allah menjauhkannya dari segala jenis pertentangan. Allah berfirman, “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu.” (QS. Al-Fajr 27-28), “Maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta surga yang penuh nikmat.” (QS. Al-Waqiah 89)

Allah Ngendikan:
“Maka, janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. al-Baqarah 132) Dalam kisah Yusuf AS. disebutkan, “Wafatkan aku dalam keadaan muslim dan masukkan aku ke dalam golongan orang saleh.” (QS. Yusuf 101)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s