AKAL MUSTAFAD MENGHUBUNGKAN MANUSIA DENGAN ALAM MALAKUT DAN KETUHANAN


"Akalmu adalah alam semestamu. Jika pemikiranmu sempit, pertanda alammu sempit. Takutnya kuburmu juga akan sempit."
“Akalmu adalah alam semestamu. Jika pemikiranmu sempit, pertanda alammu sempit. Takutnya kuburmu juga akan sempit.”

akal mustafat
Setiap orang mempunyai akal mustafad. Akal ini menghubungkannya dengan alam malakut atau Ketuhanan. Pernahkah engkau terbersit dalam hatimu hendak melaksanakan kebaikan tertentu, lalu sepersekian detik setelah itu engkau langsung diuji atas kehendak baikmu itu? Saya sendiri mengalaminya. Dan banyak orang yang saya wawancara mengalaminya. Saya yakin setiap orang mengalaminya. Inilah salah-satu pengejawantahan dari QS. al-Ankabut: 2-3 yang berbunyi “Apakah manusia mengira bahawa mereka akan dibiarkan mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka belum diuji?”

Dari mana datangnya bisikin kehendak baik itu? Tentu dari hatimu. Saat engkau berhendak baik itu–seperti pelajaran tentang hati yang telah lalu, maka hati bagian qalb-lah yang menyatakannya. Engkau saat itu berada pada bagian penting dari keimanan. Maka, saat itu level keimananmu berada pada taraf baik. Engkau pun berkehendak memperbaikinya. Lalu engkau berniat baik dalam hati: “Hari ini saya akan sabar menghadapi segala macam godaan. Saya tidak akan marah.” Ujug-ujug setelah itu, tidak sampai sedetik setelah itu, engkau yang sedang menyetir diserempet orang. Engkau membuka jendela mobil, hendak tersenyum melaksanakan niat baikmu tadi. Pengendara motor yang telah menyerempet mobilmu itu lalu melihatmu dengan mata melotot dan berkata, “Gwoblok lu!!!” Engkau yang awalnya mau tersenyum lalu memukul klakson mobil, dan berkata, “Setan lu, sini lu kalau berani!” Dan pengendara motor pun telah berlalu. Tapi engkau masih mengumpat tidak berhenti. Sayangnya, tak lama setelah itu engkau memegang kepalamu dan berkata, “Ya Allah… astaghfirullahaladziim.” Engkau meneysalinya.

Apakah penyesalan itu datang setelah engkau sadar? Tidak. Engkau sebenarnya telah mendengar bisikan untuk bersabar saat engkau diperlakukan tidak adil tadi. Engkau telah mendengarnya. Tapi engkau tidak mempedulikannya. Lalu setelah setan bersorak atas kekalahanmu dan mengurangi pasukannya dalam rangka menggodamu atas keinginan baikmu itu, engkau baru menyadarinya. Itulah yang disebut sebagai peperangan dorongan agama dan dorongan setan.

Akal mustafad dengan demikian adalah receiver yang dimiliki oleh setiap manusia. Dengan akal mustafad ini setiap manusia dapat mendengar penyampaian ayat-ayat Allah langsung dari malaikat-malaikat-Nya atau melalui perantara manusia dan lingkungannya. Allah SWT berfirman: Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?( Q.S. Fushilat ayat 53)

Bisikan malaikat itu sangat tajam terdengar biasanya saat melaksanakan shalat, sesaat selesai shalat dimana engkau menyebut nama Tuhanmu (berdzikir), saat berdoa dalam keadaan suci dari hadats, saat hendak tidur dimana engkau mengalami REM (Rapid Eye Movement), atau saat tidur dimana otak sadarmu berhenti bekerja. Bisikan itu ada dan engkau pasti merasakannya. Hanya saja, jika jasmani menguasai rohanimu, pasti engkau sangat bermasalah dalam mendengarkannya. Jika pun engkau mendengarkannya, engkau dengan mudah akan melupakannya.

Dengan kata lain, setiap manusia memiliki ilmu ladunni, langsung diberikan oleh Allah melalui perantara malaikatnya. Bagi auliya Allah, ilmu ini dapat didengar dan dilihat dengan jelas, sehingga mereka dengan mudah dapat mengingatnya. Tapi bagi manusia biasa, ilmu ladunni ini kedatangannya jarang dapat dideteksi. Barangkali seumur hidup dapat dihitung dengan jari kedatangannya yang terdeteksi dengan baik.

Makanya, Rasulullah menyatakan: “Sesungguhnya kejujuran itu mengantarkan seseorang kepada kebaikan, dan kebaikan ini mengantarkannya kepada surga. Sesungguhnya seseorang yang jujur akan dicatat oleh Allah sebagai orang yang jujur.” Artinya apa? Artinya, bahwa saat engkau mendengar bisikan hendak melakukan kesabaran seperti contoh di atas, lalu engkau benar-benar berniat sabar. Sehingga saat datang cobaan dari Allah atas kehendak baikmu itu engkau benar-benar melakukan kesabaran itu, maka engkau akan dicatat sebagai orang yang sabar. Satu kali engkau melewati cobaan, maka cobaan yang kedua akan bertambah berat. Demikian pula yang ketiga dan yang berikutnya. Namun, sekuat-kuatnya godaan setan tidak akan sekuat pembiasaan baik yang telah engkau lakukan. Maka al-Ghazali menyatakan, Jika engkau telah terbiasa melakukan kebaikan tertentu, maka setan tidak akan mudah menggoyahkanmu. Sekian terimakasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s