INDONESIA YANG INDO-NOESIA ATAU INDO-EIKASIA?


"Mikir!"
“Mikir!”

Tak dapat dipungkiri bahwa hidup kita di negeri tercinta ini begitu dinamis. Engkau tidak akan menemui suatu keadaan yang monotone dari hari ke hari walaupun engkau seorang pengangguran. Tidak di TV, di radio, di balai desa, di alun-alun, di mana pun, di forum-forum diskusi online maupun off-air, di majelis-majelis ta’lim maupun majelis zikir—baik yang nirlaba maupun yang pemburu rente–sesuatu terjadi begitu bergelombang, dan gelombangnya berdentuman seperti ombak di pantai hu’u yang eksotis.

Ini sesungguhnya adalah peluang besar bagi siapa pun yang mau berpikir. Negeri besar ini menyuguhkan dinamika hidup yang tak pernah berhenti. Dinamika ini menyentuh segala macam bidang. Dinamika negeri ini seperti memberikan suguhan-suguhannya yang berwarna-warni. Mungkin inilah yang disebut sebagai nikmat perbedaan, dimana perbedaan suku dan budaya yang sangat banyak ini juga diikuti oleh suguhan keanegaraman sumber daya alam dan sumber daya kemanusiaan.

Namun, bagi sebagian rakyat Indonesia, nikmat ini malah dijadikan sebagai bencana. Nikmat perbedaan suku, ras, budaya, agama, ini dipandang sebagai kesalahan yang harus diluruskan. Pernahkah engkau mendengar orang berkata, “Dasar orang Padang, lu, pelit!” “Dasar Jawa, lu, udik!” “Dasar China lu!” “Dasar Betawi lu, pemalas!” dan dasar-dasar yang lain? Itu semua timbul karena diri, suku, dan agama pengucapnya merasa lebih baik daripada suku, agama, dan ras orang lain. Yang lebih mengerikan lagi jika kebencian terhadap perbedaan ini membuat sebagian orang merasa perlu untuk meluruskannya dengan jalan pintas: membantai semua orang yang berbeda. Lalu, dengan demikian, kemudian suburlah pendukung-pendukung setia kelompok ISIS, al-Qaeda, Jahbah al-Nusra dan kelompok-kelompok radikal lainnya.

Tingkatan Pengetahuan

Pernahkah kita membenci sesuatu pada satu saat, namun pada saat lainnya dan seterusnya lalu ternyata kita mencintainya? Pernahkah kita pada awalnya membenci pelajaran matematika, namun pada saat kita mengerti bahwa matematika itu adalah ilmu termudah di dunia lalu kita mencintainya, bahkan sangat-sangat mencintainya? Demikian juga kita sering pada awalnya tidak suka jenis makanan tertentu, sebut saja jengkol, petai, letokan, petis asin, dan seterusnya. Namun, setelah kita mengetahui rasanya, manfaatnya untuk kesehatan, dan seterusnya, kita lalu menyukainya. Nah, proses dari membenci ke cinta ini kita sebut sebagai proses pengetahuan.

Menurut Plato, timbulnya pengetahuan merupakan keharusan adanya gabungan yang tidak bisa dipisahkan antara panca indera dan akal. Baginya, panca indera tidak dapat memikirkan sesuatu, dan akal tidak dapat mencerap sesuatu. Hanya bila kedua-duanya bergabung, maka timbullah pengetahuan; mencerap tanpa dibarengi dengan proses berpikir akal budi sama dengan kebutaan, pikiran tanpa isi dari indera sama dengan kehampaan.

Adapun tingkatan pengetahuan menurut Plato dimulai dari tingkatan bawah hingga tingkatan tinggi: dari Eikasia dan pistis, ke Dianoia ke Noesia. Yang pertama dan yang kedua adalah menunjuk pada pemahaman yang masih salah (Doxa), sedangkan yang ketiga dan keempat adalah menunjuk pada pemahaman yang arif (Episteme).

Noesia, dengan demikian, adalah tingkatan pengetahuan tertinggi yang menunjuk pada nilai kesadaran. Pemiliknya bukan saja disebut sebagai orang alim, ulama, orang pintar atau ilmuwan, melainkan juga disebut sebagai orang bijak. Ilmunya dalam, perilakunya menyenangkan, tutur-katanya menyejukkan, pandangannya menentramkan. Karena pengetahuannya berada pada tingkat kesadaran tinggi, maka pemilik tingkatan ini adalah orang positif yang menarik hal-hal dan orang-orang lain untuk berperilaku positif pula.

Dianoia adalah tingkatan pengetahuan di bawah Noesia yang berupa konsep sebagai hasil rumusan atas kenyatan. Pemiliknya adalah orang berilmu. Dia bisa kita sebut sebagai ilmuwan, ustadz, ulama, cendekiawan, cerdik-pandai, kyai dan seterusnya. Ilmunya dalam. Namun hanya sebatas itu. Karena bisa jadi orang-orang yang berada pada level pengetahuan ini hanya memakai pengetahuannya untuk kepentingannya sendiri, dan belum berkesempatan untuk mengkontribusikannya kedalam konsep yang lebih besar dan tinggi: baik dalam tataran karya positif yang dapat menarik hal-hal dan orang-orang agar menjadi sama-sama positif, maupun perilaku yang tinggi. Namun, berguru pada orang-orang pada level ini tidak ada salahnya, malah baik.

Pistis adalah tingkatan pengetahuan yang berupa pendapat dengan berdasar pada kesan inderawi. Pemilik pengetahuan tingkat ini adalah orang-orang yang biasa membaca koran, majalah, menonton pertunjukan kebakaran dan kecelakaan-kecelakaan lain, atau pelalu-lalang, yang menceritakan kembali hasil penginderaannya. Penceritaan kembali hasil penginderaannya inilah yang dipakai oleh pemilik tingkatan ini seolah-olah sebagai ilmu hasil penelitian yang tidak bisa dibantah. Akibatnya, pemilik tingkatan ini yang stagnan, atau yang stop sampai di sini, biasanya berperilaku ambigu alias orang nggenah: bukan ilmuwan tapi sok ilmuwan; bukan ulama, tapi sok ulama; bukan politisi, tapi sok ngerti kasus-kasus politik; bukan sufi, tapi sok-sok wali. Karena ora nggenah jadi kehidupannya pun ikut-ikutan ora nggenah. Masalah-masalah politik yang hanya bisa dijangkau lewat berita-berita di koran, majalah-majalah, dan warung kopi, pun menjadi obyek status sosialnya: pengamat politik. Akibatnya apa? Akibatnya orang ini menghasilkan gossip atau fitnah, tidak lebih dari itu. Demikian juga dan lebih-lebih dengan masalah-masalah agama, pemilik tingkatan ini mengajarkan khayalan-khayalannya sebagai kebenaran agama.

Sedangkan tingkatan terendah adalah Eikasia, yaitu kabar yang beredar yang belum jelas kebenarannya. Nah, pemilik tingkatan ini adalah pemilik kabar yang belum jelas. Jika dia mau meneruskan ke tingkat selanjutnya, maka dia harus meng-cross-checknya lagi, mereview lagi, menelaah dan mempertanyakannya lagi, dan mencari informasi sejenis. Dia harus melakukan tabayyun ke sumber informasi yang valid. Namun, jika pemilik tingkatan ini berhenti sampai di situ saja, maka dia akan menjadi seperti jamaah-jamaah alay yang ngikut saja tanpa reserve. Ada orang ke kanan ikut ke kanan. Ada orang bilang logo coca-cola jika dibalik jadi la Allah wala Muhummad, ikut. Ada orang bilang Jihad ke Suriah itu masuk surga, ikut. Ada yang bilang sedekah 1 dibayar tunai 10 kali lipat langsung di dunia ini, ikut. Ada orang bilang Jokowi PKI, ikutan bilang PKI. Ada yang bilang Bank-bank BUMN digadaikan untuk berhutang ke Tiongkok, ikutan bilang yang sama. Ada yang bilang ISIS adalah pasukan Imam Mahdi, ikutan pergi bergabung atau jadi simpatisannya. Pokoknya hidupnya ngikut aja.

Itulah tingkatan-tingkatan pengetahuan. Sekarang terserah panjenengan, mau jadi orang Indonesia yang Noesia atau yang Eikasia. Orang Indonesia yang Noesia pasti bijaksana, berperilaku baik dan menyenangkan, dan mencintai ilmu pengetahuan. Sedangkan orang Indonesia yang Eikasia biasanya hobby-nya ribut, melanggar peraturan, berperilaku buruk, kata-katanya kasar dan jorok, dan seterusnya dan seterusnya. Orang Indonesia yang Noesia otaknya cemerlang, hatinya lapang, dan dengan kecemerlangan otak dan kelapangan hatinya ini mereka sanggup menangkap signal-signal baik dari Tuhannya, serta peluang-peluang besar dari alam Indonesia yang kaya ini. Orang-orang Eikasia yang cenderung emosianal dan reaktif, mereka menutup diri dari signal Allah dan peluang-peluang yang datang dari alam kepada mereka. Sekian terimakasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s