ISLAM PEMBACA DAN ISLAM PENGGOSSIP


"Sudah berapa buku fiqih yang kaubaca selama hidup, sis?" "Satu, hehehe,,, Satu bab.."
“Sudah berapa buku fiqih yang kaubaca selama hidup, sis?” “Satu, hehehe,,, Satu bab..”

Awalnya saya berpikir bahwa orang-orang yang berwawasan sempit dan gampang terpengaruh itu adalah orang-orang yang tak terpelajar saja, atau minimal orang yang terpelajar tapi mempunyai kepentingan tertentu. Karena, saya berpendirian bahwa level pendidikan itu akan membuat orang menjadi lebih baik dalam berpikir dan memilah-milah. Tapi ternyata itu salah. Betapa kagetnya saya ketika bertemu banyak sekali orang yang berpendidikan minimal s1, tetapi cara berpikirnya itu aneh.

Anehnya gimana? Anehnya begini. Setahu saya, ada prinsip dasar bagi seseorang yang berpendidikan bahwa informasi apapun yang sampai kepadanya harus disaring. Itu anak kecil pun tahu kan? Bahwa jika ada orang memberikan permen kepada mereka (anak kecil), mereka harus melihat dulu bener nggak itu permen. Begitu kan? Atau suka tidak kita mengajari anak kita dengan kalimat begini, “Kalau mau nyeberang lihat kanan-kiri dulu ya!” Nah, itulah yang dinamakan dengan menyaring informasi atau tabayyun. Jika anak kecil saja memakai metode penyaringan informasi atau tabayyun dalam kesehariannya, sudah tentu orang dewasa apalagi yang berpendidikan lebih bisa melakukannya kan?

Orang yang berpendidikan, mengetahui atau tidak istilah Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi, seharusnya melakukan ketiga hal tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Ontologi, yaitu menanyakan dengan pertanyaan apa. Setelah kita melalui ontologi, kita berlanjut ke epistemologi. Epistemologi berusaha mendalami pengetahuan pertanyaan ontologi kita dengan pertanyaan pertanyaan mengapa. Ini agak berat, karena sudah pasti memerlukan minimal referensi yang cukup. Sedangkan aksiologi merupakan kelanjutan dari epistemologi dengan menggunakan pertanyaan bagaimana. Maksudnya bagaimana sikap kita selanjutnya menindaklanjuti pengetahuan kita sebagai hasil dari pertanyaan mengapa tadi.

Jika ada informasi yang datang kepada mereka, mereka harus bertanya, “Informasi apa ini?” Maka mulailah dia membaca informasi tersebut, sehingga dia mengetahui bahwa informasi itu adalah mengenai “PKI akan dihidupkan kembali oleh Jokowi”. Setelah mengetaui informasi itu, jika dia berhenti sampai di situ, maka tentu saja dia sangat jauh untuk hanya disebut sebagai orang aqil baligh atau orang dewasa. Karena kalau hanya mengetahui informasi lalu dia telan bulat-bulat, bahkan kriteria mumayyiz atau anak kecil yang pandai pun belum.

Ingatkah kita jika anak kita bertanya tentang kematian, lalu kita menjawab, semua orang akan mati. Berhentikah anak kita sampai di situ sambil manggut-manggut? Tidak kan? Dia pasti akan bertanya, kok bisa mati? Kenapa mati? Orang mati itu lalu akan ke mana? Bisa hidup lagi nggak? Kenapa nggak bisa hidup lagi? Kok itu Uje yang sudah mati hidup lagi di TV? Kalau begitu nanti papa kalau mati bisa muncul terus dong di TV kayak Uje? Dan seterusnya dan seterusnya. Pertanyaan itu akan berhenti jika dia telah puas merasa pertanyaannya terjawab. Nah, serangkaian pertanyaan anak kecil tadi itu disebut sebagai ontologi. Jadi, setelah kita bertanya apa, siapa, kapan, di mana, itu kita baru menelusuri tahap ontologi.

Setelah kita mengerti betul tentang informasi tersebut, maka kita berlanjut ke tahap Epistemologi dengan bertanya mengapa. Sampeyan harus bertanya kenapa ada informasi bahwa PKI akan dihidupkan oleh Jokowi? Sampeyan mesti mencari tahu apakah masuk akal PKI itu dihidupkan kembali setelah terjadi tragedi berdarah antara PKI dan ummat Islam seluruh Indonesia? Mungkinkah ummat Islam bodoh semua sehingga membiarkan ini terjadi? Mungkinkah Jokowi yang bodoh mengambil risiko begitu besar dengan menghidupkan kembali PKI di Indonesia? Apa untungnya bagi Jokowi menghidupkan PKI kembali? Dan seterusnya dan seterusnya. Cara bertanyanya harus fair dan jawabannya juga harus obyektif. Jika itu sampeyan semua lakukan, maka sampeyan sudah berada pada posisi orang yang berilmu, dan layak dikatakan sebagai orang berpendidikan.

Minat Baca Amburadul

Sayangnya, kita harus mengakui bahwa baik ontologi, epistemologi, apalagi aksiologi, itu berbanding lurus dengan minat baca. Orang dapat bertanya apa itu karena mereka mengetahui apa yang harus ditanya. Orang bisa menanyakan apakah itu umum al-balwa, karena dia rajin membaca buku fiqih. Jika tidak membaca buku fiqih, maka tak mungkin dia bisa bertanya istilah umum al-balwa. Demikian juga dengan pertanyaan-pertanyaan yang lain. Artinya, orang bisa bertanya dengan betul karena dia mengetahui bahwa pertanyaan itu dapat mengantarkannya kepada jawaban yang betul. Makanya, jika minat baca seseorang kurang, maka sudah tentu dia tidak akan mengerti apa-apa. Kalau pun terlihat mengerti, maka dia hanya kelihatan mengerti, padahal sebenarnya tidak.

Harus kita akui bahwa berdasarkan survey UNESCO, rata-rata orang Indonesia minat bacanya rendah. Bayangkan, orang Indonesia per tahunnya hanya membaca tak sampai satu judul buku. Bandingkan dengan orang Malaysia yang menghabiskan tiga judul buku bacaaan per tahunnya. Atau orang Jepang menghabiskan sampai 10 buku per tahun per orangnya. Sementara di tingkat remaja, skor rata-rata kemampuan membaca remaja Indonesia menempati rangking 57 atau lebih rendah dari Montenegro, Yordania, dan Tunisia.

Jadi, selama ini saya salah mengira bahwa orang-orang yang gampang mengkafirkan dan menyesatkan orang itu adalah orang-orang yang tak berpendidikan. Selama ini saya mengira bahwa orang-orang yang getol mendukung ISIS, ngotot mengkafirkan Gus Dur, Said Aqil Siradj, Quraish Shihab; mengkafirkan orang-orang yang mengucapkan selamat natal; menuduh sesat dan masuk neraka orang-orang yang merayakan maulid Nabi, bertawassul, tahlil, mendukung Basyar al-Asad, merangkul orang-orang Syiah, dan seterusnya; memalaikatkan tokoh-tokoh ulama terentu, menganggap mereka tidak pernah salah, adalah orang-orang bodoh yang tak pernah mengenyam bangku sarjana. Saya kaget bukan kepalang ternyata mereka, baik di media sosial maupun kehidupan sehari-hari itu, adalah orang-orang yang berpendidikan tinggi. Kenapa mereka bisa terjerumus dalam jurang takfirisme seperti itu? Jawabannya adalah karena tak pernah membaca dan membuka diri. Itu saja.

Tradisi Bergossip

Bergossip adalah bertukar informasi yang tak jelas dari sumber yang tak jelas tanpa tujuan dan alur pemikiran yang jelas. Contoh bergossip adalah membicarakan tentang hukum Maulid Nabi. Yang berbicara tentang hukum maulid Nabi ini tak jelas: tak jelas pendidikannya, tak jelas referensinya, tak jelas alur logikanya, bahkan tak jelas orangnya. Ini bisa terjadi di mana saja, terutama di forum-forum facebook. Muncul s A dengan akun tertentu mengemukakan dalil-dalilnya. Dalil-dalil ini tentu saja tidak jelas karena kita tidak mengerti dalil ini didapat dari mana, dikemukakan oleh siapa, dan kapasitas dia mengemukakan dalil ini sebagai apa. Maksudnya begini. Di era informasi serba google ini, bahkan anak saya yang baru berumur 10 tahun pun mengerti betul cara mencari informasi di google. Pertanyaan apa pun dapat dia jawab hanya dengan sekali klik dengan memakai metode Boolean, bahkan pertanyaan tentang status hadis, kacau kan? Padahal kita mengerti betul bahwa Google itu dari segi informasi-informasi Islam itu dikuasai oleh ajaran-ajaran Ibnu Utsaimin, Bin Baz, dkk. Tiba-tiba dia membuka FB saya dan melihat ada status tentang pengharaman maulid Nabi SAW. Dia pun ikutan nimbrung di forum debat itu dengan mengemukakan dalil-dalil yang dia copas dari Google. Bolehkah itu? Tentu saja tidak boleh. Kenapa? Anak saya tidak mengerti apa arti sebenarnya dari dalil-dalil itu. Dia hanya sekedar meng-copas dan menyanggah. Dia tidak mengerti maksud dalil yang dicopas itu apa, asbabul wurud adanya dalil itu apa. Dalil itu berkenaan dengan apa.

Celakanya, sangat bisa jadi rekan-rekan berdebat anakku ini pun sama, yaitu orang-orang yang tak pernah belajar tentang ilmu-ilmu penggunaan dalil itu. Tiba-tiba dia copas bahwa Nabi tidak pernah merayakan Maulidnya sendiri. Sahabat, Tabiin pun tidak pernah merayakannya. Nah ini orang-orang yang sama-sama tidak mengerti ini cakar-cakaran satu sama lain memperdebatkan hal-hal yang sesungguhnya tidak mereka mengerti. Demikian juga untuk kasus-kasus yang lain, seperti pembid’ahan tawassul, tahlil, berdoa di maqbarah, qunut, dan seterusnya. Atau kasus-kasus politis seperti debat masalah kekayaan freeport yang setiap orang Indonesia harusnya kebagian 4 milyar; masalah Chinaisasi, PKInisasi, dan kristenisasi yang akan dilakukan Jokowi; dan seterusnya.

Inilah yang disebut sebagai gossip. Dan ini terjadi bukan hanya di forum Facebook, tapi juga di ruang-ruang guru, di kantin-kantin kantor, di majelis-majelis ta’lim, dan seterusnya. Bayangkan, bahkan di majelis ta’lim pun sebuah ajaran agama yang berbau gossip pun seringkali muncul. Bagaimana seorang ustadz ditanya tentang hukum tertentu oleh murid pengajiannya menjawab dengan jawaban sekenanya tanpa referensi sama sekali. Jawabannya hanya bertalian dengan suka dan tidak suka. Maka muncullah istilah jilboob dan jilbab syar’i. Bahwa yang tidak memakai jilbab besar itu adalah jilboob dan tidak syar’i. Dan bahwa—dengan demikian—mereka yang memakai jilbab besarlah yang syar’i. Seolah-olah jilbab yang mereka pakai itu adalah sesuai dengan ketentuan syariah, dan yang lain tidak. Padahal, jika orang-orang yang tak mengerti itu membaca, banyak sekali tafsiran tentang jalabib itu hanya sebatas kerudung yang menutupi rambut. Jadi, apakah ulama-ulama seperti Ibnu Katsir, Ibnu Sirin, Ibnu Abi Hatim, al-Qurthubi itu tidak syar’i? Padahal Ibnu Katsir malah menyatakan “Khususnya kepada istri-istri dan anak perempuan Nabi untuk kemulian mereka.” Itu artinya, jilbab bagi Ibnu Katsir hanya wajib untuk istri-istri dan anak-anak perempuan Rasulullah SAW. sedangkan bagi wanita-wanita muslimah tidak wajib, alias hanya sunnah saja. Artinya, tidak berjilbab pun itu memiliki dasar di dalam literatur Islam.

Terserah Anda, mau menjadi muslim pembaca yang pintar dan bijaksana, atau menjadi muslim penggosip yang bodoh lagi angkuh. Muslim pembaca akhirnya melakukan prinsip orang-orang berpendidikan yang terakhir, yaitu aksiologi dengan benar: yaitu dengan melakukan tindakan jihad yang benar. Dia mengerti betul bahwa jihad untuk melawan kemiskinan adalah pemberdayaan ekonomi dan literasi. Sedangkan muslim penggosip, mereka tak melakukan proses ontologi dan epistemologi, tetapi meloncat ke aksiologi. Mereka mengambil kesimpulan bahwa jihad adalah berperang mengangkat senjata, tak ada pilihan lain. Maka bergabunglah para muslim penggosip ini dengan organisasi-organisasi garis keras untuk menyalurkan nafsu kekerasan dan sadisme mereka. Indonesia yang damai ini bagi mereka bukan tempat yang baik untuk mencari pahala jihad. Satu-satunya jalan agar mereka mendapatkan kesempatan berjihad adalah membuat negara ini menjadi tidak aman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s