Allah Memakai Penanggalan Syamsiyah Tapi Sebagian Muslim Mengkafirkannya

"Baik bulan maupun matahari adalah ciptaan Allah yang luar biasa, lalu kenapa pula sebagian kita sampai mengkafirkan matahari dan mengislamkan bulan?"
“Baik bulan maupun matahari adalah ciptaan Allah yang luar biasa, lalu kenapa pula sebagian kita sampai mengkafirkan matahari dan mengislamkan bulan?”

Setiap malam tahun baru pasti saya menerima broadcast tentang haramnya perayaan tahun baru dan bahwasannya tahun baru Masehi (Syamsiah) bukanlah penganggalan Islam. Menurut broadcaster penanggalan Islam hanyalah penanggalan Qamariyah. Sedangkan penanggalan Syamsiah adalah penanggalan kafir.

Baiklah, kita langsung aku menuju ke sasaran. -lihat naskah lanjutannya>

Advertisements

INDONESIA YANG NOESIA ATAU EIKASIA?

“Mikir!”

Tak dapat dipungkiri bahwa hidup kita di negeri tercinta ini begitu dinamis. Engkau tidak akan menemui suatu keadaan yang monotone dari hari ke hari walaupun engkau seorang pengangguran. Tidak di TV, di radio, di balai desa, di alun-alun, di mana pun, di forum-forum diskusi online maupun off-air, di majelis-majelis ta’lim maupun majelis zikir—baik yang nirlaba maupun yang pemburu rente–sesuatu terjadi begitu bergelombang, dan gelombangnya berdentuman seperti ombak di pantai hu’u yang eksotis.

Ini sesungguhnya adalah peluang besar bagi siapa pun yang mau berpikir. Negeri besar ini menyuguhkan dinamika hidup yang tak pernah berhenti. Dinamika ini menyentuh segala macam bidang. Dinamika negeri ini seperti memberikan suguhan-suguhannya yang berwarna-warni. Mungkin inilah yang disebut sebagai nikmat perbedaan, dimana perbedaan suku dan budaya yang sangat banyak ini juga diikuti oleh suguhan keanegaraman sumber daya alam dan sumber daya kemanusiaan.

Namun, bagi sebagian rakyat Indonesia, nikmat ini malah dijadikan sebagai bencana. Nikmat perbedaan suku, ras, budaya, agama, ini dipandang sebagai kesalahan yang harus diluruskan. Pernahkah engkau mendengar orang berkata, “Dasar orang Padang, lu, pelit!” “Dasar Jawa, lu, udik!” “Dasar China lu!” “Dasar Betawi lu, pemalas!” dan dasar-dasar yang lain? Itu semua timbul karena diri, suku, dan agama pengucapnya merasa lebih baik daripada suku, agama, dan ras orang lain. Yang lebih mengerikan lagi jika kebencian terhadap perbedaan ini membuat sebagian orang merasa perlu untuk meluruskannya dengan jalan pintas: membantai semua orang yang berbeda. Lalu, dengan demikian, kemudian suburlah pendukung-pendukung setia kelompok ISIS, al-Qaeda, Jahbah al-Nusra dan kelompok-kelompok radikal lainnya. -lihat naskah lanjutannya>

Jika Mencapai Fuad, Doa dan Shalatmu Menembus Langit

"Mereka yang berhati fuad tidak memaafkan, melainkan meminta maaf atas kesalahan orang lain; mereka bukan menjenguk orang sakit, melainkan sakit untuk orang lain; mereka tidak menahan amarah, melainkan rela menjadi obyek amarah orang lain demi kebaikan orang lain pula. Mereka hidup hanya untuk mengabdi kepada Allah."
“Mereka yang berhati fuad tidak memaafkan, melainkan meminta maaf atas kesalahan orang lain; mereka bukan menjenguk orang sakit, melainkan sakit untuk orang lain; mereka tidak menahan amarah, melainkan rela menjadi obyek amarah orang lain demi kebaikan orang lain pula. Mereka hidup hanya untuk mengabdi kepada Allah.”

Hati adalah Istilah yang mencakup seluruh lapisan batin manusia. Ada yang termasuk bagian luar dan ada yang bagian dalam. Hati menyerupai mata. Kalau kita mengatakan kata, “mata”, maka ia mencakup semua bagian mata: putih mata, hitam mata, biji mata, dan cahaya di biji mata. Kesempurnaan penglihatan tergantung dari kesehatan semua bagian mata ini.

Ada lagi kata rumah. Kata rumah mencakup seluruh bagian rumah. Rumah dibatasi dengan tembok dan diamankan dengan pintu yang mempunyai kunci. Di dalamnya ada halaman rumah, ruang tamu, kamar dan brankas. Setiap ruangan mempunyai aturan tersendiri.

Shadr

Shadr (dada) adalah tempat terluar dari hati. Seperti istilah halaman rumah pada rumah. Shadr adalah tempat masuknya bisikan dan penyakit sebagaimana putih mata yang mudah diserang iritasi. Halaman rumah bagian rumah pertama yang paling mudah dimasuki orang asing, polusi, debu-debu jalanan, dan berbagai macam penyakit. Maka, shadr adalah bagian hati dimana ilmu-ilmu yang diperoleh dengan membaca dan mendengar, sifat-sifat dengki, syahwat, dan angan-angan. -lihat naskah lanjutannya>

ISLAM PEMBACA DAN ISLAM PENGGOSSIP

"Sudah berapa buku fiqih yang kaubaca selama hidup, sis?" "Satu, hehehe,,, Satu bab.."
“Sudah berapa buku fiqih yang kaubaca selama hidup, sis?” “Satu, hehehe,,, Satu bab..”

Awalnya saya berpikir bahwa orang-orang yang berwawasan sempit dan gampang terpengaruh itu adalah orang-orang yang tak terpelajar saja, atau minimal orang yang terpelajar tapi mempunyai kepentingan tertentu. Karena, saya berpendirian bahwa level pendidikan itu akan membuat orang menjadi lebih baik dalam berpikir dan memilah-milah. Tapi ternyata itu salah. Betapa kagetnya saya ketika bertemu banyak sekali orang yang berpendidikan minimal s1, tetapi cara berpikirnya itu aneh.

Anehnya gimana? Anehnya begini. Setahu saya, ada prinsip dasar bagi seseorang yang berpendidikan bahwa informasi apapun yang sampai kepadanya harus disaring. Itu anak kecil pun tahu kan? Bahwa jika ada orang memberikan permen kepada mereka (anak kecil), mereka harus melihat dulu bener nggak itu permen. Begitu kan? Atau suka tidak kita mengajari anak kita dengan kalimat begini, “Kalau mau nyeberang lihat kanan-kiri dulu ya!” Nah, itulah yang dinamakan dengan menyaring informasi atau tabayyun. Jika anak kecil saja memakai metode penyaringan informasi atau tabayyun dalam kesehariannya, sudah tentu orang dewasa apalagi yang berpendidikan lebih bisa melakukannya kan? -lihat naskah lanjutannya>