Ibu Pertiwi dan Etos Anak Yatim


Walaupun dari agama Hindu, konsep Ibu Pertiwi bukanlah masalahnya. Yang menjadi masalahnya adalah effek memuja dunia dan manja yang berlebihan yang dipeluk oleh anak-abak Ibu Pertiwi ini.
Walaupun dari agama Hindu, konsep Ibu Pertiwi bukanlah masalahnya. Yang menjadi masalahnya adalah effek memuja dunia dan manja yang berlebihan yang dipeluk oleh anak-abak Ibu Pertiwi ini.

Sejak zaman prasejarah, suku-suku di kepulauan Indonesia seringkali menyebut bumi dan alam sebagai ibu yang memberikan kehidupan, Dewi Alam. Setelah pengadopsian agama Hindu pada awal-awal millenium pertama, figur ibu Dewi ini diidentifikasikan sebagai Prith, Dewi Bumi dalam agama Hindu, yang lalu menjadi Pertiwi.

Pṛthvī atau “Mother Earth” kontras dengan dengan Dyaus atau “Ayah Dyaus” atau ayah langit. Dalam Rgveda, Bumi dan langit secara bersama2 disebut sebagai Dyavaprthivi. Ia dikaitkan dengan Prithu, yaitu perwujudan Wisnu, yang memerah susunya dalam bentuk sapi untuk Pertiwi.

Artinya, jika kita menyebut negara ini sebagai Ibu Pertiwi, berarti kita ini adalah anak-anaknya. Maka bangsa Indonesia selalu mengistilahkan diri mereka sebagai anak-anak bangsa. Itu karena mereka percaya bahwa bumi Indonesia ini adalah ibu mereka. Ibu tanpa seorang suami, yaitu Prithu.

Sadar atau tidak, kita selalu memosisikan diri kita sebagai anak-anak yatim yang tak berayah. Anak-anak yatim yang mempunyai 2 pilihan: bekerja lebih keras daripada orang-orang biasa agar bisa hidup layak bahkan menjadi ilmuwan dan disegani, atau senantiasa memasang muka memelas agar dikasihani; atau minta selalu dimengerti dengan dengan segala macam kelemahan dan kekurangan.

Dalam perspektif ini, janganlah heran jika sebagian orang Indonesia suka melanggar peraturan, karena anak-anak yatim memang rata-rata begitu, biasanya akibat perlakuan memanjakan dari masyarakat dan orang-orang terdekatnya. Bahwa melanggar peraturan itu, bagi sebagian masyarakat kita, adalah hal yang imut-imut dan lucu, sedikit terlihat heroik, dan menggemaskan. Padahal, alih-alih menggemaskan dan heroik, ini justru memuakkan bagi orang-orang yang sadar. Malahan, anak-anak yatim ini )maksudnya sebagian bangsa Indonesia) sering mengatakan bahwa peraturan itu dibuat untuk dilanggar. Mungkin mereka mengatakan ini karena setiap peraturan pasti ada pelanggaran. Jika benar itu sebabnya, maka, mereka seperti mengatakan bahwa anak itu ada untuk diterlarkan, istri ada untuk diceraikan, wanita ada untuk diperkosa, dan seterusnya. Kenapa? Karena faktanya, ada banyak orang yang menelantarkan anaknya; ada banyak pernikahan yang berakhir dengan perceraian; dan ada banyak wanita yang diperkosa oleh para penjahat. Oleh karena itu, mengatakan peraturan ada untuk dilanggar adalah paradigma kacau dari anak-anak yatim (maksudnya bangsa Indonesia) yang salah didik dan salah urus.

Akhirnya, terserah kita, mau jadi yatim yang luar biasa seperi Nabi Muhammad SAW., atau menjadi yatim yang rata-rata. Terimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s