Bangsa Bergurau dan Bangsa Berguru


Pengetahuan membuatmu pintar. Ilmu membuatmu ahli. Gurauan membuatmu senang. Gurauan berlebihan membuatmu seperti orang tak punya haluan.
Pengetahuan membuatmu pintar. Ilmu membuatmu ahli. Gurauan membuatmu senang. Gurauan berlebihan membuatmu seperti orang tak punya haluan.

Bergurau dalam KBBI adalah percakapan untuk bermain-main saja, kelakar, lelucon seperti olok-olok untuk tertawa-tawa. Sedangkan berguru bermakna belajar.

Bergurau bagi kesehatan konon ada gunanya. Berbagai buku psikologi atau kesehatan mental menjelaskannya bahwa bercanda itu dapat merilekskan tubuh, mengurangi rasa sakit, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dan mengurangi rasa takut. Bahwa dengan gurauan kehidupan yang ketat menjadi longgar. Kemampetan otak akibat efek negatif modernisme juga menjadi lega karena rasa humor. Bahkan ada seseorang yang sedang dioperasi otaknya, memainkan gitarnya untuk mengurangi rasa sakit dan ketakutannya. Inilah yang dinamakan sense of humor, menganggap masalah-masalah sebagai guru kehidupan yang niscaya.

Berguru itu menambah ilmu. Untuk mendapatkan ilmu seseorang harus mengetahui jawaban dari pertanyaan kenapa dan bagaimana. Pengetahuan manusia mengatakan bahwa jika badan kita dibenturkan ke tembok maka akibatnya akan sakit. Lalu, seseorang yang mau berguru harus bertanya, “Kenapa seseorang yang dibenturkan ke tembok sakit? Apakah semua orang yang dibenturkan ke tembok itu pasti sakit? Adakah orang yang tak sakit jika dibenturkan ke tembok? Bagaimana cara agar tidak sakit dibenturkan ke tembok?” Maka berguru adalah menemukan jawaban-jawaban atas pertanyaan kenapa dan bagaimana ini. Sedangkan pengetahuan hanya menjawab pertanyaan apa, kapan, dan dimana.

Berguru berbeda dengan membaca. Membaca hanya akan mendapatkan pengetahuan. Pengetahuan saja tidak cukup untuk membuat perubahan. Karena pengetahuan hanyalah hal-hal di permukaan. Anda mengetahui masalah alasan pelemahan Rupiah atas Dollar. Anda mengetahui bahwa ini semua akibat Quantitive Easing yang diterapkan oleh Amerika. Akibatnya Anda mampu berkata-kata seperti pakar kepada setiap orang mengenai quasi makro ekonomi. Tapi sebetulnya Anda hanya berada pada level “tahu” saja, tak lebih dari itu. Karena jika Anda ditanya lebih lanjut tentang solusi atas pelemahan rupiah ini, Anda pasti hanya akan berteori lagi. Tidak tahu bagaimana harus berbuat dalam level aksi.

Pengetahuan itu milik orang awam, sedangkan ilmu adalah milik para pakar. Anda mengetahui bahwa mobil baru bisa dijalankan dengan BBM, itu pengetahuan awam. Sedangkan ilmu lebih dalam dari itu, karena ilmu itu didapat dari serangkaian penelitian dan eksperimen. Maka ditemukanlah shale gas. Tentu saja shale gas sekarang telah menjadi pengetahuan awam. Karena pengertiannya pun awam yaitu gas alam yang terdapat di dalam batuan shale, yaitu sejenis batu lunak (serpih) yang kaya akan minyak ataupun gas. Tetapi, untuk menemukan shale gas ini, harus melalui serangkaian uji-coba sejak diekstraksi di Fredonia tahun 1821. Kemudian mulai diujicoba pada industri tahun 1970-an. Kemudian ujicoba selanjutnya di tahun 1980, gas ini masih mahal dan boros. Baru pada tahun 1988, saat Mitchell Energy menemukan teknologi slick-water fracturing yang ekonomis. Diperkirakan di Amerika Utara terdapat sekitar 1.000 triliun kaki kubik shale gas yang cukup untuk memasok gas alam untuk USA selama 50 tahun atau lebih. Analisa terakhir juga menunjukkan bahwa shale gas bisa menyediakan hingga setengah pasokan gas USA pada tahun 2020.

Maka, menjejali anak-anak dengan bacaan-bacaan saja bukanlah cara yang baik membangun sebuah bangsa. Mungkin saja anak-anak ini akan tumbuh menjadi orang-orang yang piawai menulis. Kemungkinan besar anak-anak yang dijejali dengan tumpukan teori dan pengetahuan akan membawa mereka menjadi orang-orang yang pandai berargumen dan berdiplomasi. Tetapi sejarah membuktikan bahwa sebuah bangsa yang hanya pandai beretorika akan melahirkan banyak ahli pidato, politisi kritis, penulis-penulis, dan ahli bergurau atau pelawak-pelawak. Sedangkan bangsa yang mengajari rakyatnya untuk melakukan penelitian dan eksperimen-eksperimen akan melahirkan para ahli di bidang-bidang yang berguna bagi pembangunan bangsa.

Tentu saja membaca itu penting. Bahkan sangat penting. Karena membaca adalah pintu ilmu. Dengan membaca orang mengerti teori-teori, sejarah, dan hal-hal penting lainnya. Membaca bagi ilmuwan sosial itu adalah senjata mematikan. Meskipun mereka pun tak bisa hanya mengandalkan bacaan-bacaan jadi. Para ilmuwan sosial juga harus melakukan penelitian-penelitian yang berkualitas agar mendapatkan teori-teori baru yang berguna bagi kehidupan sosial bangsa. Karena bagaimana pun tak mudah menemukan teori-teori sosial yang menjadi teori baku dan diakui. Rata-rata hanya menjadi teori lokal yang sangat temporer.

Barangkali inilah sebabnya kenapa Indonesia sampai sekarang masih berkutat dengan retorika akan memproduksi biofuel, hydrofuel, bioenergy, bahkan hanya sekedar mobil dan motor. Karena bangsa ini telah lama dijejali dengan bayangan retoris: bahwa menjadi orang hebat itu harus pandai bicara seperti pakar-pakar di televisi dan pandai menulis. Bayangan retoris ini telah meracuni bangsa ini menjadi bangsa yang paling hebat dalam hal berbicara tapi memble dalam aksi nyata. Surabaya yang adalah kota terbersih di Indonesia masih jauh dibandingkan dengan Seoul dan Tokyo. Kebersihan dan keasrihan kota-kota tidak ada hubungannya dengan modernitas. Ini adalah aksi nyata. Ini adalah ilmu. Mereka tahu betul cara mewujudkan kebersihan. Sementara kita baru mengetahui bahwa kebersihan itu adalah sebagian daripada iman. Bahkan di Tokyo, bahkan saluran air–yang di Indonesia adalah sesuatu yang sangat menjijikkan–pun sangat jernih dan bersih. Saking bersihnya, dalam saluran air itu dipelihara ikan koi yang begitu cantik dan menggemaskan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s