Warga Negara Kelas Nol


Anak-anak adalah warga negara yang paling rentan menjadi korban kekerasan orang-orang dewasa.
Anak-anak adalah warga negara yang paling rentan menjadi korban kekerasan orang-orang dewasa.

WARGA NEGARA TERKECIL adalah anak-anak, baik dari segi umur maupun dari segi hak. Anak-anak tak mempunyai hak politik, sosial, maupun budaya. Bahkan hak memperoleh informasi paling sederhana pun anak-anak sangat lemah. Celakanya, di tangan anak-anaklah nasib bangsa ini ditentukan. Jika baik bangsa ini merawat dan mendidik mereka, akan baiklah masa depan bangsa ini.

Inilah fakta menyakitkan yang terjadi di negeri kita ini. Katakanlah DPR telah berjasa dalam menelurkan Undang-Undang Nomer 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Dalam bab III dari pasal 4 sampai pasal 19 undang-undang ini merinci hak-hak anak seperti hak untuk hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar serta mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi (Pasal 4).

Jika membaca pasal ini, setan pun akan ngeri menggoda warga negara ini. Ngeri karena jangankan mau menggoda, masuk ke wilayah anak-anak saja sudah tak ada ruang. Faktanya, setan-setan itu sekarang sedang tertawa kegelian, karena satu-satu secara terperinci pasal ini dilanggar semua oleh bangsa ini melebihi kata-kata dalam pasal itu sendiri.

Jika Anda orang Jakarta, setiap hari Anda pasti akan melihat anak-anak dipaksa mengemis oleh entah siapanya. Anak-anak dipaksa melakukan hal-hal yang memutilasi perasaan kemanusiaan Anda: anak-anak dari dipaksa berpanas-panasan dan mengumpankan diri mereka kepada ganasnya polusi BBM, sampai disuntik zat tertentu agar tertidur sepanjang kegiatan mengemis daripada menikmati kasih-sayang orang-tuanya. Ironinya, aksi pemaksaan anak untuk jadi pengemis ini mungkin saja terjadi di dekat rumah anggota bahkan ketua KPAI.

Negara seperti patung harimau ganas; biar pun terlihat ganas tetap saja ini cuma patung: tak bisa berbuat apa-apa. Anjing, kucing, bahkan tikus tidak takut kepadanya. Negara seperti ular ompong tak punya bisa. Tak lagi menakutkan, tapi masih tersisa bau anyir dan menjijikkannya.

Orang-orang tak takut kalau melihat ular ini, hanya saja ular ini harus dibunuh karena menjijikkan. Negara diam saja melihat fakta-fakta terang-benderang ini: seperti orang-tua gila yang membiarkan anaknya diperkosa banyak orang. Atau malah seperti psikopat yang mencari cara agar anak-anaknya diperkosa.

Negara ini hendaknya melakukan sesuatu, daripada hanya mengurusi hak-hak anak seperti Superman karena sudah terekspos media. Sudah lelah bangsa ini dibuat bingung oleh aparat-aparat negaranya sendiri: satu sisi ada UU Perlindungan Anak, di banyak sisi anak-anak ditempatkan sebagai warga negara kelas nol, tak punya hak apa pun kecuali dari orang-tuanya yang mampu, tak punya siapa pun kecuali orang-tuanya yang mampu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s