Syndrom Buah Pala: Primitivisme Indonesia Modern


Walaupun otak dan kelakuan kami seperti monyet, tapi kami keren kan?
Walaupun otak dan kelakuan kami seperti monyet, tapi kami keren kan?

NGOMONGIN Indonesia, kompleksitasnya sungguh long and winding road, kata Paul McCartney. Saya curiga John Naisbitt yang menggagas Global Paradox itu terinspirasi dari kompleksitas Indonesia ini. Karena bangsa ini adalah ‘surga yang dirindukan’ semua bangsa di dunia.

Di eranya Nathaniel Courthope 1616, Indonesia itu seperti sebuah trend besar para saudagar bahkan ratu dan raja dunia. Hanya rempah-rempah seperti pala, cengkih, dan lada, menghanyutkan seluruh dunia menghayalkan Indonesia. Mereka menyebut buah-buahan itu sebagai Mysticia Fragrans. Buah yang penuh daya tarik magis dan mistis.

Orang-orang London kebingungan tentang asal-muasal buah-buahan eksotis itu. Pedagang Venesia hanya terhubung dengan Konstantinopel untuk mendapatkannya. Selanjutnya blank. Yang mereka ketahui hanyalah sebuah negara di ujung dunia yang berkali-kali lebih eksotis dan berharga daripada legenda emas Eldorado. Maka lahirlah apa yang disebut sebagai Company and Fellowship of Mercant Adventurers for the Discovery of Unknown Lands, perusahaan yang didirikan hanya untuk mencari daerah-daerah yang tak dikenal, yang dibayangkan akan sama seperti Indonesia semua.

Walhasil, tahun 1529 Capten Garcia berhasil mencapai kepulauan Banda. Eropa gempar dengan keberhasilan ini. Capten Garcia terpanah melihat pulau Rhun penuh dengan buah mistik pala. Garcia menggenggam lada. Gemetar tangannya, karena hanya dengan 5 kg lada saja, dia akan mendapatkan uang senilai £2.10. Dia bisa hidup mewah setahun penuh dengan istana mewah dan para pembantu yang cantik-cantik, hanya dengan 5 kg lada itu. Ini satu kapal penuh. What the hell.

Bahkan, orang-orang yang gagal mencapai Indonesia dilahirkan kembali menjadi para pujangga kenamaan di zamannya. David Middleton menjadi penulis Kanibal dari Seram. William Keeling menulis Shakespeare di Rawa Mangrove. Williams Hawkins menulis Indian Great Moghul. Sir Henry Middleton menulis Cerita tentang negeri Arab, dan James Lancester, dengan cerita tentang Aceh.

Di Eropa pada zaman itu, rempah-rempah seperti pala, lada, cengkih, dan jinten adalah kemewahan dan lifestyle. Engkau baru disebut ngetrend jika punya buah-buahan itu. Hingga Andrew Borde menulis buku berjudul Dyetary of Health yang membahas tentang pala. Charles Sackville Pangeran keenam dari Dorset yang ketagihan buah pala adalah gambaran nyata menagenai ‘trend’ rempah-rempah Indonesia pada saat itu.

Pala, kayu manis, lada, jinten, saffron adalah gaya hidup yang menggambarkan level sosial kala itu. Dibahas bertubi-tubi. Statu-status media sosial (jika ada) selalu mengenai pala dan kawan-kawannya. Menjadi trending topic betul-betul. Bayangkan Geoffrey Chaucer dalam Canterbury Tales menggambarkan kemewahan pala. Shakespeare dalam The Winter’s Tale menghayalkan kemewahan bunga pala.

Dunia bersaing memperebutkan Indonesia. Di sana ada surga. Legenda Eldorado yang hebat segera lenyap dengan kemewahan pala dan rempah-rempah. Harta peninggalan karun pun hanya tetesan embun di Indonesia. Di masa kini, eksotisme dunia yang bernama pala dan segala rempah-rempah masih ada. Tapi hanya berlabel masih ada. Surga dunia itu sudah lama hanya berlabel available.

Come on bro, zaman telah sangat maju, bukan lagi zaman penjajahan, para penjajah tak lagi hanya mencari pala, lada, dan cengkih. Mereka tahu Indonesia ini percikan surga. Tanaman-tanaman yang tak tumbuh di mana pun, akan tumbuh di sini. Daun tembakau pembungkus cerutu terbaik tak tumbuh di tempat lain keculai di Sumatera Utara. Para penjajah tau bahwa kandungan emas di Indonesia masih sangat melimpah. Mereka tahu betul bahwa di Aceh ada gas alam yang kandungannya mengalahkan kandungan minyak di Arab Saudi.

Apakah engkau berpikir mereka sudah tak lagi rakus memperebutkan Indonesia? Come on, don’t be so stupid. Dunia masih berebut seperti kala itu Columbus 1492 meyakinkan raja dan ratu Spanyol bahwa ia telah menemukan Indonesia. Meskipun ia sebenarnya menemukan Amerika. Seperti kala itu John Cabot meyakinkan semua cara tercepat menuju pulau rempah adalah menuju ke barat melintasi arabia. Orang arab tak memberikan informasi apa-apa kecuali isyarat-isyarat kecil. 1497 Cabot kesasar di Tiongkok. Seperti juga Ferdinand Magellan mengajukan proposal kepada Raja Charles V dari Spanyol, meyakinkannya bahwa dia dapat mencapai pulau rempah lewat jalan barat. Seperti sejarawan Antonio Pigafetta melahirkan Purchas His Pilgrimate dan bertemu manusia raksasa Patagonia yang memasukkan anak panah ke tenggorokan sampai ke ulu hati, dan memuntahkan cairan hijau. Seperti kapten Sebastian del Cano bersama Pigafetta yang dianugerahi pahlawan karena telah menemukan Indonesia dan membawa rempah-rempah ke negaranya.

Serba Kuno
Jadi, dari sejak ditemukannya Pulau Rhun di Banda Neira tahun 1511, Indonesia itu sudah berdagang rempah-rempah. Raja Ternate dan Tidore juga sudah melakukan deal bisnis dengan orang-orang Eropa. Bisnisnya pengadaan rempah-rempah.

Setelah beratus tahun kemudian di zaman ultramodern ini, Indonesia juga masih melakukan deal bisinis internasional. Bisnisnya apa? Masih pengadaan. Bedanya, jika dulu rempah-rempah saja, sekarang sudah melebar ke hasil bumi dan tambang seperti emas, tembaga, nickel, dan seterusnya. Tapi caranya sama, pengadaan. Paling banter memproduksi barang setengah jadi. Ini bukan lagi dilakukan oleh orang-orang tak berpendidikan, tetapi oleh para sarjana yang berlabel professional. Lahirlah PT. Krakatau Steel, Tbk., PT. Pertamanina, Tbk., PT. Bukit Asam, Tbk., PT. Perkebunan Nusantara (persero). Dan seterusnya.

Para professional ini sehari-hari berpakaian rapih seperti orang-orang Amerika dan Eropa itu. Rapih sekali. Malah mungkin lebih rapih. Naiknya mobil-mobil mewah produksi Eropa. Gajinya juga mewah. Tunjangan dan penghasilannya sangat-sangat mewah. Lah wong mereka professional. Tapi apa lacur, cara mereka berbisnis 11-12 dengan orang-orang yang hidup beratus-ratus tahun yang lalu: menjual bahan mentah atau setengah jadi.

Indonesia ini negara dengan sumber daya alam masih melimpah, tapi Income Percapita loyo. Jepang, Korea, dan Swiss adalah negara-negara yang sumberdayanya super kere, tapi menjadi negara maju. Lah apa nggak kebolak-balik ini?

Coba lihat Swiss. Negeri ini mengambil coklat dari Indonesia. Tapi coklat yang terkenal adalah coklat Swiss. Kenapa? Karena negeri ini memiliki industri coklat. Harga biji kakao yang sudah difermentasi paling banter Rp. 3000. Swiss dengan kepintarannya mengolah coklat menjualnya per batang suka-suka hati mereka. Malah ada cokelat Swiss seharga Rp. 1 juta.

Indonesia menghasilkan biji coklat mentah. Swiss yang kaya-raya. Indonesia yang menghasilkan emas, Amerika yang kaya-raya. Hanya kedelai yang tidak dijual mentah oleh Indonesia, mereka mengolahnya menjadi tempe dan tahu.

Indonesia yang mempunyai world heritage seperti candi Borobudur, Bali, Prambanan, Sangiran, Pulau Komodo, Lorentz, Ujung Kulon, Tropical Reinforest Heritage, Belitung National park, Bunaken, Raja Ampat, Taka Bonerate, Wakatobi, Pulau Derawan, Tana Toraja, Bawomataluo, Muara Takus, Trowulan, Maros Pangkep, Sawah Lunto, dan masih puluhan lagi, tapi Malaysia dan Singapura yang kebanjiran wisatawan.

Di Malaysia dan Singapura tak ada itu situs seeksotis air Terjun Sedudo setinggi 105 meter, air terjun Grojogan Sewu setinggi 81 meter, air terjun Curug Cimahi setinggi 85 meter, air terjun Curug Cipendok setinggi 92 meter, air Terjun Curup Tenang setinggi 99 meter, air terjun Moramo setinggi 100 meter, air terjun Curug Citambur setinggi 100 meter, air terjun Jarakan setinggi 115 meter, air terjun Sipiso piso setinggi 120 meter, air terjun Payakumbuh di Ngarai Harau setinggi 150 meter. Di Malaysia dan Singapura hanya ada modernisme. Moderenisme ini membuat semua orang menjadi tenang dan nyaman. Terlayani dengan baik dan dihormati.

Kita ini negara yang bangga dengan kekunoan. Jalanan masih kuno. Infrastruktur pendukung juga masih kuno. Bandara-bandara kuno. Pesawatnya kuno. IT-nya kuno. Sistem kelistrikan, lalu-lintas, drainase, air minum, pengadaan air, dan seterusnya kuno. Bahkan cara berpikirnya pun kuno, seperti berada pada peradaban yang kuno. Baik wisatawan maupun pengusaha akan berpikir seribu kali menggunakan fasilitas-fasilitas kuno ini. Karena kekunoan peradaban ini hanya ada di museum-museum dan zaman batu.

Nyaris semua teori rusak dengan primitivisme zaman batu ini. Tol yg berarti jalan bebas hambatan rusak parah sesampainya di Indonesia. Dia menjadi jalanan berbayar yang mampet. DPR yang teorinya adalah wakil rakyat menjadi kacau balau. DPR menjadi Dewan PRoyek. Kementerian yang secara teori dibuat untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat berubah menjadi Institusi yang angkuh pelayan penguasa partai dan pengusaha kaya. BUMN yang secara teori adalah perusahaan negara yg didirikan untuk kemakmuran rakyat yang dijalankan secara modern dan professional, malah menjadi sarang pengusaha dan dengan level bisnis yang tak jauh beda dengan perdagangan ala raja-raja zaman dulu. Akibatnya, Indonesia sendiri yang teorinya adalah negara kaya-raya berubah menjadi negara Dunia Ketiga, alias miskin.

Inilah yang kita sebut sebagai Sindrom Buah Pala. Buah pala yang dulu termasyhur seluruh dunia membuat pala kita pusing membedakan antara zaman dulu dan sekarang. Antara sejarah yang harus diambil hikmahnya dan masa sekarang yang harus disikapi dengan bijak dan cerdas. Pala kita pusing karena kita masih seperti hidup di zaman penjajahan: nyaris segala sesuatu tampak primitif dan masih jauh dari jangkauan modernisme kecuali gaya hidup dan dekadensinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s