Mimpi-Mimpi Palsu Sekolah Konvensional Vs. Blue Ocean Strategy


Mengekspolorasi kemampuan dan bakat anak itu lebih penting daripada memaksa mereka mempelajari semua hal. Karena setiap orang dilahirkan berbeda-beda.
Mengekspolorasi kemampuan dan bakat anak itu lebih penting daripada memaksa mereka mempelajari semua hal. Karena setiap orang dilahirkan berbeda-beda.

GARY Hamel dan CK Prahalad mendorong para manajer untuk fokus pada tinjauan bisnis dan cita-cita strategis ke depan, agar tidak terjebak pada persaingan taktis yg merugikan dalam pasar yg sudah ada. Gary dan Prahalad dengan demikian memandang bahwa agar dapat mendominasi ruang baru, manajer dan usahawan harus menciptakan pasar yg disebut “ruang putih”.

Cara menciptakan ruang putih ini dulu disebut inovasi. Bahkan pelakunya disebut the pioneer. Orang-orang lalu beramai-ramai menciptakan hal-hal baru guna menciptakan bisnis yang tak ada persaingannya; membuat pasar terkaget-kaget lalu berharap mereka saling berebut untuk mendapatkan produk tersebut. Maka menciptakan bohlam, telfon, handphone, facebook, google, adalah termasuk dalam ruang putih ini.

Lalu kemudian muncullah W. Chan Kim dan Renee Mauborgne memperkenalkan Blue Ocean dengan cara mempurifikasi Samudera Merah. Pada samudera merah, orang-orang mengandalkan kuantitas dan pemasaran taktis utk memperkuat margin yang tipis. Sedangkan Blue Ocean mengedapankan inovasi nilai–baik dgn inovasi nilai maupun dgn inovasi perpaduan–sehingga tak perlu berhadapan dengan persaingan secara langsung.

Tak seperti ruang putih, Blue Ocean tidak diciptakan dengan meninggalkan hal-hal lama lalu mencari tempat sepi dengan menjual dagangan baru. Blue Ocean juga tak tercipta dengan effort dan risiko seberat menciptakan ruang putih.

Oleh sebab itu, jika pasar nasi uduk sudah keruh dengan warna merah, maka nasi uduk ini disentuh nilai-nilainya dengan menjaga nilai-nilai yg lama dan menambahkan angle-angle baru yang akan membuat ceruknya lalu berubah. Tapi caranya adalah dengan membidik pelanggan-pelanggan yang sudah ada dan yang baru.

Inovasi nilai ini oleh Clayton Christensen disebut sebagai Disruptive Innovation, sebuah inovasi yang mengganggu eksistensi produk dan jasa lama yang mempunyai three toos: too complicated, too expensive dan too sophisticated.

Disruptive Innovation muncul dengan perubahan proposisi nilai konvensional pada sebuah produk dan jasa yang sudah ada dan secara dramatis menarik konsumen baru yg belum terlayani oleh produk yang sudah ada. Seringkali–jika sukses–innovasi inienciptakan kategori baru.

Kejenuhan Pasar Pendidikan
Waktu anak-anak Indonesia di zaman postmo ini sangat tersita untuk kepentingan akademik. Mereka harus melalui kegiatan sekolah yang cukup panjang, yaitu sekitar tiga sampai empat jam untuk anak prasekolah dan sekitar tujuh jam untuk anak usia sekolah. Jam-jam yang sudah sangat lama itu kemudian harus ditambah dengan beberapa jam lagi untuk mengikuti beragam les pelajaran.

Menurut US Department of Education, dalam durasi panjang, anak-anak akan mengalami stres jika belajar terus tanpa jeda bermain. Sebab, kegiatan belajar akademis, seperti itu membutuhkan tuntutan kognitif tingkat tinggi yang berlebihan.

Selain itu, anak juga berisiko terkena gangguan konsentrasi dalam belajar, kelelahan, serta masalah-masalah fisik, seperti sakit perut, sakit kepala, emosional dan aggresive.

Usia anak-anak yang sangat memmbutuhkan keterampilan sosial, kemampuan bekerja sama, kepemimpinan, maupun menjadi pengikut yang baik, pun terisi dengan hal-hal yang di luar kebutuhan mereka yang sesungguhnya.

Anak usia dua sampai enam tahun membutuhkan sekitar lima jam bermain, selebihnya, empat sampai lima jam adalah untuk belajar, baik di sekolah maupun di luar sekolah, dua jam untuk makan, dan 11 sampai 12 jam untuk istirahat atau tidur.

Inilah yang disebut oleh W. Chan Kim dan Renee Mauborgne sebagai Blue Ocean atau Samudera Biru. Sekolah konvensional telah menjadi keruh dengan warna merah. Karena keruh maka harus dipurfikasi agar menjadi biru lagi. Inovasi nilai tidak hanya dibutuhkan oleh pasar baru, juga oleh orang-orang tua yang mengerti bahwa anak-anaknya tengah mengalami really bad days even years di sekolah-sekolahnya sekarang.

Maka, Blue Ocean untuk segmen pendidikan sekarang sedang terbentang teramat sangat luas. Ceruk ini terbuka baik bagi mereka yang hendak mencari pundi-pundi dollar maupun yang hendak hanya berjuang demi terangnya visi pembangunan manusia Indonesia ke depan.

Sebuah kejelasan visi di belakang sebuah fakta bahwa Tiongkok sedang dalam sebuah effort membuat sequence berbagai inovasi seperti percepatan pertumbuhan padi hanya 1 bulan panen, program IQ tinggi untuk anak-anak, inovasi pertumbuhan sapi, babi, kambing, dan berbagai macam inovasi lainnya. Atau kita akan tertinggal lebih jauh lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s