Sabtu Malam, Karya, dan Harga Diri


Kesenangan itu buah dari perjuangan. Kesenangan yang berlebihan adalah buah dari kegalauan.
Kesenangan itu buah dari perjuangan. Kesenangan yang berlebihan adalah buah dari kegalauan.

Sabtu malam itu seperti tempat dudukmu di depan televisi. Kau tertawa dengan tangan kiri bersandar di sofa Chase Lounge, dan tangan kanan berkuasa atas pilihan-pilihan mewah White Truffle dari Piedmont, Chocopologie buatan Knipschildt, atau Macaroons Houte Couture, minumannya Henensy Cognag, di hadapan smart tv dengan SmartWorld App Store dan Skype. Suasanya ruanganmu lebih sejuk dengan Accent Lighting. Atau kau duduk di dingklik dalam ruangan yang temaram, nyamuk berseliweran di telingamu. TV-mu tak menampilkan apa-apa kecuali acara-acara lokal dengan aksen cembung dan gradasi warna tak beraturan akibat signal yang inlander. Di mejamu hanya ada koran zaman Majapahit: datang entah dari tukang sayur atau tukang nasi uduk. Tak ada pisang goreng atau keripik singkong. Gelas kopimu pun sudah membusuk.

Jika kau ada di jenis orang pertama, kau seperti hidup di dunia untuk selamanya. Hidup seperti mencintaimu. Alam semesta mendukungmu. Kau sangat menikmati hidup. Karirmu sukses. Usahamu lancar. Uang di saku dan tabunganmu cukup bahkan berlebihan. Doa-doamu seperti tak pernah tertolak. Kau sungguh bahagia.

Jika kau ada di jenis orang kedua, kau mungkin dalam keadaan gundah dan galau. Kau seperti diinjak-injak oleh kehidupan. Usahamu kacau. Karirmu berada di level sendal jepit. Doa-doamu seperti menerpa angin. Uang di saku tak ada. Uang di tabungan hanya cukup untuk beberapa hari hidup sederhana. Engkau mungkin sedang sangat sedih.

Kenapa harus Sabtu malam? Tak tau kenapa, setiap Sabtu malam, entah engkau pengangguran, pekerja keras, orang super sibuk, Menteri, bahkan Presiden, kau akan melihat seliweran orang di depan kursi tempatmu duduk, di depan rumah, di jalanan, bergegas menuju entah ke mana. Seperti memberi tema bersama: hari bersenang-senang.

Maka, jika kau orang yang sedang berbahagia, hari Sabtu malam itu adalah hari untukmu dan orang-orang yang kaucintai bersantai dan bersenang-senang. Entah dengan jalan-jalan ke mall, ke cafe, ke restaurant, ke luar negeri, atau ke tempat-tempat mewah. Hari itu adalah hari keluarga, dimana orang-orang sibuk membuatnya menjadi hari yang spesial.

Sementara orang yang kedua seperti sedang dipasak kaki dan tangannya. Di samping kanan dan kirinya istri dan anak-anaknya seperti meraung-raung memanjatkan doa-doa bagi keterbebasan mereka. Suasananya lebih menyeramkan daripada berada di tengah-tengah pemakaman pada tengah malam. Karena mata anak dan istri orang ini seperti menitikkan darah yang mengalir sampai keujung kaki. Kaki-kaki mereka pun ikut-ikutan berdarah karenanya. Mengerikan karena perut-perut keluarga ini seperti tak lagi mau menerima nasi dan lauk-lauk lokal. Yang mereka inginkan adalah mengikuti trend Sabtu malam Minggu di Mall dan tempat-tempat hang-out.

Maka, orang jenis pertama berada pada kebahagiaan mental. Sedangkan orang kedua berada pada kelelahan mental. Orang jenis pertama menjalani hidup dalam suka-cita dan keluarga yang saling mendukung. Sedangkan orang jenis kedua selalu tertekan. Istrinya selalu bersedih karena persediaan-persediaan yang selalu menipis. Anaknya tertekan karena menjalani kehidupan yang serba kekurangan. Orang pertama menghabiskan Sabtu malam dengan canda-tawa. Sedangkan orang kedua menghabiskan Sabtu malam dalam kesedihan.

Padahal, pada hari-hari kerja, kedua jenis orang ini tidak banyak bedanya. Bahkan, bisa dikatakan, orang jenis pertama jauh lebih mengalami kelelahan daripada orang jenis kedua. Orang jenis pertama selalu pulang larut malam, bahkan dini hari. Sedangkan orang jenis kedua rata-rata mempunyai jam kerja tak lebih dari 8 jam, dengan risiko kerja yang nyaris tidak ada. Secara mental, di hari-hari kerja, orang jenis pertama jauh lebih tertekan daripada orang jenis kedua. Orang jenis kedua jika salah memutuskan sesuatu dalam kapasitasnya sebagai pegawai atau pedagang kecil, maka risikonya juga kecil. Sedangkan orang jenis pertama, salah memutuskan sesuatu dalam usahanya, bisa saja akibatnya adalah penjara.

Orang jenis pertama selalu dihantui kebangkrutan. Jika dia bekerja sebagai kontraktor proyek-proyek negara, maka hantu KPK, polisi, dan penjara selalu menghantuinya. Jika dia pengusaha non proyek pemerintah, maka hantu bunga bank dan debt collector juga tak henti-hentinya menghantui. Hidupnya selalu dalam tekanan. Tak jarang terjadi seseorang yang kaya-raya hari ini, esok harinya menjadi orang miskin. Bahkan, jika kita telisik lebih jauh, orang-orang jenis pertama itu selalu dimanja dalam hal makanan, perawatan badan, pakaian, dan kebutuhan yang lainnya. Akibatnya, jika terjadi penurunan level ekonomi saja, mereka akan sulit menyesuaikan diri dengan alam.

Berbeda dengan orang jenis pertama, orang jenis kedua hanya akan tertekan pada saat Sabtu malam, lebaran, dan tentu saja saat sakit. Tiga keadaan ini seperti momok bagi mereka. Namun secara keseluruhan, kehidupan orang jenis kedua ini lebih jauh dari risiko-risiko ganas kebangkrutan, dikejar-kejar debt collector bank, atau terjerat KPK dan kepolisian. Mereka sudah biasa hidup sederhana, jadi kesederhanaan sebuah kemiskinan level baru bagi mereka adalah keseharian yang tak perlu dikagetkan. Bagi orang-orang jenis kedua, jika mereka mau berpikir logis, kehidupan ini—secara fisik—hanyalah urusan makan, minum, dan berpakaian. Itu saja. Selebihnya adalah urusan berkarya dan dihargai. Engkau berkarya, maka engkau akan berharga. Semakin hebat karyamu, makan akan semakin mahal hargamu. Karya dunia akan menaikkan hargamu di dunia. Karya spiritual akan menaikkan hargamu di hadapan-Nya. Jika kau ada di posisi orang jenis yang kedua dan tak punya karya–baik karya dunia atau karya spiritual, dunia akan bilang kepadamu, “Kasihan deh lu..”

Semoga Sabtu malam-mu bahagia, apapun keadaanmu saat ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s