Ramadhan Syndrome


Satu bambu yang gila saja bisa mempengaruhi begitu banyak orang. Bisa bayangkan jika separuh bangsa ini yang gila.
Satu bambu yang gila saja bisa mempengaruhi begitu banyak orang. Bisa bayangkan jika separuh bangsa ini yang gila.

Bulan Ramadhan adalah fenomena aneh. Bulan ini milik orang Islam, tapi yang menyambut bahagia adalah manusia seluruh dunia. Sadar atau tidak. Setidaknya itu kata Quantpedia dalam Ramadhan Effect-nya.

Umat Islam wajib berpuasa di bulan Ramadhan. Karena wajib, maka yang meninggalkannya bukan saja berdosa tapii secara sosial pasti malu. Sadar atau tidak.

Bagi orang-orang yang taat, berpuasa Ramadhan bukanlah beban. Dia lebih merupakan kerinduan yang terbalas. Bagi orang-orang yang Islamnya pura-pura, maka berpuasa adalah beban. Puasa bagi mereka adalah mau-tak-mau, daripada malu. Jadi, selama bulan Ramadhan, mereka merindukan datangnya hari Raya Idul Fitri. Menghitung hari-demi hari bulan Ramadhan jika semakin dekat dengan Idul Fitri.

Namun, jangan salah, orang-orang inilah yang akan sangat kehilangan bulan Ramadhan dan merindukan datangnya lagi saat Idul Fitri benar-benar sudah datang. Mereka merasa bahwa bulan Ramadhan itu luar biasa, maka mereka berkata, “Jika saja semua hari adalah bulan Ramadhan.”

Inilah yang kita sebut dengan Ramadhan Syndrome. Penyakit orang-orang yang tak fokus. Orang-orang yang tak ada dalam masa kini. Orang-orang itu ada di tempat-tempat lain saat berada di tempatnya saat ini. Mereka membayangkan telah melakukan selebrasi dan dielu-elukan saat berada di depan gawang lawan. Mereka membayangkan telah menjadi kaya-raya pada saat mendaftarkan diri menjadi calon anggota DPR.

Syndrome ini adalah penyakit akut. Jika suatu bangsa mengidapnya bangsa itu akan diterpa sebuah wabah kemalasan dan gampang euforia yang sangat mematikan. Bagaimana mungkin kau membayangkan telah menjadi juara dunia dalam bidang sepak bola padahal baru saja mengalahkan klub lemah Malaysia? Lalu euforia berlebihan ditunjukkan oleh para pemimpinnya dengan mengadakan selamatan dan doa bersama, seolah-olah klub bolanya telah menjadi selevel dengan Real Madrid. Bangsa itu akan diterpa penyakit penghayal yang sangat ganas. Rakyat-rakyatnya suka berhayal sebuah perubahan akan dapat terjadi dalam waktu 1 tahun, padahal negaranya telah dihempaskan kedasar jurang yang paling dalam oleh pemimpin-pemimpin sebelumnya. Lalu mereka mengolok-olok, menfitnah, mencaci pemimpinnya seperti mereka bersumpah serapah kepada nasib-nasib mereka selama ini.

Syndrom inilah yang membuat penghuni teluk Table Bay merasa telah menakut-nakuti James Lancester dan kawan-kawan saat mereka berhasil menukar 1 ekor banteng atau 2 ekor sapi dengan 1 pisau. Atau orang-orang raksasa dari Patagonia yang menakut-nakuti awak Edward Bonaventures dengan memasukkan busur panah ke perutnya dan mengeluarkan cairan empedu berwarna hijau. Mereka merasa telah menakut-nakuti bangsa Inggris itu, padahal mereka telah berbuat konyol.

Ciri-ciri bangsa yang mengidap Ramadhan Syndrome adalah pelanggar akut, pengkhayal akut, marketer terbaik untuk kata-kata kasar dan fitnah-fitnah, dan sudah jelas bodoh akut. Bangsa yang mengidap syndrome ini hobby-nya melanggar peraturan: jalan 1 arah dilawan, trotoar hak pejalan kaki dirampas, lampu merah dan batas-batas jalan diterjang, hak-hak rakyat dalam APBN dirampok, hak politik dicerabut, hak ekonomi dikebiri, proyek-proyek yang seharusnya untuk kemakmuran rakyat dialihkan menjadi untuk kemakmuran keluarganya, APBN dijadikan Anggaran Pribadi, pemimpinnya membodohi rakyat, rakyatnya mengangkangi kepemimpinan. Rakyatnya gemar mengolok-olok pemimpinnya, mengumpat, dan menfitnah.

Selagi syndrome ini masih menghinggapi kehidupan sebuah bangsa, maka pemimpinnya haruslah orang yang benar-benar dalam level kewarasan yang tinggi. Karena kewarasannya yang tinggi ini bisa jadi akan menulari orang-orang sekitarnya, dan seterusnya dan seterusnya. Jika tidak tinggi, saya yakin tak lama kemudian dia akan menjadi ikut-ikutan gila.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s