Pesan Cinta Dari Tragedi Hercules


Agama itu cinta, cinta itu agama. Beragama tapi brutal itu hanya orang jahat yang berlindung di balik nama besar "agama"
Agama itu cinta, cinta itu agama. Beragama tapi brutal itu hanya orang jahat yang berlindung di balik nama besar “agama”

TIDAK KALI INI saja pesawat Hercules jatuh. Beberapa kali pesawat ini pernah jatuh, yaitu 11 Mei 2009 dengan korban jiwa satu orang. Pada 5 Oktober 1991 jatuhnya pesawat Hercules menewaskan 135 orang. Jatuh pada 20 November 1985 menewaskan 10 orang.

Bahkan di luar negeri tercatat pernah jatuh di tanggal 17 Agustus 1988 di Pakistan. Dalam pesawat itu Presiden Pakistan Muhammad Zia-ul-Haq yang turut menjadi korban.

Ini bukanlah masalah jatuh dan memakan korban. Karena segala sesuatu pasti pernah mengalami kecelakaan, baik kecil maupun besar. Bahkan pesawat Air Force One yang dinaiki Barrack Obama pun pernah ngadat.

Meskipun secara teknis kecelakaan semacam ini ya memang harus diusut secara professional: kenapa kok pesawat TNI AU bisa dinaiki orang-orang sipil. Namun, sekali lagi ini bukan masalah jatuh lalu memakan korban. Ini adalah masalah cinta!

Setiap kali mendengar dan melihat kejadian semacam ini, hati kita seperti diiris-iris. Mata kita tak sanggup menahan air matanya untuk berurai. Terutama saat keluarga korban mencurahkan hancur-luluhnya hatinya kehilangan orang-orang yang dicintai. Kita yang tak mempunyai hubungan keluarga pun seperti ikut hancur-luluh dan remuk redam. Itulah yang dinamakan cinta.

Semua cinta itu menciptakan ikatan kuat. Tetangga yang mempunyai cinta, akan menciptakan ketentraman setidaknya dalam lingkungan sekitarnya. Ayah yang penuh cinta kasih akan menciptakan sebuah rumah tangga yang harmonis dan bahagia.

Demikian juga dengan bangsa: rakyat yang memiliki cinta akan menciptakan ketentraman dan kedamaian untuk bangsa dan negaranya. Jika sumbangsih besar tidak mampu diberikan, minimal individu-individunya mematuhi peraturan-peraturan yang dibuat untuk kebaikan mereka.

Hanya karena cinta manusia menitikkan air mata atas duka yang menimpa sesamanya. Jika diminta bantuan materi pun, orang-orang yang menitikkan air mata ini rata-rata rela melakukannya.

Lihatlah bagaimana koin untuk Pritta terselenggara sukses. Lihat juga bagaimana pengungsi Rohingnya mendapat tempatnya di hati rakyat Aceh dan Medan. Tak sedikit kasus anak berpenyakit ganas tak didiamkan oleh orang-orang yang berhati penuh cinta ini. Cinta seperti mestinya dipakai sebagai bahan dasar pembangunan negara ini.

Jika pemimpin kita melakukan tugas-tugas kerakyatannya dengan cinta, saya haqqul yakin tak akan ada dana-dana yang disunat, proyek-proyek yang dimarkup, hak-hak rakyat dalam APBN/APBD yang dikorup, hak-hak anak yang terbiarkan, dan seterusnya.

Masalahnya adalah cinta itu mungkin tidak tumbuh merata di kalangan pejabat dan aparat pemerintahan kita, entah karena sistem kampanye yang masih duit-minded, karena dendam sosial, atau karena budaya birokrasi kita.

Lalu di sudut lain bangsa ini, kita seperti nyaris memiliki tumpukan nilai-nilai baik kebangsaan, keagamaan, maupun kemanusiaan, yang segera menjadi tumpukan dongeng.

Kita mungkin telah kehilangan kebijaksanaan seperti yang muda menghormati yang tua; murid menghormati guru; tetangga membantu tetangganya; saling tegur-sapa jika bertemu di jalan; sopan santun kepada sesama manusia; dan seterusnya.

Semua kebijaksanaan ala Indonesia itu seperti tinggal kenangan, digantikan oleh budaya instant, budaya arogan, budaya emosional, dan budaya pamer ala sosial media dan politisi.

Sekali lagi ini bukan masalah Hercules, Garuda, atau merek pesawat yang jatuh dan memakan korban, ini adalah masalah cinta yang sedang dicuekin oleh sebagian bangsa kita. Ini adalah pesan cinta dari Hercules.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s