Mentalitas Schadenfreude


Saya numpang eksis dulu ya....
Saya numpang eksis ya….

SCHADENFREUDE itu artinya senang melihat orang terkena musibah. Istilah ini berasal dari kata schaden (musibah) and freude (kegirangan). Jadi maknanya ‘kita senang kalau melihat orang lain mendapat musibah’. Atau dalam bahasa Inggrisnya sering disebut morose delectation, atau dalam kata kerjanya adalah to gloat.

Dalam ajaran agama apapun, mentalitas seperti ini sangat dilarang. Islam menyebutnya sebagai hasud. Dosa hasud itu menghapus semua amalan baik kita: dari shalat, puasa, zakat, sedekah, haji, dan seterusnya, habis karena perilaku schadenfreude ini. Dalam ajaran gereja zaman dahulu, morose delectation termasuk dosa besar.

Di Indonesia, schadenfreude ini sedang marak-maraknya. Orang rela menempuh perjalanan jauh hanya untuk mendatangi lokasi bencana. Di lokasi itu, mereka berkerumun melakukan aktifitas layaknya wartawan.

Orang-orang ini seperti menari-nari kegirangan ketika diperdengarkan pengumuman ‘ada pesawat Hercules jatuh di Medan’. Seperti anak-anak zaman dahulu saat mendengar ada mobil bioskop membacakan film-film yang akan diputar hari ini lewat toa-nya.

Mereka lalu berhamburan menuju lokasi bencana; mengabadikan momen-momen yang dianggap penting, lalu tak lupa berselfie ria. Last but not least kegiatan bersenang-senang itu berlabuh di media-media sosial, membuktikan eksistensi mereka.

Sadar atau tidak, ini adalah perilaku mengganggu: mengganggu proses identifikasi, menganggu proses evakuasi, mengganggu keluarga yang sedang berduka, dan seterusnya. Anda bisa melihat betapa kerumunan ‘komunitas selfie’ ini mengganggu proses pemadaman kereta api yang terbakar beberapa waktu lalu di wilayah Bintaro.

Proses yang seharusnya cepat menjadi berlarut-larut, hanya gara-gara manusia-manusia ini. Bahkan pernah terjadi sebuah rumah yang terbakar mestinya dapat diselamatkan menjadi luluh lantak oleh api beserta anak-anak dan seluruh penguhi rumahnya.

Kenapa? Karena mobil pemadam kebakaran tidak dapat menjangkau lokasi kebakaran dihadang oleh barikade manusia-manusia tak berperasaan ini.

Jadilah seperti api yang nyalanya menerangi kegelapan. Seperti kata Sunan Kalijaga: Urip iku urup. Ketimbang mencari eksistensi murahan dengan menyakiti hati banyak orang, mendingan melakukan sesuatu yang bisa kita lakukan dengan kualitas super.

Tirulah Jokowi, seorang tukang kayu yang menjadi super dalam profesinya sebagai tukang kayu dengan segala detailnya: dari pengetahuan manajerial, marketing, diplomasi, dan kebijaksanaan, beliau eksis tanpa menyakiti orang lain. Tentu dengan segala kekurangannya.

Jokowi haters mungkin akan membantah dengan berbagai macam copas media online: bahwa Jokowi itu antek china, antek Amerika, antek Yahudi, antek PKI, dan seterusnya dan seterusnya.

Tapi sadar atau tidak, memandang sesuatu dari segi negatifnya itu penyakit yang sangat berbahaya bagi kesehatan fisik dan kesuksesan hidup. Inilah yang disebut dengan morose delectation, atau schadenfraude: alih-alih menaikkan eksistensi, malah akan membunuh pelakunya secara perlahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s