Meluruskan Logika Jonru dan Jamaahnya


Negara ini dipertahankan dengan darah, air mata, dan nyawa oleh pendahulu kita. Para pengacau di negara ini adalah manusia rendah yang tak berperasaan.
Negara ini dipertahankan dengan darah, air mata, dan nyawa oleh pendahulu kita. Para pengacau di negara ini adalah manusia rendah yang tak berperasaan.

LOGIKA Jonru yang disebarkan di media sosial itu berbunyi begini: Jika gereja dibakar oleh wahabi, ISIS, Islam radikal, maka itu dinamakan pelanggaran HAM. Tp jika masjid yang dibakar, maka anjurannya adalah: Jangan terprovokasi, cek dan recheck dahulu. Kurang lebih Jonru ingin berkata, “Mana letak keadilan?”

Logika ala Jonru ini dinamakan fallacy Ipsi Dixitism. Yaitu kesesatan berpikir karena memaksakan premisnya menjadi kebenaran yg disepakati. Padahal kenyataann ya sangat jauh dari kebenaran apalagi disepakati.

Jonru memaksakan sebuah ‘kebenaran’ bahwa pembakaran musholla di tolikara adalah ulah orang-orang Kristen. Jonru menolak investigasi. Dia maunya Islam langsung berhadap-hadapan dengan orang-orang Kristen.

Jonru dengan susah payah membuat logika selogis mungkin dengan membandingkan kisruh Tolikara dengan terror ISIS.

ISIS secara terang-terangan memenggal kepala-kepala orang-orang bahkan anak-anak yg menolak berbaiat. Mereka terang-terangan merusak makam-makam para Nabi. Mereka secara terang-terangan meracuni pikiran wanita-wanita non muslim yg galau utk dijadikan budak sexnya. Mereka terang-terangan menginvasi Suriah dan Irak.

Jadi tak ada satu orang pun yang menuduh ISIS itu terrorist. Seluruh dunia mengetahui bahwa ISIS itu terroris keji karena mereka sendiri yang menampakkan aktivitas terrorisme itu kepada dunia. Bahkan anak-anak kecil pun mengetahui aktivitas itu.

Mengenai wahabisme seperti Dr. Azhari, Nurdin M. Top, Osama bin Laden, juga tak ada yg menuduh mereka sebagai terrorist. Mereka sendirilah yang mengakuinya. Bahwa tindakan mereka adalah dalam rangka memberantas kekufuran dan thaghut. Bahwa aktivitas mereka menciptakan manusia-manusia bodoh menjadi bom penhantin adalah ditujukan untuk memurnikan tauhid dan seterusnya. Mereka sendirilah yang mengakuinya.

Kasus di Tolikara berbeda. Sejak awal beredar surat edaran bernada repressif dari organisasi yang bernama Gereja Injili Di Indonesia (GIDI). Ingat, dari satu organisasi bernama GIDI.

Benar atau tidak, menurut beberapa sumber, GIDI di Tolikara adalah organisasi keagamaan sejenis Front Pembela Islam (FPI). Mereka memaksakan keyakinan mereka kepada setiap orang bahkan kepada sesama Kristen sendiri.

Jika itu benar, maka inilah yang dinamakan sebagai ekstrimisme agama. Bahwa setiap agama mempunyai sempalan-sempalannya yang bersifat ekstrim. Tentu hal ini membawa kita kepada sebuah keniscayaan: bahwa yang harus diinvestigasi adalah GIDI.

Itu pun negara ini harus berbuat adil. Di luar GIDI ada FPI dan banyak organisasi keagaamaan atau kemasyarakatan yang telah berkali-kali melakukan keresahan. Jika mau adil, negara harus melakukan hal yang sama kepada organisasi-organisasi lain selain GIDI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s